
Dua minggu setelah melahirkan Tiara sudah bisa berjalan dengan lincah walau Bintang sering melarangnya melakukan sesuatu yang berat - berat.
Siti masih tinggal di rumah Tiara sedangkan Pak Wijaya sudah kembali ke Bandung. Hanya saat weekend dia bersama kedua adik Tiara datang lagi ke Bandung.
Seperti akhir pekan ini Pak Wijaya bersama Dewi dan Ali baru saja datang dan sampai di rumah Tiara jumat sore. Malam ini mereka makan malam bersama di ruang makan.
"Pak, Bu.. aku sudah semakin sembuh. Aku rasa dia minggu lagi kita bisa menyelenggarakan pernikahan Ibu dan Bapak sekaligus syukuran kelahiran Zia" ujar Tiara.
Siti dan Pak Wijaya saling lirik dalam diam. Kemudian mereka menatap Tiara.
"Kamu jangan merasa gak enak pada kami Ra. Bapak dan Ibu masih sabar kok menunggu sampai kamu sehat betul. Jangan terburu - buru" sambut Pak Wijaya.
"Iya Ra, kamu kan tidak boleh terlalu capek" sambung Siti.
"Nggak Bu, aku tidak akan capek" bantah Tiara.
"Nanti aku akan cari EO ya Bu untuk mengurus semua acara syukuran Zia dan pernikahan Bapak dan Ibu" sambut Bintang.
Pak Wijaya menarik nafas panjang.
"Ya sudah terserah kalian, yang penting jangan membuat Tiara jadi sakit ya" ujar Pak Wijaya.
"Iya Pak, aku janji aku akan tetap sehat" jawab Tiara.
"Kalau begitu aku akan kabari Mas Bagas ya untuk mengambil gaun dan cincin pernikahan Bapak dan Ibu" ucap Dewi.
"Iya Wi, kamu telepon Bagas secepatnya. Lebih cepat lebih baik. Takutnya gaun dan cincinnya belum selesai lagi. Paling lama minggu depan semua sudah selesai" perintah Bintang.
"Iya Mas, nanti di kamar aku akan hubungin Mas Bagas" jawab Dewi.
"Ibu dan Bapak mau konsep pernikahan seperti apa? Biar kita pesan sama EO nya acara seperti Bapak dan Ibu inginkan?" tanya Bintang antusias.
"Yang sederhana aja Bin, malu kalau buat acara yang macam - macam, udah tua juga" jawab Siti.
"Benar Bintang, yang penting kami sudah sah menjadi suami istri" sambut Pak Wijaya.
"Baiklah kalau begitu. Trus yank syukuran Zia kamu mau yang bagaimana?" tanya Bintang kepada istrinya.
"Aku pengen konsep princess Mas dan berwarna pink karena Zia kan anak perempuan" jawab Tiara.
"Oke nanti kita pesan seperti yang kamu mau ya" sambut Bintang.
"Makasih Mas" balas Tiara.
"Assalamu'alaikum... " tiba - tiba Bagas muncul di rumah Bintang.
"Wah panjang umur kamu Gas" sambut Pak Wijaya.
"Aamiin.. harus donk Pak, aku kan belum nikah sama Dewi" jawab Bagas.
"Ayo Gas duduk sini.. mari makan malam bersama kami" ajak Siti.
Bagas duduk di samping Dewi dan Dewi mempersiapkan semua peralatan makan Bagas.
"Makan Mas" perintah Dewi.
"Makasih Wi" balas Bagas.
Bagas mulai menyantap hidangan makan malamnya bersama calon keluarganya.
"Ada kabar apa nih? Sepertinya ada yang ingin Bapak sampaikan ketika aku datang tadi?" tanya Bagas kepada Pak Wijaya.
"InsyaAllah Bapak dan Ibu menikah dua minggu lagi Mas bersamaan dengan acara syukuran kelahiran Zia" jawab Dewi.
"Oh ya... waah bagus donk. Kalau begitu aku harus hubungi travel umroh secepatnya" ujar Bagas bersemangat.
"Kok travel umroh. Untuk apa?" tanya Bintang bingung.
"Ini Bapak mau nikah bukan mau umroh? Kamu itu hubungi EO atau EO bukan travel umroh?" sambung Bintang.
Pak Wijaya dan Bu Siti tersenyum mendengar perkataan Bintang.
