The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 62 - Salam Perpisahan


Sebelum sampai istana, para penduduk Bavaria bersorak menyambut kedatangan Arnette dan para kesatria.


Perempuan itu tersenyum sambil memperhatikan para penduduk, mungkin hari ini terakhir kali Arnette akan melihat mereka.


Melepaskan tanggung jawab besar yang selama ini dipikulnya, sungguh keputusan yang berat bagi Arnette.


Namun, dia akan melakukan apapun demi Theor.


"Para kesatria sudah sampai, Yang Mulia," lapor salah satu penjaga istana pada kaisar Erik.


Sebelumnya keadaan istana sungguh mencekam, beberapa bangunan rusak karena para monster yang menyerang.


Karena senjata modern yang dibawa Agam, anak buah Arnette yang berjaga bisa membunuh para monster dan bertahan sampai raja iblis bisa dibunuh.


Kaisar Erik ingin melihat langsung, bagaimana rupa Theor yang notabene adalah cucunya sendiri.


Namun, keinginan itu tidak akan terwujud karena Theor tidak dibawa ke istana oleh Arnette.


Setelah perwakilan dari kota suci dan para penyihir menghadap kaisar Bavaria, mereka berpamitan untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.


Pasukan Aragon yang kalah akan dijadikan tawanan dan jika Aragon ingin pasukannya kembali, Kekaisaran itu harus membayar kompensasi.


Dengan begitu Kekaisaran Bavaria akan bisa memulihkan wilayah dan menjalankan serikat dagang dengan berbagai tambangnya.


"Kau akan mendapat wilayah dan besarkan wilayah itu bersama putramu," ucap Kaisar Erik pada Arnette.


Setelah acara perpisahan selesai, mereka berbicara empat mata.


"Maafkan saya tapi saya menolaknya," balas Arnette. Untuk pertama kalinya, dia menolak perintah dari Kaisar.


Dan hal itu membuat Kaisar Erik cukup terkejut.


"Saya ingin meninggalkan tanggung jawab saya," lanjut Arnette.


"Apa maksudmu?" tanya Kaisar Erik.


"Saya ingin hidup bersama suami dan anak saya, misi itu membuat saya bisa menemukan sebuah keluarga yang saya inginkan selama ini," jawab Arnette. Dia tidak akan menyesali keputusannya.


"Bukankah selama ini saya tidak pernah menolak permintaan, Yang Mulia? Saya selalu melakukan apapun perintah itu supaya saya bisa diakui tapi ternyata bukan hal itu yang saya cari..." Arnette menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Saya hanya ingin dicintai!"


Arnette memberikan minuman soda kaleng pemberian Agam yang belum dibuka. "Ini sebagai tanda perpisahan jadi biarkan saya pergi!"


"Arnette..." Kaisar Erik merasa bersalah. "Maafkan aku, aku berjanji akan mencintaimu!"


"Tidak perlu jika Yang Mulia ingin menebus kesalahan biarkan saya pergi dan..." Arnette meminta sesuatu yang dia inginkan selama ini.


Perempuan itu ingin mendapatkan pelukan dari ayah kandungnya dan memanggil laki-laki itu dengan sebutan ayah.


Kaisar Erik mengabulkan permintaan terakhir Arnette itu.


Sementara Agam menunggu Arnette bersama pangeran William dan Bastian.


Agam masih tidak mau menghormati mereka.


"Ternyata kalian cukup mampu untuk mempertahankan istana," komentar Agam.


"Apa kau masih meragukan kemampuan kami?" mereka jadi gusar.


"Tetap saja, aku tidak yakin untuk ke depannya. Tapi, aku tidak peduli karena aku akan membawa Arnette pergi jadi selanjutnya bukan tanggung jawab istriku lagi," ucap Agam.


Arnette yang menyusul mendengar itu semua, Agam memang tipe pendendam. Dia harus mengajaknya pergi sebelum pemuda itu berbuat hal lebih jauh lagi.


Dan benar saja, Agam mengacungkan jari tengahnya pada kedua pangeran itu.


"Apa yang kau lakukan?" tegur Arnette yang merasa perbuatan Agam itu tidak sopan.


"Ini salam perpisahan, istriku. Kau juga harus melakukannya," ucap Agam.


"Benarkah?" Arnette yang tidak mengerti ikut mengacungkan jari tengahnya pada kedua kakaknya di sana.


"Bagus, istriku," Agam tertawa dalam hatinya.