Tiara

Tiara
Pindah keluar kota


Tiara sudah sampai di Cafe lebih cepat dari waktu buka Cafe. Hal ini membuat Dian merasa aneh. Biasanya Tiara tidak pernah membuang waktunya untuk berpisah dengan putranya tapi kali ini Tiara tega meninggalkan putranya untuk datang ke Cafe lebih cepat dari biasanya.


"Tumben kamu datang cepat Ra?" tanya Dian ramah.


"Iya Mbak, aku sengaja. Pengen ngobrol sama Mbak Dian" jawab Tiara.


"Ngobrol samaku? Tentang apa?" tanya Dian penasaran.


"Tentang aku dan Tegar Mbak" Tiara duduk di sofa ruang kerja Dian dan mengambil posisi nyaman.


Setelah menarik nafas panjang, Tiara mulai melanjutkan perkataannya sebelumnya.


"Kemarin Tegar menangis sepulang sekolah" ucap Tiara.


Dian yang juga sudah dekat dengan Tegar dan sangat menyayangi anak laki-laki itu karena kecerdasan yang dimilikinya dan juga karena Tegar adalah anak Tiara pegawai terbaiknya dan juga anak dari sahabatnya Bintang.


"Tegar nangis? Kenapa Ra?" tanya Dian ingin tau.


"Dia bilang dia tidak mau sekolah lagi karena di sekolah teman - temannya mengatainya anak yang lahir tanpa Bapak" ungkap Tiara.


Dian terlebih sedang berfikir keras.


"Trus kamu jawab apa?" tanya Dian.


"Ya aku jawab Mbak kalau memang seperti itu lah kenyataannya. Hanya saja Bapaknya sudah meninggal sebelum Tegar lahir. Tapi Tegar bilang dia tidak mau sekolah lagi. Dia menangis dengan sesegukan Mbak. Dia sangat terluka, tak pernah dia sesedih itu Mbak" jawab Tiara.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan? " tanya Dian.


"Mbak, sudah saatnya aku memang harus pergi dari Kota ini. Dulu kalian bisa menahanku karena saat itu Tegar memang masih sangat kecil tapi saat ini dia sudah berumur empat tahun. Aku yakin kami bisa melalui hidup kami berdua dengan baik" ungkap Tiara.


"Kamu akan pergi kemana Ra?" tanya Dian.


"Aku ingin kembali ke Bandung Mbak. Aku lahir di Bandung dan dulu juga sempat tinggal di Bandung sama Ibu waktu aku kecil. Di sana kotanya lebih kecil dibandingkan Jakarta. Kalau tempat dan suasana baru aku rasa bisa mengubur kisah pahit Tegar tentang Papanya" jelas Tiara.


"Kamu tinggal dimana dan kerja apa?" tanya Dian lagi.


"Belum tau Mbak, rencananya aku nginap dulu beberapa hari di penginapan sederhana sambil mencari rumah kontrakan dan pekerjaan di sana" jawab Tiara.


"Kamu yakin Ra?" tanya Dian.


Tiara menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati Dian harus melepas kepergian Tiara karena sepertinya kali ini Tiara memang sudah sangat yakin untuk pergi menjauh dari Jakarta.


Dian menarik nafasnya panjang.


"Baiklah Ra kalau begitu izinkan aku membantu kamu untuk yang terakhir kalinya. Kemarin sahabat aku baru membuka cabang Cafe nya seperti Cafe ini. Ketepatan di Bandung beliau belum menemukan orang yang bisa di percaya untuk mengelola Cafenya. Kamu mau Ra membantu di sana? Kamu akan mendapat fasilitas rumah, gaji, perlindungan kesehatan kamu dan Tegar. Bagaimana? Sesekali mungkin kita tetap akan bertemu karena Cafe kita ini saling berhubungan" Dian memberi penawaran.


"Mmm... Mbak serius?" tanya Tiara tak percaya.


"Serius lah, ngapain juga Mbak main - main. Kamu kan kandidat yang paling pantas. Kamu tamatan Ekonomi, pengalaman kamu bekerja di Cafe juga sudah lama kan, sudah enam tahun. Aku dan sahabat aku sangat percaya pada kamu" ungkap Dian.


"Ma.. maaf Mbak, siapa sahabat Mbak itu?" tanya Tiara ragu - ragu.