"Bapak dan Ibu itu punya keinginan, setelah menikah mereka pengen honeymoonnya ke Mekkah untuk umroh Bintaaaaang" jawab Bagas.
"Ooooh bilang donk dari tadi" sambut Bintang.
"Kalian ini kalau sudah ketemu persis anak kecil. Gak malu di lihat Tegar" ucap Tiara mengingatkan suaminya.
"Sorry yank, kebiasan soalnya kalau udah ketemu Bagas bawaannya minta di pletes kayak cabe rawit" jawab Bintang.
"Mas hubungin juga Butik dan toko perhiasan. Kan pernikahan Bapak dan Ibu sudah jelas tanggalnya" perintah Dewi.
"Eh iya aku lupa. Nanti setelah makan aku hubungi ya. Kapan mau diambil Pak Bu?" tanya Bagas.
"Minggu depan aja Mas Bagas. Paling lama minggu depan. Jadi kalau sudah siap semua kan kita bisa lebih tenang dan lebih lega" sambut Tiara.
"Oke Ra, nanti aku pinta sama mereka ya. Di kirim ke sini aja ya barangnya" ujar Bagas.
"Iya" jawab Tiara.
"Berkas yang lain Pak? Untuk bawa ke KUA dan juga sekalian aku mau pesan paket umrohnya" pinta Bagas.
"Nanti Bapak kasih ke kamu ya" jawab Pak Wijaya.
"Oke Pak aku tunggu" balas Bagas.
"Aku juga akan kabari Papa dan Mama biar mereka bisa bantuin segala sesuatunya" ujar Bintang.
"Gak usah merepotkan Bambang Bin, dia kan juga repot" cegah Pak Wijaya.
"Papa dan Mama pasti senang mendengar berita ini Pak. Mereka kan juga sahabat Bapak dan Ibu" sambut Bintang.
"Ya sudah terserah kamu saja" balas Pak Wijaya.
"Terlebih Mama Mas pasti dia senang banget dengar kabar ini. Udah kebayang gimana ributnya Mama nanti ngurus ini itu" ucap Tiara.
"Iya, Ibu jadi gak enak repotin Sekar" sambut Siti.
"Gak apa - ap Bu, Tante Sekar keren seleranya. Nanti kan pesta Ibu dan Bapak jadi bagus" potong Dewi.
"Benar tuh. Mau aku ikutin Papa dan Mama aku juga?" tanya Bagas menawarkan.
"Jangan.... " ucap Pak Wijaya dan Bu Siti berbarengan.
"Jangan ramai - ramai, pada repot semua. Kami malu, kami sudah tua. Biarin EO aja yang ngatur yang lain mah santai aja" sambung Siti.
"Terus Tegar bantu apa donk Opa.. Oma? Tiba - tiba Tegar ikut nimbrung.
Sontak yang lain terdiam dan akhirnya tertawa bersama.
"Anak kecil pengen ikutan juga" jawab Dewi.
"Udah kamu jagain si gembul aja" goda Bagas.
"Om Bagaaaaas... aku gak mau temenan sama Om Bagas lagi. Om Bagas terus - terusan panggil adek aku gembul" Tegar melipat kedua tanggannya ke dada.
"Yaelah main ngambek anak kamu" ujar Bagas pada Bintang.
"Kamu sih suka banget godain dia" protes Bintang.
"Kamu cukup do'ain Opa dan Oma aja ya sayang" ujar Siti.
"Iya deh aku do'ain semoga Opa dan Oma segera ada adek bayinya" doa Tegar sambil mengangkat kedua tangannya.
"Cruuuuuut.... " air yang ada di dalam mulut Bintang langsung nyembur dan mengenai Bintang.
"Ih kamu jorok banget sih Bin" teriak Bagas tanpa sadar.
"Lho kok do'ain gitu sih sayang?" tanya Tiara.
"Lho kan kalau orang yang akan menikah selalu dapat doa seperti itu. Dulu waktu Mama nikah, semua doa seperti itu terus dalam perut Mama ada adek Zia. Kemudian waktu Om Roy nikah juga di do'ain seperti itu dan Tante Dian juga langsung ada adek bayinya di dalam perut. Oma dan Opa juga gitu donk" jawab Tegar dengan polos.
"Udah diaminkan aja deh.... "
.
.
BERSAMBUNG