Tiara

Tiara
Tiara sadar


Malam harinya saat Bintang menjenguk Tiara sebelum waktu besuk malam selesai kembali dia meminta Tiara untuk sadar.


Dokter bilang tidak ada lagi masalah dengan Tiara, semuanya normal tapi mengapa sampai sekarang Tiara belum juga sadar.


Bintang meraih tangan Tiara dan menciumnya berulang kali.


"Sayaaang bangun donk.. aku kangen banget dengar suara kamu. Gak apa - apa deh kamu ngomel seharian. Dengan senang hati aku akan dengan senang hati mendengarkan kamu ngomelin aku" goda Bintang.


Tanpa Bintang sadari tangan Tiara langsung mencubit tangan Bintang sehingga Bintang menjerit. Bukan menjerit karena sakit tapi karena terkejut.


"Alhamdulillah ya Allah.. sayang kamu sudah sadar?" tanya Bintang. Bintang menatap wajah Tiara.


Tiara tersenyum lemah.


"Sebentar ya sayaaang" Bintang segera memanggil Dokter dan perawat dengan menekan tombol bel.


Tak lama Dokter dan Perawat datang menghampiri ranjang Tiara. Mereka segera memeriksa keadaan Tiara.


"Alhamdulillah pasien sudah sadar dan semuanya normal" ucap Dokter.


"Alhamdulillah... " sambut Bintang.


"Kalau begitu istri saya bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap kan Dok?" tanya Bintang.


"Bisa Pak, tunggu sebentar ya. Kami akan memeriksa istri anda lebih lanjut setelah itu dia akan segera kita pindahkan.


" Baik Dok" Bintang segera keluar dari ruang ICU menemui orang tua dan mertuanya.


"Pa, Ma, Pak, Bu.. Tiara sudah sadar" ungkap Bintang.


"Benarkah? alhamdulillah" sambut Siti.


"Alhamdulillah.. " ucap yang lain.


"Sebentar lagi Tiara akan di pindah di ruang rawat inap" ujar Bintang.


"Kamu pesan kamar yang besar ya Bin biar kami bisa ikutan jaga Tiara" pinta Sekar.


"Iya Ma" jawab Bintang.


Saat ini memang Bintang membutuhkan dukungan dari seluruh keluarganya. Mungkin kalau mereka ramai menjaga Tiara bisa menghibur Tiara dan dia jadi lebih bersemangat untuk cepat sembuh.


"Ayo Sit kita siap - siap, Bintang lagi pesan kamar karena Tiara akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap" ajak Sekar.


"Iya Kar" jawab Siti


Para wanita tengah baya itu segera menyiapkan barang - barang Tiara yang tadi dibawa Mang Kardi ke rumah sakit.


Tiara pun segera di pindahkan ke ruang rawat inap. Semua sudah bisa bernafas lega karena Tiara sudah melewati masa kritisnya jadi tidak ada lagi yang di khawatirkan.


Mereka sepakat untuk menyembunyikan dulu keadaan Tiara sampai Tiara benar - benar sudah siap mendengar kabar itu dan dia sudah lebih tenang. Dokter mengkhawatirkan kondisi fisik Tiara pasca lahiran dan operasi.


Kalau dia mengetahui bahwa rahimnya sudah diangkat takutnya jiwa Tiara terguncang. Di putuskan untuk merahasiakan dulu keadaan Tiara sampai Tiara benar - benar sehat.


"Kamu sudah nyaman tidurannya sayang?" tanya Bintang penuh perhatian.


"Sudah Mas" jawab Tiara masih lemah.


"Kapan aku bisa bertemu putri kita Mas?" tanya Tiara.


"Besok sayang, ini sudah malam. Putri kita sudah di bawa ke ruangan bayi" jawab Bintang.


"Tegar mana Mas?" Tiara mencari sosok putranya.


"Tegar sudah pulang tadi sama Dewi dan Ali, kasihan dia nungguin kamu terus di Rumah Sakit. Besok dia juga harus sekolah kan" jawab Bintang.


"Ibu dan Mama mana Mas?" tanya Tiara lagi.


"Lah terus kamu tidur dimana?" tanya Tiara.


