Tiara

Tiara
Cemburu


"Aduh... " ucap Tegar ketika kakinya menyentuh lantai.


"Maaf Om gak sengaja" jawab seorang pria.


Ketika Tegar berdiri dia melihat wajah pria itu dan terkejut.


"Om Roy... " ucap Tegar.


"Tegaaar" jawab Roy,


"Om ngapain di sini?" tanya Tegar.


"Harusnya Om yang bertanya kamu ngapain di sini? Mama kamu mana?" tanya Roy penasaran,


"Aku baru pulang bermain di Dufan sama Papa dan eyang" jawab Tegar.


"Eyang? Eyang mana?" tanya Roy penasaran.


Apakah Eyang dari Bintang, maksudnya Mamanya Bintang? Tanya Roy dalam hati.


"Eyang, Ibunya Mama Om" jawab Tegar polos.


"Ooooh.. sekarang mana Mama kamu?" tanya Roy.


"Tuh di sana, yuk Om" ajak Tegar.


Roy mengikuti Tegar yang berjalan menuju arah meja tempat keluarga duduk.


"Mamaaaa... ada Om Roy" teriak Tegar yang baru datang.


"Lho Roy kamu di sini juga?" tanya Bintang.


"Iya Bin, tadi baru janjian ketemu sana client. Baru mau pulang, tak sengaja aku tabrakan sama Tegar tadi" ungkap Roy.


"Ehm.. kenalkan Mas ini Ibu dan adik - adikku" ucap Tiara memperkenalkan Ibunya kepada Roy.


"Oh ini yang namanya nak Roy" ucap Siti sambil tersenyum ramah.


Entah mengapa Bintang merasa sambutan Ibunya Tiara berbeda dengan dia dan Roy. Tadi waktu di mobil Ibunya Tiara hanya tersenyum kaku dan tanpa suara. Sedangkan dengan Roy Ibunya Tiara terlihat sangat ramah.


Tiba - tiba Bintang merasa cemburu dengan sikap Ibunya Roy. Harusnya aku yang digituin. Aku kan Papanya Tegar? Batin Bintang.


"Eh Ibu, saya Roy temannya Tiara dan Bintang" jawab Roy sambil menjabat tangan Siti dengan hormat.


"Duduk yuk Mas, kami juga baru pesan makanan. Mas mau pesan sesuatu?" tanya Tiara perhatian.


Lagi - lagi Bintang merasa keberadaannya di acuhkan.


"Aku baru selesai makan tadi Ra, aku pesan air mineral saja" jawab Roy.


Tiara manggil pelayan Restoran dan meminta menu tambahan.


Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang. Mereka makan bersama kecuali Roy.


"Nak Roy tinggal tinggal di mana?" tanya Siti.


"Saya di Komp. xxx Jakarta Pusat Bu. Sebenarnya saya lebih sering di Singapura tapi setiap akhir pekan saya usahakan balik ke Indonesia karena kan mau cek Cafe di Bandung dan ketemu Tiara dan Tegar" jawab Roy.


Entah mengapa makanan Bintang yang tadi enak tiba-tiba berubah menjadi tak karuan rasanya.


"Terus kalau nanti menikah apa akan terus - terusan di Singapura?" tanya Siti.


"Saya akan menetap di Indonesia Bu. Tidak baik kan kalau harus berjauhan" jawab Roy lembut.


"Iya bagus itu. Kalau berumah tangga memang harus tinggal bersama kalau ketemuannya cuma weekend aja bahaya. Bisa banyak cobaannya. Entar ada orang lain lagi yang masuk dalam hubungan kalian" sindit Siti.


"Uhukk.. uhuk... " Bintang tersedak makanan pedas. Wajahnya terlihat merah sekali. Hidungnya terasa panas dan pedas. Air matanya tanpa sadar keluar dari sudut matanya.


Tiara tidak sampai hati melihatnya, segera dia menepuk punggung Bintang dan memberikan Bintang air minum.


"Makannya hati - hati Mas, kan sakit banget tuh jadinya kesedak cabai" ucap Tiara.


Hidungku memang sakit Ra tapi lebih sakit hatiku. Tenggorokanku rasanya panas tapi dadaku lebih panas mendengar perkataan Ibu. Ucap Bintang dalam hati.


Bintang tau maksud dari kata - kata Ibu Tiara itu adalah dia. Karna kalau seandainya Roy dan Tiara menikah dia lah yang akan menjadi pengganggu di dalam rumah tangga mereka.


