Tiara

Tiara
Isi hati Dewi dan Ali


Wijaya dan Siti berbincang - bincang lama di cafe. Sesekali mereka tertawa ketika membahas hal yang lucu atau mengingat kenangan indah masa lalu mereka.


Tanpa mereka sadari Dewi dan Ali sudah sampai di Cafe. Seperti biasa mereka ingin menjemput Siti pulang dari Cafe. Tapi Dewi dan Ali melihat Siti sedang duduk dan berbincang - bincang dengan Pak Wijaya. Mereka berdua tampak sedang bahagia.


"Lihat Kak Ibu sedang duduk bersama Pak Wijaya. Kira - kira apa ya yang sedang mereka bicarakan?" tanya Ali.


Dewi mengangkat kedua bahunya menandakan kalau dia tidak tau dan tidak bisa menebak apa yang sedang di bicarakan Ibunya dengan Pak Wijaya.


"Kak, kalau Ibu menikah lagi Kakak setuju gak?" tanya Ali.


"Dengan siapa dulu menikahnya?" tanya Dewi.


"Ya dengan Pak Wijaya lah masak mau nikah sama orang lain. Yang ada di hadapan Ibu sekarang Pak Wijaya kok" jawab Ali.


Dewi menarik nafas panjang.


"Kalau kita melarang Ibu menikah lagi kita jahat Al. Kita tau kan bagaimana Alm. Bapak dulu memperlakukan Ibu. Ibu selalu di pukul dan hidup dalam ancaman. Kita sama - sama tau Ibu selalu menangis dalam diam dan tidak bahagia. Kakak saja pernah bertanya dalam hati, apa sih yang Ibu lihat dari Bapak sampai Ibu mau menikah dengannya. Kakak juga sempat trauma dengan pernikahan. Kalau seperti itulah arti pernikahan mending Kakak gak pernah menikah sama sekali dari pada hidup tersiksa seperti Ibu tapi untunglah pernikahan Kak Ara merubah pemikiran Kakak. Ternyata gak semau orang akan mengalami dan menjalani hidup yang sama" ungkap Dewi.


"Aku juga pernah berpikiran seperti itu Kak. Aku marah pada Bapak sebagai laki - laki mengapa hanya bisanya menyakiti istri dan anak - anaknya. Tidak seperti Bapak teman - temanku yang lain. Mereka mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari Bapak mereka. Terkadang aku iri melihat mereka dan ingin sekali mempunyai Bapak seperti itu" sambut Ali.


"Saat Kakak di culik Bapak baru Kakak mengerti mengapa Bapak memperlakukan Ibu seperti itu. Bapak tidak pernah mencintai Ibu, Bapak patah hati karena di paksa berpisah dengan kekasinya yaitu Ibunya Mbak Ida dan Bapak melampiaskannnya kepada Ibu. Makanya Bapak sering memukuli Ibu" ungkap Dewi.


"Aku gak mau seperti Bapak Kak. Kalau aku dewasa kelak aku ingin seperti Mas Bintang dan Pak Wijaya yang selalu menghormati wanita" jawab Ali.


"Kamu lihat pandangan Pak Wijaya kepada Ibu?" ucap Dewi kepada Ali. Mereka melihat ke arah yang sama.


"Apa yang bisa kamu simpulkan?" tanya Dewi.


"Pak Wijaya sangat mencintai Ibu Kak" jawab Ali.


"Lihat bagaimana wajah Ibu?" tanya Dewi lagi.


"Ibu terlihat sangat bahagia" balas Ali.


"Kalau seperti itu apakah kita tega melarang Ibu menikah dengan Pak Wijaya? Sementara kita bisa melihat dengan jelas Ibu sangat bahagia bahkan kamu lihat senyum dan tawa Ibu itu tidak pernah kita lihat saat dia bersama alm. Bapak kita" Dewi menangis sedih.


"Walau bukan Bapak kita yang ada di sana untuk membahagiakan Ibu, Kakak ikhlas Al. Kakak ikut bahagia. Kakak tak berhenti mengucapkan syukur, ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepada Ibu untuk bahagia setelah apa yang telah dia jalani selama ini" ucap Dewi sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Iya Kak, aku juga merasakan hal yang sama. Sudah cukup Ibu menderita selama ini. Kini saatnya Ibu bahagia dengan pria yang sangat mencintainya" sambung Ali.


