The Red Moon

The Red Moon
Slide Story - Tini


Sampai di rumah sakit, Tini melihat kondisi ibunya yang koma. Wanita tua itu hanya hidup dibantu oleh alat-alat penunjang kehidupan.


Tubuhnya begitu kurus dan Tini jadi menangis karena membayangkan nasibnya tanpa ibunya.


Tini sudah rela menjadi istri kedua Pram kalau sampai ibunya tidak sembuh rasanya sia-sia saja pengorbanannya.


"Apa yang harus aku lakukan ibu?" tanya Tini dengan isak tangis. Dia takut akan semakin jatuh hati pada Pram.


Kepala Tini tiba-tiba pusing dan pingsan sampai jatuh ke lantai.


Pakdhe Rudi yang curiga karena Tini tidak kunjung keluar ruangan akhirnya ikut masuk dan mendapati Tini yang pingsan.


Rupanya Tini tengah hamil muda dan gadis itu meminta pakdhe Rudi tidak memberitahu Pram.


"Kenapa, Tin? Suamimu harus tahu," ucap pakdhe Rudi.


Tini yang baru sadar dan tahu kalau dirinya sedang berbadan dua dengan tegas menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau merusak rumah tangga mas Pram dan mbak Maia," balas Tini.


Gadis itu mengusap perutnya dan yakin kalau bisa membesarkan anaknya seorang diri.


"Kata dokter usiamu masih terbilang muda untuk hamil dan itu sangat beresiko tinggi jadi tuan Pram harus tahu," Pakdhe Rudi tetap ingin memberitahu Pram.


"Kalau pakdhe memberitahu kehamilanku, mbak Maia pasti akan semakin terluka jadi jangan beritahu mas Pram, aku mohon!" pinta Tini.


Pembicaraan mereka terputus karena salah satu perawat datang untuk memberitahu anggota keluarga dari ibunya Tini.


Ternyata hari itu, ibu Tini menghembuskan nafas terakhirnya.


Pram yang mendengar kabar itu seketika langsung terkejut. Dia ingin menemani Tini yang sedang berkabung tapi Maia juga masih membutuhkan perhatiannya.


"Jangan pergi!" pinta Maia.


"Aku tidak akan menuntut apapun darimu lagi, termasuk masalah anak, Pram. Jangan tinggalkan aku!"


"Aku menyesal dan minta maaf!"


Tapi, Tini sendirian harus mengurus pemakaman ibunya.


Gadis itu terus menangis karena tidak punya siapa-siapa lagi, hanya janin yang Tini kandung menjadi penyemangat hidupnya setelah ini.


Tini benar-benar tidak mau mengganggu rumah tangga Pram dan Maia lagi, jadi dia memutuskan pergi tanpa memberi kabar.


Pakdhe Rudi saja dibuat kewalahan mencari Tini yang pergi entah kemana.


"Kenapa kau pergi tanpa pamit, Tini. Bagaimana kau bisa hidup sendirian dengan anakmu nanti," ucap pakdhe Rudi yang menyesal karena memberi penawaran sebelumnya.


Ketika pakdhe Rudi ingin pergi memberitahu tentang kehamilan Tini pada Pram, lelaki itu mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat.


Pram jadi setres karena tidak dapat menemukan Tini kemana pun.


Raga lelaki itu memang selalu bersama Maia tapi hatinya terus memikirkan Tini.


Sampai delapan bulan kemudian...


"Tuan.... Nyonya..." panggil asisten rumah tangga. Dia memanggil Pram dan Maia histeris karena ada tangisan bayi di depan rumah.


Pram segera turun ke lantai bawah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa?"


"A.. ada bayi di depan rumah, Tuan!"


"Ba... bayi?"


Pram langsung melihat bayi yang dimasukkan ke dalam sebuah box. Bayi laki-laki yang sangat mirip dengannya.


Untuk memastikan Pram langsung melakukan tes DNA dan saat hasilnya keluar, bayi itu dinyatakan cocok dengan DNA Pram.


Sudah jelas pasti bayi itu adalah anaknya bersama Tini, lantas di mana ibunya berada?


Di mana Tini sekarang?