
Selama seminggu ini, Pram menghabiskan waktu bersama Tini. Dia hanya keluar untuk membeli keperluan Tini dan bahan makanan.
Pram mengajari Tini cara menggunakan kompor listrik dan barang yang tidak dimengerti oleh gadis itu.
Perlahan-lahan Tini mulai paham dan melakukan tugasnya dengan baik.
Tini memasak dan Pram menyukai masakan gadis kampung itu. Yang paling membuat Pram betah, Tini tidak terlalu menuntut kecuali sesekali bertanya akan kondisi ibunya.
Dan jangan lupakan untuk urusan bercinta, Pram akan melakukan berulang kali dan tak kenal waktu.
"Jangan di sini!" Tini ingin menolak karena Pram mengajaknya bercinta di dapur.
"Tidak apa-apa," balas Pram yang tidak mau berhenti.
Pram tidak akan melakukan hal semacam ini kalau di rumah utamanya karena di sana banyak asisten rumah tangga dan istri pertamanya jarang mau disentuh.
Bukan hanya di dapur tapi setiap sudut ruangan di rumah itu sudah Pram coba, dia benar-benar merasa puas dengan istri kecilnya.
"Eugh! Pelumas panas mas Pram masuk lagi," lenguh Tini dalam hatinya.
Tini yang selama ini tidak pernah dekat dengan lelaki manapun sekarang jadi terbawa suasana dan timbul perasaan aneh setiap dekat dengan Pram.
Siapa yang tidak terbawa suasana jika setiap hari mereka bercinta dan menghabiskan waktu bersama.
"Perasaannya semakin aneh," batin Tini seraya memegangi dadanya pagi itu. Dia tengah menggosok gigi dan melihat pantulan bayangannya di depan cermin wastafel di kamar mandi.
Tiba-tiba Pram membuka pintu kamar mandi dah ikut menyikat giginya.
Tini yang hanya memakai handuk saja jadi malu luar biasa. Awalnya hanya dekat saja sudah membuat gelisah sekarang dia sungguh merasakan malu luar biasa.
"Kenapa bersikap malu-malu begitu? Aku sudah melihat semuanya," tegur Pram yang melihat gelagat Tini.
"Ti... tidak apa-apa," balas Tini dengan mencuci wajahnya yang terasa panas. "Saya akan keluar dan membuatkan kopi!"
Bukan hanya kopi tapi juga sarapan untuk suaminya.
"Apa mas Pram akan berangkat kerja?" tanya Tini.
Pram menganggukkan kepalanya. "Iya, aku sudah mengambil cuti selama seminggu ini jadi harus bekerja lagi dan...."
Lelaki itu ragu untuk melanjutkan kalimatnya namun Pram harus mengatakannya.
"Aku harus pulang ke rumah utama!"
Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, Tini tahu maksud Pram yaitu mendatangi istri pertamanya.
Walaupun hatinya sakit tapi Tini sadar diri akan posisinya yang tidak lebih dari seorang simpanan.
"Nanti pakdhe mu akan kemari untuk membawa ponsel supaya aku bisa menghubungimu dan kau bisa menjenguk ibumu sesekali," lanjut Pram.
Tini hanya bisa menganggukkan kepalanya menurut.
Inilah yang disukai Pram, Tini selalu menurut dan tidak banyak tuntutan yang membuatnya tertekan.
"Jaga diri baik-baik," ucap Pram berpamitan sebelum pergi.
Tini memeluk suaminya itu dengan erat, dia tidak mengucapkan sepatah katapun karena takut air matanya yang sedari tadi dia tahan akan jatuh.
"Tenang saja, aku akan datang lagi kemari," Pram berusaha menghibur.
Setelah kepergian Pram hari itu, Tini hanya bisa menunggu dan menahan rindu setiap harinya.
Dan sesibuk dan selelah apapun, Pram selalu berusaha menghubungi dan memberi kabar pada Tini.
"Lagi kasmaran ceritanya," tegur Maia. Istri pertama Pram yang melihat suaminya sekarang lebih banyak tertawa di layar ponsel.
"Ingat ya, kalau sampai waktu dua bulan gadis itu tidak hamil artinya kau harus menceraikannya, Pram!"