
Empat tahun kemudian Tegar sudah mulai masuk TK B. Tiara kini mengontrak rumah bersama Tari teman satu Kosnya.
Ridho sudah berhasil menjadi pemuda yang mapan. Kini Ridho sudah memiliki mobil dan rumah yang baru saja dia beli.
Beberapa kali Ridho membujuk Tiara untuk tinggal di rumahnya yang baru tetapi Tiara menolaknya karena mereka tak memiliki hubungan apapun. Hanya sahabat.
Empat tahun ini tidak bisa membuat Tiara membuka hatinya untuk Ridho ataupun pria lain. Dia benar-benar mengunci hatinya rapat - rapat dan tidak memberi selah sedikit saja pada siapapun termasuk Ridho.
Akhirnya dengan dorongan dari Tiara dan Dian. Ridho berpacaran dengan Tari sehingga Ridho hampir setiap hari main ke rumah kosan mereka sepulang kerja.
Tari tidak cemburu ketika Tegar memanggil Ridho dengan sebutan Bapak. Karena sejak Tiara hamil Tari sudah mengetahui hubungan antara Ridho dan Tiara.
Mereka menyayangi Tegar seperti anak mereka sendiri. Tak jarang saat mereka kencan berdua Ridho dan Tari membawa Tegar ikut serta atau saat Tiara bekerja di cafe mereka yang akan menjaga Tegar.
Tiara sangat senang akan hal ini. Akhirnya dua sahabatnya sebentar lagi akan bersatu karena Ridho dan Tari sudah menyusun rencana untuk menikah.
Tegar tumbuh menjadi anak yang pintar bahkan bisa dikatakan jenius. Dengan usianya yang baru empat tahun dia sudah bisa berhitung, membaca dan menghapal nama ibu kota suatu negara.
Tiar, Ridho, Tari dan Dian sering membelikannya buku yang berisikan banyak ilmu pengetahuan di dalamnya. Dengan usia yang baru empat tahun dia sudah lebih unggul dari teman - teman sekolahnya.
Tegar juga tumbuh menjadi anak yang bijak dan sering bertanya. Dia suka bertanya sesuatu yang mengusik hatinya. Bahkan Tiara, Ridho, Tari dan Dian sering kewalahan menjawab setiap pertanyaannya.
Dia tidak akan berhenti bertanya sampai dia puas mendapatkan jawaban yang dia mengerti. Seperti dimana Papanya? Saat usia Tegar tiga tahun dia sudah sibuk bertanya dimana Papanya.
Tiara, Ridho, Tari dan Dian sangat kesulitan untuk menjawab pertanyaannya. Mereka mengatakan kalau Papanya Tegar sudah meninggal dunia sebelum dia lahir.
Tegar tidak bisa mempercayai begitu saja, dia bertanya dimana makan Papanya? Sontak pertanyaannya membuat Tiara dan teman-temannya kebingungan.
Akhirnya mereka mengatakan kalau Papanya di makamkan di luar kota karena Papanya meninggal dalam satu kecelakaan saat bertugas di luar kota.
Tetapi sudah seminggu ini Tegar yang ceria dan aktif berubah menjadi pendiam dan suka menyendiri. Hal ini membuat Tiara dan Tari bingung di rumah.
Mereka berusaha untuk mencari tau apa yang terjadi dengan Tegar.
"Kamu kenapa sayang, Mama lihat sejak pulang sekolah kemarin kamu lebih banyak diam?" tanya Tiara.
"Aku sedih Mama" ucap Tegar.
Tiara terkejut mendengar pengakuan putranya.
"Sedih kenapa sayang?" tanya Tiara hati - hati karena anaknya ini pintar, jadi dia harus hati - hati bertanya dan bersiap untuk menjawab pertanyaan - pertanyaan anaknya. Karena setelah ini pasti Tegar akan menuntut jawaban dari pertanyaan - pertanyaan yang dia simpan dalam hatinya.
"Mama, aku gak mau sekolah lagi" ungkap Tegar.
"Kenapa kamu gak mau sekolah lagi nak? Katanya mau jadi anak pintar, kalau tidak sekolah ya gak pintar donk" bujuk Tiara.
"Aku gak mau ke sekolah lagi, teman-temanku semua jahat" ucapnya.
"Jahat gomaja? Kamu bertengkar dan berkelahi dengan teman kamu?" tanya Tiara.
Tegar menggelengkan kepalanya.
