Tiara

Tiara
Puasa lagi


"Ih gemesnya lihat istriku, udah lima hari nih puasa. Ke kamar yuk.. aku mau berbuka dengan yang manis " goda Bintang.


"Maaf Mas tamu bulananku datang?" tolak Tiara.


"Siapa? Kamu punya tamu yang tiap bulan datang?" tanya Bintang tidak mengerti.


Tiara hanya bisa tersenyum.


"Aa.. apa.. maksud kamu, kamu lagi datang bulan?" Bintang memastikan.


Tiara tersenyum dan menganggukkan wajahnya.


"Ya Tuhaaaan... aku harus puasa lagi? panas yank... " ucap Bintang putus asa.


"Hahaha... kasiannya suamiku" goda Tiara.


Bintang jadi lemes dan tak bersemangat.


"Ih udah donk, masak gara - gara itu jadi gak semangat. Jadi datang ke sini cuma mau anu - anuan saja?" tanya Tiara.


Bintang kembali bersemangat.


"Ya nggaklah, Mas kan mau ketemu sama istri dan anak Mas, kangen... " ujar Bintang.


"Bentar aku buatin minum untuk Mas ya" balas Tiara.


Tiara langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh panas untuk Bintang dan beberapa potong cemilan yang sengaja dia buat tadi untuk menyambut kedatangan suaminya.


Bintang mengikuti Tiara ke dapur dan memeluk istrinya dari belakang.


"Jadi adiknya Tegar belum jadi donk" bisiknya di telinga Tiara.


"Yah mungkin memang belum rezeki Mas" jawab Tiara.


"Gak apa - apa, nanti kita usaha lagi lebih keras ya. Tapi heran ya Tegar dulu bisa langsung jadi dalam satu malam" ucap Bintang.


"Itulah kuasa Allah Mas, sering terjadi seperti itu. Hubungan yang terlarang pasti akan segera ketahuan. Mungkin Allah mencoba manusia untuk tidak terus - terusan terjerumus dalam dosa. Coba kalau kamu bayangkan melakukan hubungan itu trus tidak membuahkan hasil, pasti besok - besoknya akan terus dilakukan. Satu lagi itu mengajarkan kepada kita sepandai - pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan ketahuan juga. Perbuatan kita malam itu adalah dosa Mas yang mungkin kalau tidak jadi tidak akan ada yang tau tapi Allah menegur kita dengan cara yang berbeda" ungkap Tiara.


"Dan juga itu adalah jalan jodoh kita sayang" balas Bintang.


"Sudah ah.. jangan bicarakan tentang malam itu. Kan aku sudah bilang sama kamu, dosa masa lalu lebih baik kita simpan rapat. InsyaAllah Allah akan mengampuni dosa kita" ucap Tiara.


"Kalau suatu saat Tegar besar dan mengerti semua kemudian bertanya kepada kita, bagaimana yank?" tanya Bintang.


"Kita harus jelaskan bersama - sama ya Mas. Walaupun mungkin akan membuat dia kecewa tapi setidaknya akan kita jadikan pelajaran untuk anak kita saat dia besar kelak agar tidak terjerumus dengan pergaulan bebas. Walau dulu kita tidak sampai seperti itu karena aku di jebak saat itu tapi setan selalu ada di samping kita. Dengan bujuk rayunya semua kesadaran manusia akan hilang seketika" ungkap Tiara.


"Kamu memang istri yang paling bijak. Aku memang tidak salah sudah memilih kamu sayang" Bintang mencium pipi Tiara.


"Papa.. papa.. aku sudah selesai mandi. Nih cium, wangi gak?" tanya Tegar sambil mengangkat kedua tangannya ke atas untuk di cium Bintang.


Bintang melepaskan pelukannya dari Tiara kemudian menunduk mensejajarkan wajahnya di hadapan Tegar.


"Heeeem... anak papa wangi sekali" Bintang mencium ketiak anaknya setelah itu mulai menggelitiki Tegar.


"Hahaha... geli Pa, geli.... " teriak Tegar.


Tiara tertawa melihat dua pria yang sangat dia sayangi itu.


"Nih Mas minumannya dan ini cemilan yang tadi aku masak khusus buat kamu" ucap Tiara sambil memberikan secangkir teh panas dan sepiring makanan ringan.


Bintang menggendong Tegar, mengangkatnya dan mendudukkannya di kursi depan meja makan.


"Kita rasain dulu yuk masakan Mama" ajak Bintang.


"Enak lho Pa, aku tadi sudah makan lima potong" jawab Tegar.