Karena Bintang akan sering datang untuk bertemu dengan Tegar. Roy juga pernah mengatakan kalau dia tidak akan melarang Bintang datang menemui Tegar.


"Yuk Mas kita pulang, sudah terlalu malam. Kasihan Ibu sudah capek" ucap Tiara.


"Biar aku yang mengantar kalian Ra" ujar Roy.


"Aku saja, perginya samaku pulangnya juga" jawab Bintang.


"Ya sudah kalau begitu" balas Roy.


"Maaf ya Mas kami pulangnya sama Mas Bintang saja" jawab Tiara.


"Iya Ra gak apa - apa. Besok aku datang ya. Kalian menginap di rumah Ridho kan?" tanya Roy.


"Iya Mas. Kalau begitu kami pulang duluan ya Mas" jawab Tiara.


"Da.. da Om Roy" Tegar melambaikan tangannya.


"Kami duluan ya nak Roy" ucap Ibu Tiara.


"Iya Bu, hati - hati. Lain kali kita ketemu lagi ya Bu" balas Roy.


Siti membalasnya dengan senyuman.


Tiara, Tegar, Siti, Dewi dan Ali naik ke mobil Bintang. Sebelum kembali ke rumah Ridho terlebih dahulu Bintang mengantar Siti dan anak - anaknya sampai di ujung kampung.


Mereka tidak mau diantar sampai depan rumah karena takut di lihat para tetangga dan akhirnya diketahui oleh suami Siti.


"Sudah sampai sini saja" pinta Siti.


"Maaf ya Bu gak bisa antar sampai depan rumah" jawab Tiara.


"Iya gak apa - apa. Nanti kalah kamu datang ke Jakarta lagi jangan lupa kabari Ibu ya. Ibu ingin bertemu Tegar lagi" ucap Siti.


"Iya bu, nanti akan aku kabari lagi" balas Tiara.


"Eyang pulang dulu ya sayang. Kamu baik - baik sama Mama ya. Jangan nakal dan harus rajin belajar" Siti memeluk dan mencium cucunya penuh kasih sayang.


"Iya eyang. Eyang juga hati - hati" balas Tegar.


Tegar juga memeluk Dewi dan Ali, sebenarnya mereka sangat enggan berpisah.


"Kapan - kapan eyang donk yang datang ke rumah kami di Bandung. Nanti aku akan ajak Om Ali jalan - jalan. Ya kan Ma" ucap Tegar.


"Iya sayang nanti kapan - kapan eyang datang ya" balas Tiara.


"Ibu pulang ya Nak Bintang. Terimakasih atas tumpangannya" ucap Siti kepada Bingtang.


"Iya Bu, Ibu dan adik - adik hati - hati ya. Kalau ada perlu di Jakarta ini kabari saja aku. Tiara kan jauh di Bandung. Ini kartu namaku" Bintang memberikan kartu namanya kepada Siti.


"Gak perlu Nak Bintang, nanti kami ngerepotin" tolak Siti.


"Gak apa - apa Bu di simpan saja. Siapa tau Ibu perlu sesuatu dan sangat butuh bantuan jangan segan untuk menghubungi saya" sambung Bintang.


"Baiklah. Kalau begitu kami pamit dulu ya" balas Siti.


Mereka berpisah di ujung jalan menuju kampung rumah Siti dan suaminya.


Setelah itu Bintang melanjutkan perjalanan menuju rumah Ridho. Tegar terlihat sangat kelelahan dan dia tidur di kursi belakang.


"Tegar sepertinya sudah kelelahan Ra" ucap Bintang.


"Iya Mas, hari ini dia senang sekali dan semangat bermain dengan Ali dan Dewi" ujar Tiara.


"Tidak apa, sekali - sekali biar dia dekat merasa punya keluarga dan saudara. Kalau dari aku itu tidak akan mungkin karena aku adalah anak tunggal dan hubunganku juga dengan orang tuaku tidak baik" balas Bintang.


Tiara melihat ke belakang memastikan apakah anaknya sudah tidur dengan nyaman.


"Besok kemana rencana kalian?" tanya Bintang.


"Kami mau pergi sama Mas Roy Mas. Sudah janji dari minggu lalu kalau ke Jakarta Mas Roy mau bawa kami jalan - jalan"....


.


.


BERSAMBUNG