"Teman-temanku mengejekku tidak punya Papa. Mereka semua punya Papa. Mereka bilang aku lahir tanpa Papa" tangis Tegar pecah.
Maafkan Mama sayang, hal ini pasti akan kamu alami. Salah Mama yang terlalu egois ingin memiliki kamu sendirian dan sangat takut kehilangan kamu. Sehingga kamu lahir tanpa Papa kamu. Bahkan Papa kamu tidak mengetahui keberadaan kamu.
"Kan kamu punya Papa Ridho" jawab Tiara.
"Tapi Papa Ridho kan bukan Papaku Mamaaa... aku mau punya Papa.. aku mau Papaaaaa.... " tangis Tegar semakin pecah.
"Jadi gimana donk sayang kalau Papa kamu gak ada. Kan Papanya sudah pergi jauh dan tidak kembali" balas Tiara lembut, agar Tegar bisa mengerti.
Sebenarnya setiap berbohong seperti ini hati Tiara sangat terluka. Tapi dia kira ini hanya sementara dan sesekali. Ternyata kenyataan Tegar selalu bertanya hal yang sama dan berulang. Hanya kali ini lebih parah.
Tegar sampai menangis terisak sambil memeluk Tiara erat.
"Aku gak mau sekolah lagi Mama.... Aku gak ke sekolah lagi. Aku malu, hanya aku saja yang tidak punya Papa huuuuu.. uu... uuu... " ucap Tegar sambil terisak.
Tiara terdiam mencoba mencari jawaban dari permasalahan ini. Sepertinya kali ini tidak main - main. Hal ini sebenarnya sudah lama dia rencanakan. Hanya saja Ridho, Tari dan Dian selalu menahannya.
Setelah Tegar lahir Tiara pernah mengutarakan niatnya untuk pergi jauh dari mereka semua. Tiara ingin mencari suasana dan tempat yang baru. Kota yang lebih kecil dari Jakarta.
Tapi Ridho, Tari dan Dian tidak setuju dan melarang Tiara melakukan hal itu. Mungkin inilah saatnya, semakin lama Tegar akan semakin besar dan hal ini yang terus terjadi berulang-ulang.
Kalau mereka tinggal di kota yang baru yang lebih kecil tentu rasa kekeluargaan lebih terasa. Tiara juga akan lebih mudah mengatakan pada mereka bahwa Tegar lahir tanpa Papa karena Papanya sudah lama meninggal.
"Sabar ya sayang. Mama akan cari jalan keluar untuk kita. Kamu harus Tegar sesuai dengan nama kamu ya sayang" bujuk Tiara.
Sungguh karunia Allah yang tak henti - hentinya Tiara syukuri diberi anak pintar dan baik budi seperti Tegar.
Tegar memiliki sifat penurut walau dia suka protes atau tidak henti - hentinya bertanya tentang suatu hal yang dia ingin tau. Tegar juga bersikap dewasa dan mudah mengerti apa yang orang dewasa katakan padanya.
Tegar sangat mandiri dan sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Dia seperti mengerti bahwa Mamanya repot membesarkannya seorang diri sambil bekerja sehingga Tegar tidak pernah menuntut atau pun memaksakan suatu kehendaknya.
"Iya Ma" jawab Tegar, tangisnya mulai mereda.
Tiara mengecup lembut puncak kepala putranya. Sepertinya kali ini keputusannya sudah bulat. Dia dan Tegar akan pergi meninggalkan Kota Jakarta ini.
Tiara akan membawa Tegar ke Bandung kota kelahiran Tiara dan kota Tiara dibesarkan sebelum Bapaknya pergi meninggalkan Ibunya.
Malam ini Tiara akan meminta izin Dian untuk berhenti bekerja di Cafe. Tiara juga akan pamit kepada Tari dan Ridho. Semua ini dia lakukan demi Tegar.
Hanya Tegar yang dia miliki dan harus dia perjuangkan. Sepahit apapun masa depan yang akan mereka lalu, Tiara harus kuat menjalaninya karena ada Tegar bersamanya.
Tegar masih kecil, dia masih punya masa depan yang panjang dan Tiara ingin putranya hidup dengan bahagia tidak seperti dia dulu saat hidup bersama Ibu dan Bapak Tirinya.
Hampir setiap hari Tiara melihat kekerasan dalam rumah tangga. Itu sangat memperngaruhi hidup Tiara bahkan sampai saat ini dia masih trauma berdekatan dengan laki-laki.
.
.
BERSAMBUNG