"Wah anak Papa banyak banget makannya pantas badannya gembul seperti ini" Bintang mencubit gemas pipi Tegar.


"Boleh, kamu mau kemana?" tanya Bintang.


"Gak tau, tanya Om Ali saja. Dia kan baru satu minggu tinggal di Bandung. Dia mau jalan - jalan keliling Bandung katanya" oceh Tegar.


"Oke, besok kita ajak eyang dan Tante Dewi sekalian ya biar kita jalan - jalannya rame - rame" sambut Bintang.


"Asiiiik, horeeee" teriak Tegar.


Malam harinya di kamar Tiara. Tegar sudah tidur pulas di tengah-tengah antara Bintang dan Tiara.


Bintang mengelus kepala Tegar.


"Saat hamil Tegar dulu apakah berat?" tanya Bintang.


"Iya Mas, beberapa kali aku sempat pendarahan. Kata dokter aku tidak boleh stress dan kelelahan. Mungkin karena saat itu aku mendapatkan cobaan yang sangat berat. Saat aku hamil tiga bulan aku wisuda dan kami pergi makan siang di sebuah Restoran bersama Ibu dan Ridho. Di situ aku melihat kamu bersama seorang wanita. Saat itu Ridho ingin menemui kamu dan menceritakan semuanya tapi tidak jadi karena aku pingsan. Mereka membawaku ke rumah sakit" ungkap Tiara.


Bintang ingat, wanita itu pasti Siska dan saat itu Bintang belum tau kalau Siska sudah mengkhianatinya.


"Satu bulan kemudian Ridho wisuda. Aku mendengar Ibunya melarang Ridho mendekatiku karena aku hamil di luar nikah. Hatiku sangat sakit waktu itu" sambung Tiara.


"Untung Ridho mendengarkan ucapan Ibunya. Kalau tidak bisa - bisa kamu menikah dengan Ridho" potong Bintang.


"Mas salah, Ridho mengungkapkan perasaannya padaku tapi aku menolaknya karena Ridho pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku dan dia adalah Tari" jawab Tiara.


Bintang memegang lembut tangan Tiara.


"Saat usia kandunganku lima bulan aku melihat kamu lagi di Cafe. Saat itulah aku tau kalau kamu adalah sahabatnya Mbak Dian. Dan waktu itu aku juga pendarahan Mas karena shock bertemu dengan kamu" ungkap Tiara.


"Aku ingat, waktu itu Dian memang bercerita tentang kehamilan kamu dan saat itu aku sempat merasa tidak asing dengan wajah kamu tapi aku lupa dimana kita pernah bertemu sebelumnya" balas Bintang.


"Saat itu lagi - lagi Ridho ingin menemui kamu Mas tapi aku melarangnya" sambung Tiara.


"Maaf sayang saat itu aku tidak mengingat kamu dan maaf tidak ada di saat - saat kamu membutuhkanku" Bintang menarik tangan Tiara dan menciumnya.


"Semua sudah berlalu Mas" sambut Tiara.


"Kamu memang wanita yang kuat dan teguh pendirian. Kamu berani mengambil resiko begitu berat dan menanggungnya sendiri" puji Bintang.


"Aku takut kamu tidak mengakui anak yang aku kandung adalah anak kamu dan aku takut kamu menyuruhku untuk menggugurkannya" ujar Tiara.


"Hah... sudahlah lebih baik kita menatap masa depan kita bertiga ya.. Eh salah mungkin berempat atau berlima, lebih juga boleh. Aku suka rumah yang ramai. Karena aku sudah terbiasa hidup sendiri dan sepi. Semua itu tidak enak" ungkap Bintang.


Tiara tersenyum menatap suaminya.


"Nanti kalau kita sudah pindah ke Jakarta, berjanjilah padaku untuk mendekatkan Tegar pada Papa dan Mama kamu. Aku yakin Tegar akan menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan kamu dengan keluarga kamu Mas" ucap Tiara.


Bintang menarik nafasnya panjang.


"Aku tidak tau Yank, apakah harapan kamu itu bisa terpenuhi. Karena aku tidak yakin apakah Papaku bisa menerima aku kembali dan menerima Tegar sebagai cucunya" balas Bintang tidak yakin.


"Setidaknya kita akan mencobanya Mas" balas Tiara.


"Ya sudah lebih baik kita tidur yuk, dari pada aku menerkam kamu sekarang" ancam Bintang.


"Kamu lupa aku lagi libur Mas" jawab Tiara mengingatkan.


"Cih... aku harus puasa lagi" sambung Bintang kesal.


.


.


BERSAMBUNG