Tiara

Tiara
Keresahan Dewi


Setelah keluar dari Butik Bagas dan Dewi melanjutkan perjalanan menuju Mall tempat mereka memesan cincin pernikahan.


Tidak memakan waktu lama karena memang hari libur jalanan sedikit lenggang. Tak sampai satu jam mereka sudah sampai di Toko perhiasan tersebut.


"Eh Bapak Bagas, mau jemput cincin pernikahannya Pak?" tanya Pegawai toko yang sudah mengenali wajah Bagas.


"Iya, tapi yang atas nama Bapak Herman Wijaya ya" jawab Bagas.


"Baik Pak. Tunggu sebentar" sambut pria itu.


Tak lama dia keluar dengan membawa kotak perhiasan. Bagas memeriksanya sebelum dibawa pulang. Setelah sesuai baru mereka keluar dari Toko Perhiasan tersebut.


"Wi kita makan dulu yuk, aku lapar" ajak Bagas.


"Oke Mas. Mau makan dimana?" tanya Dewi.


"Kamu pengen makan apa?" tanya Bagas.


"Mmm.. pizza ya. Aku kok pengen pizza ya" jawab Dewi.


"Kamu gak sedang ngidam kan Wi?" tanya Bagas curiga.


"Maaaas" Dewi mencubit pinggang Bagas.


"Aaaw... ampun Wi. Sakit.. sakit.." teriak Bagas.


"Habis Mas ngomong yang nggak - nggak deh" sambut Dewi sewot.


"Kamu lucu sih buat aku pengen godain kamu terus" balas Bagas.


Tiba - tiba Dewi ingat sesuatu.


"Maaas mumpung kita lagi di sini" ujar Dewi dengan mata yang berbinar.


"Iya kenapa?" tanya Bagas tak sabar.


"Nonton yuk, kata teman - temanku ada film baru. Aku pengen nonton juga" rengek Dewi.


"Kamu beneran gak ngidam kan Wi?" tanya Bagas.


"Mau di cubit lagi?" ancam Dewi


"Nggak.. nggak.. Oke ampuuuun ya" Bagas mengangkat kedua tangannya menyerah.


Dewi cemberut, kesal dengan candaan Bagas.


"Jadi mau yang mana dulu nih, mau makan apa nonton?" tanya Bagas membujuk kekasih hatinya.


"Makan dulu donk, udah laper banget. Setelah itu baru nonton" jawab Dewi.


"Ya sudah kita makan kalau begitu" sambut Bagas.


Mereka berjalan menuju Restoran Pizza Hu*. Bagas memilih meja yang di pojok agar mereka tidak terganggu dengan pengunjung lain.


Pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka. Setelah memesan semua makanan yang Dewi inginkan mereka kini tinggal berdua untuk menunggu makanan siap.


"Wi... aku masih teringat doa Tegar kemarin. Kamu setuju kan kalau Ibu hamil lagi?" tanya Bagas.


"Maaaaas kok tanya itu lagi sih? padahal aku sudah berusaha untuk melupakannya" protes Dewi.


"Lho kenapa? Kan seru Wi punya banyak saudara. Gak seperti aku selalu kesepian karena aku anak tunggal. Papa dan Mama juga begitu, mereka berharap punya banyak anak tapi apa mau di kata hanya aku anak mereka" ujar Bagas.


"Tapi kan lucu Mas, masak aku punya adek bayi lagi. Kak Ara aja anaknya lebih besar nanti dari anak Ibu. Terus kalau kita menikah terus punya anak masak anak kira seumuran dengan adikku" ungkap Dewi.


"Ehm.. jadi kamu mau kan kita langsung punya anak?" tanya Bagas.


Dewi terdiam karena dia kemakan ucapan sendiri. Baru juga tadi waktu di Butik dia protes gak mau cepat - cepat dapat momongan, ini kok udah keceplosan pengen punya anak.


Aduuuuh mati aku.. Aku harus bilang apa ini. Dewi meringis dalam hati.


"Bu.. bu.. kan begitu maksudku Mas" jawab Dewi terbata - bata.


"Maaaaaas.. udah ah, stop cerita tentang momongan dan anak dulu. Kalau tidak aku mau di undur aja deh pernikahan kita" ujar Dewi.


Bagas langsung sadar kalau mungkin Dewi belum siap dan dia berjanji tidak akan mengungkit soal anak lagi. Bagas akan bersabar menunggu Dewi benar - benar siap untuk menjadi seorang Ibu.


"Oke.. Oke.. aku janji tidak akan bicara tentang momongan lagi sampai kamu benar - benar siap sendiri" janji Bagas.


"Tapi Mas boleh bertanya?" tanya Bagas.


