The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 36 - Penusuk Jantung Iblis


"Theor..." panggil Arnette ketika kembali. Dia tidak mendapati anaknya berada di tempat sebelumnya.


Arnette jadi panik dan terus memanggil anak yang selama ini dia sembunyikan itu.


Tak lama terdengar suara Theor memanggil Arnette.


"Ibu..."


Arnette mencari sumber suara dan mendapati Theor bersama seseorang, otomatis dia mengeluarkan pedangnya karena takut orang itu berbahaya.


"Ibu, paman ini memberiku makan," ucap Theor supaya Arnette tidak salah paham.


"Bukankah ibu sudah bilang, jangan bicara pada orang asing," balas Arnette.


"Maafkan aku tapi aku lapar," Theor tampak menyesal dan berjalan mendekati ibunya.


Sementara sang pemburu mengangkat kedua tangannya karena dia memang tidak mau melawan.


"Saya tidak berniat jahat," ucapnya.


Pemburu itu mengamati Arnette dan mengenali perempuan itu. "Bukankah Anda kapten Arnette?"


"Tutuplah mulutmu! Karena kali ini aku mengampunimu," ucap Arnette. Dia harus bergegas pergi.


Tanpa sepatah kata pun lagi, Arnette menggendong Theor dan meninggalkan sang pemburu. Dia tidak sadar kalau pemburu itu ternyata adalah mata-mata.


"Anak haram yang mempunyai anak haram," gumam sang pemburu.


...***...


"Lain kali, jangan bicara pada orang asing manapun," Arnette kembali memberi peringatan pada putranya.


Theor menganggukkan kepalanya. "Tidak ada yang boleh dipercaya selain ibu!"


"Bagus," balas Arnette. Sebenarnya Theor memang anak penurut.


Dan setiap melihat wajahnya yang tampan selalu mengingatkan Arnette pada Agam.


"Makanlah, setelah itu kita lanjutkan perjalanan," Arnette kemudian memberikan makanan pada putranya. "Ini sudah aman dan tidak beracun!"


Karena tadi hanya memakan buah saja, Theor segera mengambil roti pemberian ibunya.


Saat Theor akan menggigitnya, dia teringat kalau Arnette juga belum makan sama sekali. Jadi, anak itu membelah rotinya jadi dua.


"Tidak apa-apa, makanlah," tolak Arnette.


"Aku tidak mau makan kalau ibu juga tidak makan," Theor memaksa.


Akhirnya Arnette mengalah dan mengambil roti pemberian Theor. Dia tidak memikirkan perutnya asalkan putranya bisa makan.


Ternyata begitulah seorang ibu.


Dulu saat Arnette memenangkan perang, dia akan mendapatkan bayaran emas atau wilayah tapi semenjak kekaisaran Bavaria kalah, dia tidak mendapatkan apapun.


Bahkan Arnette harus menjual semua hartanya untuk mengumpulkan sisa anak buah dan membuat camp untuk mereka.


"Ibu, kita mau ke mana?" tanya Theor saat mereka melanjutkan perjalanan.


"Kita akan ke camp dan melihat keadaan di sana," jawab Arnette. Dia berharap sisa pasukannya bisa bertahan sampai dia bisa membunuh Kane.


Kane selama ini susah untuk dibunuh karena semakin kuat bahkan Arnette beberapa kali hampir kalah di tangan lelaki itu.


"Apa kau takut?" tanya Arnette.


"Tidak," jawab Theor percaya diri. Dia merasa sudah cukup terampil karena selalu dilatih oleh ibunya.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya Arnette sampai di camp nya. Para kesatria melihat kapten mereka tidak datang sendirian.


"Siapa dia, Kapten?" tanya mereka.


"Kalian pasti sudah mendengar kalau Kane melakukan cara licik dengan mencari tumbal dan sepertinya kita tidak bisa mencegahnya lagi jadi..." Arnette mengangkat Theor ke pundaknya.


"Perkenalkan namanya Theor, dia adalah anak yang bisa menusuk jantung raja iblis!"


Semua tidak percaya kalau penusuk jantung iblis adalah seorang anak-anak.


"Bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu?"


"Theor pasti bisa dan aku akan melakukan segala cara bahkan nyawaku sendiri untuk melindunginya," jawab Arnette.


Theor menatap Arnette di sana, dia tidak mau kehilangan ibunya. Walaupun kadang Arnette tidak bisa mengurusnya dengan baik tapi perempuan itu satu-satunya keluarga untuknya.


"Ibu, tidak boleh mati," batinnya.