"Hahahaha.. kamu takut Bintang ya nama sahabat aku itu? Sudah empat tahun Ra, kamu masih tidak mau bertemu atau menghubunginya. Kasihan Tegar dia butuh kasih sayang seorang Papa. Kalau kamu pindah ke Bandung dia akan kehilangan sosok Papanya. Di Jakarta kan ada Ridho tapi di Bandung tidak ada siapa - siapa" ucap Dian


Tiara tersenyum kecut, rasanya sulit bernafas setiap mendengar nama Bintang. Satu-satunya orang yang harus dia hindari saat ini. Semakin besar Tegar dia semakin takut kehilangan buah hatinya.


"Nama sahabat aku itu Roy Syah Putra" jawab Dian.


"Apa boleh aku berfikir selama seminggu ini Mbak? Sekalian aku mau diskusi dengan Tegar dulu terus aku juga mau pamit sama Tari dan Ridho" pinta Tiara.


"Boleh Ra, apapun mau kamu aku sangat mengerti. Kamu kan bukan tipe orang yang gegabah mengambil keputusan. Kamu pasti sudah betul-betul memikirkannya. Sama seperti saat kamu memutuskan untuk membesarkan Tegar sendiri kan?" tanya Dian.


"Iya Mbak, terimakasih ya Mbak. Aku pamit ke depan dulu. Bersih - bersih dan persiapan buka Cafe" ucap Tiara.


"Oke Ra. Aku tunggu jawaban kamu selama seminggu ini ya. Kalau sudah dapat jawabannya gak sampai seminggu juga gak apa - apa Ra, malah lebih bagus. Aku bisa langsung hubungi sahabatku. Agar dia mempersiapkan semua fasilitas yang dia janjikan untuk kamu" ungkap Dian.


"Iya Mbak, secepatnya aku usahakan ya" balas Tiara.


Tiara keluar dari ruang kerja Dian. Dian menatap kepergian Tiara dari ruangannya. Enam tahun bekerja dengan Tiara sudah membuat hubungan mereka sangat dekat. Apalagi setelah Tegar lahir, Dian semakin dekat dengan mereka.


Karena sebelum Tegar sekolah Tiara sering membawanya ke Cafe kalau Tari ketepatan sedang bekerja. Tegar di titipkan di ruang kerja Dian, dan sering Dian yang menjaganya.


Hal ini membuat Dian juga sangat menyayangi Tegar. Apalagi Tegar anak yang sangat pintar. Dian sangat suka berbincang dengan Tegar yang suka bertanya apapun yang dia ingin tau.


Dian sudah menganggap Tiara sebagai saudaranya sendiri dan Tegar adalah ponakannya. Tak jarang Dian memberikan hadiah untuk Tegar seperti buku cerita dan juga mainan. Tegar juga sangat manja kepada Dian. Membuat hubungan mereka semakin dekat.


Dian kembali teringat sahabatnya Bintang yang tak lain adalah sahabat dekatnya plus salah seorang pemilik Cafe ini.


Empat tahun sudah cukup waktu untuk kamu sembuh dari patah hati kamu Bin. Di sini ada wanita baik dan anak kamu yang membutuhkan kamu. Mereka harta paling berharga seandainya kamu bisa menyadari dan memilikinya.


Mungkin kini tiba saatnya untuk kalian bertemu dan bersatu. Empat tahun sudah aku membantu menjaga putra kamu dengan baik. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan seperti kamu.


Aku yakin saat kamu bertemu dengannya kamu pasti langsung menyukai dan menyayanginya. Dia sangat mirip kamu Bin. Batin Dian.


Dian bersiap & siap untuk merapikan ruang kerjanya dan keluar membantu para karyawannya untuk membuka Cafe yang dia bangun dengan bantuan dana dari Bintang.


Kesuksesan Cafenya ini membuat sahabatnya yang lain ingin membuka cabang di luar kota. Mereka menjalin kerjasama dengan Roy. Dengan konsep Cafe yang sama.


Kalau nanti Tiara yang pegang Cafe di Bandung, Dian sangat lega sekali. Karena Dian tidak perlu repot lagi mengajari pengelola Cafe di Bandung. Dian sangat yakin Tiara bisa menjalankan Cafe ini seperti di Jakarta.


Ini adalah jalan terbaik untuk semuanya. Dian tersenyum lembut membayangkan masa depan untuk semuanya.


.


.


BERSAMBUNG


Selamat Pagi readers....


Kita sambut awal minggu ini dengan ceria ya. Yang WFH tetap semangat ya selama PPKM ini. Semoga kita semua senantiasa di berikan kesehatan.


Jangan lewatkan novel aku ini ya...


Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya agar aku lebih semangat.


Kalian butuh hiburan, aku butuh dukungan. Mari kita saling mendukung.


Terimakasih 🥰🥰🥰