Dewi menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kamu takut untuk mempunyai momongan?" tanya Bagas.


Dewi menundukkan kepalanya.


"Aku takut seperti Kak Ara Mas. Kalau rahimku di angkat, Mas Bagas pasti akan menikah dengan wanita lain" jawab Dewi dengan wajah sendu.


Bagas kini mengerti ternyata Dewi di bayang - bayangi rasa takut dengan keadaan Tiara sekarang.


"Wiiii" panggil Bagas lembut.


Dewi mengangkat kepalanya dan menatap Bagas.


"Nasib setiap orang berbeda. Itu artinya nasib kamu tidak akan sama dengan Tiara. Tapi percayalah, apapun yang terjadi dengan kamu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Dari semua wanita yang pernah aku temui, aku memilih kamu untuk menjadi pendamping hidupku. Aku tidak butuh yang lain Wi, aku butuhnya kamu. Kamu komplit, bukan cuma fisik kamu doank. Aku butuh hati kamu yang selalu sabar menghadapi aku yang seperti ini. Kamu mau menerima semua kekuarangan aku begitu juga dengan aku, aku akan menerima semua kekurangan kamu" ungkap Bagas.


Bagas menggenggam tangan Dewi


"Jangan ragukan aku tentang apapun lagi ya Wi, karena aku sudah memutuskan kamulah hidupku jadi semua akan aku lakukanlah untuk membahagiakan kamu dan hidup bahagia dengan kamu" sambung Bagas.


Pelayanan datang membawa pesanan mereka dan menghidangkannya tepat dihadapan mereka.


"Sekarang kita makan ya, setelah itu baru kita pergi nonton seperti keinginan kamu" perintah Bagas.


Dewi mulai mengambil makanan dan meletakkannya di piring Bagas kemudian di piringnya dan mereka mulai menyantap makanan tersebut.


Setelah selesai makan Bagas membayar tagihan makanan mereka kemudian mereka berjalan keluar menuju bioskop.


"Waaah ada yang lagi pacaran sama anak ABG nih" sapa seorang wanita.


"Siska?" ucap Bagas.


Dewi langsung menatap wajah wanita yang bernama Siska tersebut.


Oh jadi ini yang namanya Siska, mantan pacarnya Mas Bintang. Cantik sih, tapi dari gayanya terlihat seperti cewek nakal dan penggoda. Batin Dewi.


"Kenapa Gas, terkejut gitu lihat aku" Siska melirik ke arah Dewi, dia melihat dari atas sampai bawah tubuh Dewi.


"Sejak kapan selera kamu berubah gini Gas? Gak nyangka ya kalian semua sudah berubah. Selera kamu juga gak jauh beda sama Bintang. Apa udah bosan sama cewek kota, sekarang jadi jalan sama cewek kampung" ejek Siska.


"Eh apa maksud kamu ngomong gitu? Kamu nuduh aku dan Kak Tiara cewek kampung. Enak saja, kamu tuh cewek penggoda murahan" bantu Dewi dengan nada emosi. Bagas sendiri sampai terkejut dan gak menyangka Dewi bisa menjadi wanita pemberani seperti ini.


"Kamu kenal sama istrinya Bintang?" tanya Siska terkejut.


"Ya kenal lah, Kak Ara itu kakak aku. Jadi jangan pernah kamu merendahkan atau mengejeknya" ancam Dewi.


"Hahaha.. berani juga ya anak ABG seperti kamu melawan" sambut Siska.


"Sis tolong hentikan. Aku gak mau ribut sama kamu di sini. Aku tidak punya keinginan mengganggu kamu jadi tolong kamu juga jangan ganggu kami. Ayo Wi kita pergi" Bagas dan Dewi pergi meninggalkan Siska.


"Itu Bagas kan Sis?" tanya seorang pria yang datang dari arah belakang Siska.


"Iya Bagas" jawab Siska.


"Aku sudah beberapa kali melihat dia jalan bersama anak ABG itu. Aku rasa anak itu pacar Bagas sekarang" ujar pria itu.


"Haha.. jadi semakin menarik. Kamu tau, anak itu adalah adiknya Tiara, istrinya Bintang" ungkap Siska.


"Oh ya?" pria itu tampak terkejut.


"Aku jadi ingin memberi penawaran pada kamu. Bagaimana kalau kita kerjasama. Kamu sudah lama kan ingin mengalahkan Bagas? Aku juga ingin kembali pada Bintang. Bagaimana kalau kita susun rencana?" tanya Siska memberi penawaran.


Pria itu tampak semangat, kesempatan seperti ini jarang terjadi.


"Boleh.. aku setuju dan bersedia untuk bekerja sama dengan kamu" jawab pria itu.


.


.


BERSAMBUNG