
Ranjang terus berderit, Agam dan Arnette membaur jadi satu. Walaupun berderit tapi ternyata ranjangnya memang kokoh jadi Agam tidak perlu khawatir.
"Ganti posisi, istriku," ucap Agam yang tidak mau cepat selesai. Dia akan memuaskan diri sebelum sibuk kuliah.
"Posisi yang bagaimana lagi?" Arnette merasa sudah dibolak-balik sedari tadi.
Kali ini Arnette diminta berdiri di pinggir ranjang dengan satu kakinya naik ke atas.
"Astaga, gaya apa lagi ini?" batin Arnette tidak habis pikir. Dia merasa jadi eksperimen suami bocilnya.
Walaupun begitu dia tetap suka, mereka bahkan menghabiskan malam berdua tanpa gangguan karena tidak ada Theor.
Keesokan paginya, Megan kehilangan anak dan menantunya karena mereka semua belum bangun tidur.
"Biar aku yang panaskan susu untuk Jennie," ucap Theo yang membantu istrinya mengurus bayi.
"Kalau begitu aku akan memandikan Theor dan Kai," balas Megan.
Pasangan yang tidak muda lagi itu membagi tugas, setelah cucu-cucu mereka mandi barulah mereka membuat sarapan.
"Aku sudah lama tidak membuat sandwich," gumam Megan.
Kalau Kai pasti sudah terbiasa makanan seperti itu tapi Theor masih asing.
"Tidak cuka?" tanya Kai pada Theor.
"Tentu saja suka, makanan buatan oma pasti enak," sahut Theor seraya mengigit sandwichnya.
Sementara Theo yang menyusui Jennie memakai botol disuapi oleh istrinya.
"Bukankah kita seperti kembali menjadi orang tua baru?" tanya Megan.
"Kira-kira kalau kita berjalan membawa ketiga cucu kita, apa orang-orang akan mengira kalau mereka anak kita?" Theo bertanya balik.
"Bagaimana kalau kita mencobanya?" usul Megan.
Setelah selesai sarapan, mereka pergi ke mall untuk membawa cucu mereka bermain.
Dan hal itu membuat Ara kehilangan anak-anaknya, dia bangun kesiangan karena dililit ular oleh Zester semalaman.
"Ini semua karena kau, Zee," kesal Ara. Dia menuju ke dapur untuk menaruh asi yang sudah diperahnya ke dalam kulkas.
Zester mengikuti langkah istrinya dan memeluk tubuh Ara dari belakang.
"Main lagi yuk, Yank. Aku akan meliburkan hari ini!" ajak Zester.
"Apa semalam belum puas? Pinggangku sakit," keluh Ara.
"Kita lakukan di dapur selagi tidak ada orang," Zester merasa belum puas dan ingin mengulang lagi penyatuan raga dengan Ara. Dia tidak tahu kalau masih ada Agam dan Arnette yang tertinggal.
"Jangan," Ara ingin menolak ketika Zester mulai meraba tubuhnya.
Pada saat itu, Agam keluar dari kamar dan ingin mengambil air minum tapi justru mendapati dua orang yang tengah bermesraan.
"Ehem!" Agam berdehem.
"Astaga, Mas Agam!" pekik Zester yang kaget.
"Jangan berbuat mesum di dapur orang," ucap Agam memberi peringatan.
"Ini namanya menabur cinta setiap hari," Zester memberi alasan.
Kalau dulu mungkin Agam tidak akan mengerti, tapi karena sekarang dia mempunyai istri dan anak, pemuda itu jadi paham.
"Ya, aku mengerti. Aku sudah menabur cintaku semalaman," balas Agam.
"Heleh, paling satu ronde sudah K.O!" sindir Zester yang merasa dia lebih unggul.
"Sorry kakak ipar, aku sampai membuat istriku terkapar di ranjang bersejarah," ucap Agam menyombongkan diri.
"Apa? Istri amazonemu terkapar?" Zester jadi kaget. Dia menatap Ara yang berdiri di sampingnya. "Ular mas Agam ternyata mematikan, Yank!"
_
Malah adu ular kalian, tetep kalah sama dedek Agam lu Zeeš¤£