Tiara

Tiara
Pengganggu datang lagi


Keesokan harinya Pak Wijaya dan Bu Siti sibuk mempersiapkan acara pernikahan Dewi dan Bagas. Walau sederhana tapi mereka tetap mempersiapkannya semaksimal mungkin.


Bagaimanapun keinginan calon pengantin mereka akan menikah sekali seumur hidup pasti ingin pernikahan yang berkesan.


Pak Wijaya sudah menghubungi WO yang bisa mengurus semuanya hanya dalam beberapa hari. Dan Pak Wijaya juga memperketat penjagaannya di sekitar perkebunan tehnya.


Pernikahan Bagas dan Dewi ini bersifat tertutup dan hanya untuk keluarga dekat saja dan sahabat dekat keluarga.


Pagi ini Bagas dan Ali kembali mengawal Dewi sampai ke kampus. Mereka mengantar Dewi sampai ke depan kelas dan menunggunya tepat diluar kelas.


Hal ini tampak sangat mencolok sekali karena para mahasiswi tertarik dengan ketampanan Bagas yang dengan cueknya menunggu kekasih hatinya kuliah di kampus.


"Wi.. kamu kenapa sih di tungguin terus sama calon suami kamu?" tanya salah satu sahabat Dewi.


"Ssst... kalian jangan ribut - ribut ya. Ada orang yang mau mengancam pernikahan kami jadi Mas Bagas mempercepat pernikahan kami" jawab Dewi kepada teman - temannya.


Dewi percaya para sahabatnya bisa menjaga rahasianya. Karena dia sudah mengenal mereka semua sejak SMU. Saat Dewi pindah ke Bandung merekalah teman - teman Dewi yang pertama kali mau menerima Dewi sebagai teman mereka di sekolah.


"Siapa Wi?" tanya sahabatnya.


"Cowok yang kemarin maksa kamu makan bareng dia di kantin?" tanya wanita yang satu lagi.


"Ih walau pun ganteng tapi aku gak suka. Tatap matanya tajem banget, serem aku lihatnya" ujar wanita yang paling ujung.


"Jadi selama ujian sampai hari Jumat calon suami kamu akan terus ada di kampus temani kamu?" tanya salah satu dari mereka.


Dewi menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Wah bahaya Wi, kamu gak lihat cewek - cewek udah pada keganjenan lirik - lirik calon suami kamu" ujar mereka.


Dewi mengangkat kedua bahunya.


"Itu satu - satunya cara, dari pada pria serem itu datang aku gak tau harus bagaimana" balas Dewi.


Tak lama bel masuk berbunyi. Mereka akan mulai ujian. Pengawas ujian sudah datang membawa kertas ujian beserta lembar jawaban.


Sementara Bagas dan Ali menunggu di balkon kampus. Dari kejauhan terlihat seorang pria dengan berpakaian jas lengkap jalan dengan gagahnya. Dia seperti mencari sesuatu.


"Nah ini dia ruangannya" ujar pria itu.


"Ruangan siapa? Ngapain kamu di sini?" tanya Bagas emosi.


Pria yang ada didepannya tak lain adalah Morgan.


"Aku mau jemput calon istriku" jawab Morgan penuh percaya diri.


"Siapa calon istri kamu?" tanya Bagas.


"Dewi Astuti" jawab Morgan.


"Kamu ternyata gak jera ya. Aku sudah peringatkan kamu untuk tidak mengganggu calon istriku. Ingat dia hanya milikku, aku tidak akan berbagi dengan orang lain" tegas Bagas.


"Sebelum janur kuning melengkung aku tidak akan menyerah. Kalian belum nikah kan? Itu artinya Dewi masih bebas, siapa saja bisa mendapatkan dan menikahinya" ujar Morgan.


"Kamu tidak mencintai Dewi Gan, tapi kamu terobsesi untuk mengalahkan. Ini bukan permainan Gan. Ini tentang hidup, masa depan. Kalau kamu salah melangkah banyak yang akan menjadi koban. Fikirkan itu" ungkap Bagas.


"Justru karena ini aku serius mendekati Dewi. Dia adalah wanita masa depanku" jawab Morgan.


"Kamu gila, dia itu calon istriku" Bagas semakin emosi mendengar kata - kata Morgan.


