
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Theo.
Setelah Theor tidur, dia memanggil dokter yang berjaga di klinik desa. Pak kades memanggil dokter itu untuk memeriksa keadaan cucunya.
"Keadaannya baik, pak kades. Hanya saja anak itu butuh istirahat karena kelelahan, saya akan memberikan vitamin," jawab dokter.
Dokter memberikan beberapa vitamin untuk dikonsumsi Theor nantinya. Setelah itu dokter pamit undur diri.
Sementara Megan masih memandangi wajah Theor yang tertidur dengan pulas. Perempuan itu menciumi tangan Theor yang terluka.
Memikirkan cerita Theor sebelumnya, hati Megan begitu sedih, entah bagaimana cucunya bertahan hidup selama ini.
"Nanti dia terbangun, sayang. Lebih baik kita keluar," tegur pak kades.
"Tidak mau," tolak Megan. Dia tidak mau meninggalkan cucunya. "Aku akan bersama Theor di sini!"
Sebenarnya hati Theo juga tidak tenang seperti Megan apalagi Agam belum ada tanda-tanda kembali.
"Sepertinya portal waktu selalu mengarah ke sawah, kalau begitu aku akan menunggu Agam di sana," ucap Theo berpamitan.
Di desa Suka Maju sudah malam hari tapi Theo tetap pergi ke sawah untuk menunggu kedatangan putranya. Dia yakin jika Agam akan pulang.
...***...
Arnette memandangi wilayah Bavaria dari atas bukit, dia tidak pernah berpikir akan meninggalkan tempat di mana perempuan itu tumbuh selama ini.
"Kapten..." panggil Tristan yang mendatangi Arnette ke atas bukit.
Perempuan itu menoleh ke arah Tristan dengan terkekeh pelan.
"Aku bukan kapten lagi," ucap Arnette. Dia mengambil pedang suci yang dibawanya lalu memberikannya pada Tristan.
"Mulai sekarang tanggung jawab itu ada padamu," lanjutnya.
"Kapten?" Tristan tidak menyangka kalau Arnette akan memberikan posisi sword master padanya.
"Yang Mulia akan mengadakan upacara peresmian untukmu nanti," ucap Arnette lagi.
Dari kalimat itu, Tristan sudah bisa menyimpulkan sendiri bahwa Arnette akan pergi untuk selamanya. Dia tidak bisa menahan sang kapten karena Arnette berhak bahagia.
"Sudah terjadi beberapa inkursi jadi lebih baik portal waktu tidak pernah dibuka lagi," ucap Ditrian.
"Aku juga tidak punya rencana untuk melintasi dimensi lain lagi," balas Simon.
"Kalau begitu..." Simon mengajak Agam untuk bersiap-siap.
Agam menghela nafasnya panjang, setelah ini dia akan menjalani kehidupan baru.
"Apa ini akan jadi pertemuan terakhir kita?" tanya Agam.
"Aku tidak tertarik berteman denganmu lagi," balas Simon dengan gelak tawa.
"Memangnya siapa yang mau berteman dengan pemburu hantu sepertimu," kesal Agam.
"Bukankah selama ini temanmu hantu?" Simon tidak mau kalah.
"Mengenai itu..." Agam jadi mengingat Tini. "Apa kau bisa menjaga Tini, setidaknya buat dia bisa tenang dan tidak gentayangan lagi!"
Level Simon sudah ditahap iblis dan sejenisnya tapi sekarang Agam justru memintanya menurunkan level untuk menangani kunti seperti Tini.
"Aku tidak bisa berjanji," balas Simon kemudian.
Menurut pengalaman Arnette, tempat mendarat nantinya adalah sawah pak kades. Arnette tidak boleh terjatuh ke lumpur lagi.
"Apa kalian semua sudah siap?" tanya Ditrian.
Agam menggandeng tangan Arnette dan memandangi wajah perempuan itu. "Aku siap!"
"Aku juga siap!" Arnette membalas pandangan Agam padanya.
Melihat mereka siap, Ditrian segera membuka portal waktu dan membiarkan pasangan itu pergi untuk memulai hidup baru mereka.
"Aaaa...." Arnette dan Agam berteriak ketika melewati portal waktu.
Agam memeluk Arnette dan mereka benar-benar mendarat di sawah pak kades.
Kali ini Arnette terjatuh di atas badan Agam.