Dewi tersenyum lembut.


"Selama kita tinggal di rumah Pak Wijaya, apakah kamu belum mengenal sifatnya Al? Pak Wijaya adalah pria yang baik. Kakak yakin dia akan menerima kita. Selama ini dia memperlakukan kita dengan sangat baik bahkan hampir sama dengan perlakuannya pada Kak Ara. Dia juga menganggap kita sebagai anak - anaknya. Pak Wijaya mempunyai sifat penyayang, penyabar dan melindungi. Hal yang tidak pernah kita dapatkan dari Bapak kandung kita sendiri" jawab Dewi.


"Iya Kak, kita beruntung Kak bertemu dengan pria baik seperti Pak Wijaya" sambung Ali.


"Kamu benar. Allah sangat sayang pada kita, memberikan kita kesempatan untuk memiliki keluarga yang sempurna. Walau miris kelihatannya kesempurnaan keluarga itu malah bukan dari Bapak kandung kita, kita dapatkan. Tapi sudah lah.. kita tak boleh terus menyalahkan alm. Bapak. Biarlah kita do'akan saja semoga Allah mengampuni semua dosa - dosa Bapak kita" ujar Dewi.


"Iya Kak. Terus gimana dengan Mbak Ida Kak? Dia berarti saudara kita juga kan?" tanya Ali.


"Iya, Kakak gak tau harus berkata apa tentang Kak Ida. Haruskah kita menyalahkannya atas apa yang telah dia lakukan?" Dewi mencoba menerawang, pikirannya melayang pada kejadian penculikan dirinya.


"Seandainya Kakak menjadi Kak Ida apa yang akan Kakak lakukan? Mengetahui kalau ternyata Bapak kandung Kakak adalah Bapak yang tidak hidup bersama. Tidak mendapatkan kasih sayang darinya" ungkap Dewi.


"Mending lebih baik gak usah tinggal sama Bapak Kak, kalau harus melihat Bapak terus memukuli Ibu dan mengancam kita" potong Ali.


"Itu karena kita lahir bukan dari wanita yang dia cintai Al. Kalau Mbak Ida kan anak yang lahir dari wanita yang dia cintai. Pasti Bapak lebih sayang pada Mbak Ida makanya Mbak Ida juga sayang sama Bapak dan mau bersedia membantu Bapak melarikan diri dan mereka berencana akan pergi jauh dari pulau ini dan hidup bersama" jawab Dewi.


"Tak peduli kita lahir dari wanita yang dia cintai dan tidak dia cintai. Kenyataannya kita ini adalah anak kandung Bapak, kita lahir karena ada Bapak kan? Kalau boleh pilih aku juga gak mau jadi anaknya Bapak" ucap Ali dengan nada kesal.


"Hus... Bapak sudah tiada Al, jangan tambahin dosa dia. Kasihan dia disiksa di sana" potong Dewi.


Ali tampak duduk bersandar di kursi tamu dengan wajah kesal.


"Pokoknya aku tidak mau memaafkan Mbak Ida" gumam Ali kesal.


"Harusnya dia kan tau mana perbuatan yang salah dan mana yang benar. Dia kan sudah dewasa, umurnya jauh lebih tua dari kita. Masak dia mau membantu dan mendukung perbuatan Bapak yang salah. Itu jelas salah" protes Ali.


Dewi menatap wajah adiknya. Sebenarnya dia juga ingin berkata seperti itu kepada Ida tapi lagi - lagi Dewi sadar bagaimanapun Ida itu adalah saudaranya dan Ida tidak mempunyai saudara lain lagi selain mereka. Mereka masih syukur masih mempunyai Ibu. Ida kini tinggal sendiri, Bapak dan ibunya sudah meninggal dunia. Kini Ida mendekam di penjara, walau belum mendapatkan putusan hukuman tapi sudah pasti dia akan mendapatkan hukumannya.


Hah... hukum Allah akan berlaku, itu pasti. Siapa yang menabur kebencian pasti akan mendapatkan hukuman yang sama bahkan lebih berat. Maka berhati - hatilah dalam bersikap dan berpikir jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dapat merugikan masa depan kita.


.


.


BERSAMBUNG