"Mas sudah.. sudah.. ini kampus. Kalau kita terlalu ribut nanti kita di usir dari sini dan mungkin itulah tujuan pria ini agar Kak Dewi gak ada yang jagain dan dia bisa menculiknya" bisik Ali.


Tubuh Bagas menegang sesaat..


Sial.. hampir saja dia tersulut amarah, kalau Ali tidak mengingatkan pasti pukulannya sudah melayang ke wajah Morgan.


"Kalau aku tidak ingat kita sedang di dalam kampus, udah habis kamu.. " ancam Bagas.


Morgan tertawa mengejek.. hampir saja tujuannya berhasil untuk menyulut amarah Bagas dan Bagas akan diusir dari sini. Dengan begitu dia bisa kembali mendekati Dewi.


Sungguh dia sangat penasaran dengan wanita itu. Ingin sekali mengenalnya lebih jauh lagi dan bermain - main dengannya tapi sayang Bagas menghalangi rencananya. Cepat sekali Bagas datang ke Bandung dan terus menjaganya dengan ketat sehingga tidak ada celah untuk Morgan mendekati Dewi lagi.


"Aku dengan senang hati akan meladeni kamu Gas. Silahkan saja kamu coba" sambut Morgan.


"Aku tidak mau terjerat dalam perangkapmu. Terserah kamu mau bilang apa, yang penting aku dan Dewi sebentar lagi akan menikah dan kamu tidak akan bisa menghalanginya" balas Bagas.


"Kita lihat saja nanti. Sudahlah permainan sudah tidak asik lahi. Ada kamu yang selalu menjadi bodyguard Dewi. Tapi kita lihat sampai kapan kamu bisa terus menjaganya. Kita lihat, saat kamu lengah aku akan mendekati wanita itu dan merebutnya dari kamu" Morgan berbalik dan akan pergi meninggalkan Bagas.


"Aku akan tetap menjaga dan memperjuangkan Dewi sampai dia akhirnya sah menjadi istriku" jawab Bagas dengan menahan emosinya.


Morgan sudah melangkah pergi meninggalkan Bagas dan Ali. Akhirnya Bagas dapat bernafas lega. Kalau saja tadi Ali tidak mengingatkannya mungkin saat ini mereka sudah di usir dari area kampus.


Bagas dan Ali kembali menunggu dan berdiri di depan ruangan ujian Dewi. Tak lama kemudian bel tanda ujian selesai terdengar. Satu persatu mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruangannya.


Dewi dan teman - temannya kembali berkumpul sebelum keluar ruangan.


"Teman - teman hari sabtu kalian datang ke rumah Bapak ku ya di Lembang" ajak Dewi.


"Ngapain Wi?" tanya Salah satu teman Dewi.


"Aku mau mengadakan pesta perpisahan sama kalian. Karena itu adalah sebuah pesta jadi kalian pakai gaun pesta ya dan jangan lupa datangnya jam sembilan pagi karena acara akan dimulai jam sepuluh" ungkap Dewi.


Walau Dewi sangat mempercayai para sahabatnya tapi Dewi tetap menjaga rahasia percepatan pernikahannya. Untuk mencegah terjadinya hal - hal yang tidak diinginkan.


Lebih baik dia sedikit berbohong kepada teman - temannya. Dewi takut kalau sampai ada orang lain yang mendengar kabar pernikahannya dan akhirnya sampai ke telinga Morgan pasti akan lebih bahaya.


"Waaah ada party, asiiiik... seru nih" sambut salah satu teman Dewi.


"Rame gak Wi?" tanya wanita yang lain.


"Hanya kalian dan keluarga dekat aku saja. Karena setelah ujian aku akan berangkat ke Jakarta untuk mempersiapkan pesta pernikahaku" jawab Dewi.


"Jadi sedih kita akan berpisah.. setelah itu kamu pasti di sana terus, kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya yang satunya dengan wajah sedih.


"Ibu dan adik aku kan masih di Bandung tinggalnya. Aku pasti akan sering main ke sini. Nanti setiap aku datang ke Bandung aku akan kabari kalian dan kita bisa bertemu dan jalan bareng lagi" jawab Dewi.


"Benar ya Wi.., janji?" tanya teman Dewi. Mereka mulai mendekat dan akan memeluk Dewi.


"Janji" jawab Dewi dengan senyuman. Dan semua sahabat Dewi kini sedang memeluk Dewi untuk memberikan semangat perpisahan.


.


.


BERSAMBUNG