"Aku ya tidur di sini bareng kamu" balas Bintang sambil tersenyum.


"Maaas jangan ah, kamu kan gak bisa tidur nyenyak. Masak tidurnya di kursi?" tanya Tiara


"Sudah sayang jangan banyak omel lagi yang penting kamu sudah sadar dan sekarang kamu tidur ya biar besok lebih segar ketika bertemu princess kita" jawab Bintang.


"Tadi siapa ya yang nangis - nangis minta aku cepat bangun terus siapa juga yang bilang kangen sama omelan aku bahkan rela dengar omelanku seharian asalkan aku segera bangun" sindit Tiara.


Bintang tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kamu istirahat dulu kumpulkan tenaga buat omelin aku besok pagi. Aku juga mau istirahat buat ngumpulin tenaga aku untuk dengerin omelan kamu besok. Adil kan?" Bintang mengedipkan sebelah matanya dengan nakal kepada Tiara.


"Tiara langsung mencubit pipi suaminya gemas.


"Aawww.. sakit yank" teriak Bintang.


"Kamu ya, selalu aja ada seribu satu alasan dan gak pernah mau kalah" ujar Tiara sambil pura - pura cemberut.


"Hahaha... kamu udah tau bener ya aku ini luar dalam" balas Bintang.


"Ya iyalah aku kan istri kamu Mas" potong Tiara.


Bintang segera memegang wajah Tiara dengan kedua tangannya.


"Yank, terimakasih kamu sudah melahirkan bidadari mungil dalam rumah tangga kita. Terimakasih kamu sudah berjuang untuk tetap bertahan demi aku dan anak - anak. Aku tidak tau sayang kalau seandainya terjadi sesuatu dengan kamu mungkin aku akan gila" ucap Bintang dengan wajah sendu.


"Terimakasih juga sudah menjadi suami siaga dan bertanggung jawab. Aku tau tadi kamu pasti panik banget kan ketika melihat aku pingsan?" tanya Tiara.


"Iya, rasanya jantungku mau copot yank melihat kamu seperti itu. Tapi bukan hanya aku saja yang khawatir. Kamu harus bertemu Tegar besok. Kasihan dia menahan beban rasa bersalah karena dia kamu jatuh dari tangga. Dia terus menangis dan berdoa agar kamu secepatnya bangun. Dia ingin meminta maaf kepada kamu" ungkap Bintang.


"Ooowh.. kasihannya putraku itu" sambut Tiara.


"Tapi dia putra kita yang hebat. Saat kita sampai di Rumah Sakit dia langsung keluar dari mobil dan berlari mencari dokter sambil berteriak meminta pertolongan untuk segera menyelamatkan kamu. Aku baru sadar ketika Mang Kardi tadi cerita padaku" sambung Bintang.


Mata Tiara terlihat berkaca - kaca.


"Aku jadi kangen Tegar Mas. Anak kesayanganku" ucap Tiara.


Bintang membelai lembut kepala Tiara.


"Sabar ya sayang kamu harus istirahat dulu agar besok bisa melihat putra - putri kita. Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu" ujar Bintang.


"Iya Mas. Aku akan istirahat sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin mengomeli kamu seharian penuh" goda Tiara.


"Assshiaaap" balas Bintang.


Mereka tertawa bersama. Bintang mengecup kening Tiara.


"Selamat tidur sayang, semoga kamu mimpi indah ya. Tapi janji ya besok bangun lagi, cukup sekali saja kamu lakukan itu pada kami. Rasanya jantungku tidak kuat lagi kalau kamu melakukan itu pada aku dan anak - anak" ujar Bintang.


"Iya Mas sayang" balas Tiara.


Tiara mulai memejamkan matanya dan beristirahat. Sedangkan Bintang tak henti - hentinya mengucapkan syukur atas rahmat yang telah Allah berikan kepada keluarga kecilnya.


Mereka kini bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga yang utuh dan akan menjalani masa depan dengan tetap saling menyayangi. Bintang berjanji dalam hati tidak akan melabuhkan hatinya pada yang lain lagi. Cukup Tiara satu di hatinya.


.


.


BERSAMBUNG