The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 29 - Mulai Sadar


Agam terus mencari Arnette walaupun Tini sudah memberitahunya berkali-kali kalau perempuan itu sudah pergi.


Pedang kebanggaan Arnette sudah tidak ada artinya memang Agam ditinggalkan.


"Ini bahkan belum seminggu," gumam Agam dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa tidak berpamitan padaku?"


Tini mencoba menghibur bestienya itu. "Jangan menangis, aku akan ikut sekolah lagi dan memberi contekan!"


"Bukan masalah itu sekarang tapi istriku pergi," balas Agam.


"Apa kau menyukainya?" tanya Tini.


Agam tidak bisa menjawab tapi dia mulai terbiasa dengan Arnette, dia tidak mau pernikahannya hanya sebatas seminggu.


"Sudah aku duga," lanjut Tini karena tidak kunjung mendapat jawaban. "Kau harus melupakan istrimu itu!"


"Aku tahu kalau kau tidak menyukai istriku tapi aku juga tidak suka kau berkata seperti itu," balas Agam dengan gusar. "Lebih baik kau pergi!"


"Aku mengatakan itu karena peduli padamu, istrimu itu hanya memanfaatkanmu saja," tambah Tini. Dia jadi mengingat masa lalunya yang kelam.


"Dia berasal dari dimensi lain dan mengincar sesuatu darimu!"


Agam juga tahu akan hal itu, dia harus mencari pemburu hantu untuk mencari jawaban. "Aku akan berusaha mencari jawaban sendiri!"


"Kau pasti akan kecewa," Tini tidak setuju.


"Kita lihat saja nanti," balas Agam.


...***...


"Jennie in your area..." Megan menimang cucu barunya yang baru saja meminum susu dari ibunya. Bayi perempuan itu memang bernama Jennie.


"Apa sudah tidur, Bu?" tanya Ara.


"Kau istirahat saja biar ibu yang urus Jennie," balas Megan. Dia keluar kamar supaya Ara bisa beristirahat.


"Arnette..." panggil Megan di depan kamar anak laki-lakinya.


Tak lama pintu dibuka oleh Agam dengan wajah kusut.


"Kau kenapa?" tanya Megan. "Di mana Arnette?"


"Ibu..." Agam memeluk Megan yang membuat baby Jennie terhimpit di tengah. "Istriku pergi!"


"Pergi ke mana? Bukankah masih dua hari lagi?" tanya Megan tidak percaya. Dia tahu kalau kepergian Arnette akan segera tiba sesuai kesepakatan di antara mereka.


Namun, Megan rasanya belum rela karena masih ingin dekat dengan perempuan itu.


"Dia pergi tanpa berpamitan," jelas Agam.


Megan pikir kalau Agam akan bahagia karena terbebas dari Arnette tapi ternyata dia salah. Anak laki-lakinya tampak kehilangan.


"Apa kau sedih kehilangan istrimu?" tanya Megan memastikan. Dia tahu bagaimana beberapa hari lalu Agam yang menolak lamaran dari Arnette.


"Kenapa ibu bertanya hal seperti itu?" Agam bertanya balik. "Bagaimana aku baik-baik saja ketika ditinggal istriku!"


Megan masih menimang baby Jennie dan baru sadar akan sesuatu. "Apa kau memakai pengaman?"


Dia pikir Arnette terobsesi pada Agam dan berpengalaman dalam urusan ranjang.


"Maksud ibu apa?" Agam jadi malu jika membicarakan urusan pribadinya.


"Atau Arnette yang memakai pengaman?" Megan terus mencecar Agam untuk memastikan sesuatu.


"Ibu..." protes Agam karena Megan justru terus menanyakan hal pribadinya daripada bersimpati dengan Arnette yang tiba-tiba pergi dan menghilang entah sampai kapan.


"Ini penting karena kalau diantara kalian tidak ada yang memakai pengaman, bisa saja Arnette mengandung anakmu," jelas Megan dengan menggebu-gebu.


Agam membelalakkan mata karena baru menyadari hal itu, sepertinya dia mulai bisa menebak apa tujuan Arnette mengajaknya menikah dan terus berhubungan badan.


"Mengandung anakku?" gumam Agam seraya mengacak rambutnya.