
Arnette membuka mata dan mendapati dirinya sudah berbaring di atas ranjang besar dengan pakaian bersih.
"Sial! Di mana bayiku!" Arnette ingin langsung mencari bayi yang telah dia lahirkan susah payah.
Namun, pintu di kamar yang dia tempati terbuka dan perempuan cantik muncul seraya berjalan mendekati Arnette.
"Kau istrinya tuan penyihir?" tanya Arnette. Dia masih mengingat kejadian sebelum tak sadarkan diri.
Fiona tersenyum dan mengangguk. "Istirahatlah, supaya tenagamu cepat pulih!"
Tak lama beberapa pelayan masuk dengan membawa beberapa makanan.
"Kau harus makan yang banyak supaya bisa menyusui bayimu," lanjut Fiona.
"Di mana bayiku sekarang?" tanya Arnette gusar. Dia ingin melihat bayi tampannya.
"Bayimu sedang tidur dan kalian aman karena berada di kastil Esperland, tempat ini berbeda dimensi dari Kekaisaran Bavaria," jelas Fiona.
Arnette bisa bernafas lega, dia harus makan banyak supaya bisa melihat bayinya lagi.
Tapi, sebelum itu Fiona mengajari Arnette caranya menyusui bayi dengan benar.
"Aku tidak menyangka akan melakukan hal seperti ini," keluh Arnette. Bayangkan saja seorang panglima perang harus menyusui bayi.
Setelah dirasa Arnette bisa menguasai tehnik menyusui, Fiona meminta pelayan membawa bayi Arnette.
Bayi itu begitu tampan dan tidak banyak menangis.
Selama masa pemulihan, Arnette tinggal di kastil Esperland tapi dia tidak bisa berlama-lama.
Pada saat itu, Arnette ingin berbicara pada Ditrian yang tengah melatih putra semata wayangnya.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, aku juga ingin melindungi keluargaku. Jadi, biarkan bayimu ada di sini, kau bisa mengunjunginya kapan pun," ucap Ditrian.
"Kalau begitu, aku titip Theor di sini," balas Arnette. Dia merasa bayinya memang aman di tempat itu.
'"Jadi, namanya Theor?" tanya Ditrian.
"Ya," jawab Arnette.
Theor memang tumbuh di wilayah Esperland tapi Arnette sering mengunjungi bayinya.
Ketika Theor berumur tiga tahun, Arnette membawa Theor kembali ke wilayah Bavaria untuk memperkenalkan anak itu perang supaya Theor bisa beradaptasi.
Kalau anak kecil biasanya bermain dengan mobil-mobilan atau jenis mainan lainnya, Theor sudah bermain dengan pisau.
Theor tinggal di sebuah pondok di tengah hutan, Arnette akan membawa banyak makanan ketika mengunjungi anaknya.
Ada seorang pengasuh yang Arnette percaya tapi setelah Theor berumur lima tahun, pengasuh itu mati karena keracunan.
"Kane sepertinya mulai bergerak lagi dengan menggunakan makanan beracun," gumam Arnette seraya mengepalkan tangan.
Selama lima tahun terakhir, Arnette dengan sisa anak buahnya yang ada berhasil menghentikan aksi Kane yang mencari tumbal.
Sekarang, Kane kembali beraksi menggunakan cara licik.
"Ibu..." panggil Theor seraya mengucek matanya.
"Kau terbangun?" tanya Arnette.
Semakin lama, anak itu sangat mirip dengan Agam.
"Kemarilah!" Arnette menepuk pahanya dan Theor langsung naik ke paha ibunya itu.
Theor melihat di atas meja ada peta wilayah Kekaisaran Bavaria.
"Apa ibu akan pergi lagi?" tanya Theor.
"Kali ini kita akan pergi bersama, ibu akan melindungimu," balas Arnette. Dia tidak akan membiarkan Theor jauh dari jangkauannya.
Hari itu, Theor bersiap-siap untuk pergi meninggalkan pondoknya. Sepanjang perjalanan Theor digendong di punggung Arnette.
"Apa aku semakin berat?" tanya Theor.
"Ini bukan apa-apa, ibu sering menggendong ayahmu," jawab Arnette mengingat masa lalu.
Saat keluar dari hutan, Arnette membawa Theor untuk makan. Dia harus memastikan makanan yang dimakan anaknya terbebas dari racun.
"Tunggu ibu di sini," ucap Arnette.
Theor menganggukkan kepalanya, dia bersembunyi di balik pohon dan berjongkok untuk menunggu ibunya kembali.
Rupanya aksi Theor itu dilihat oleh seorang pemburu di hutan.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tegurnya.
"A... aku menunggu ibuku," jawab Theor gugup.
Pemburu itu mengajak Theor untuk pergi ke tendanya dan memberi anak itu makanan.
"Tunggu ibumu di sini saja," pemburu itu memberi buah yang didapatnya di hutan.
"Apa kalian hanya berdua saja?"
"Iya," jawab Theor seraya memakan buah.
"Di mana ayahmu?" tanya pemburu itu lagi.
"Kata ibu, ayahku pergi sangat jauh. Maka dari itu kami tidak bisa bersama tapi aku yakin jika melihatku, dia akan langsung mengenaliku karena kami adalah keluarga," jawab Theor. Matanya menatap langit di atas sana.
_
Sabar ya Theor, ayah Agam lagi ujian duluš¤§