The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 21 - Di Atap Rumah


Setelah berendam di bathub kamar mertuanya, Arnette kembali ke kamar Agam. Perempuan itu melihat foto-foto yang dipajang di meja nakas kamar suaminya.


Terdapat foto keluarga pak kades dengan formasi lengkap.


"Istriku..." Agam tiba-tiba masuk ke kamarnya dengan membawa beberapa makanan.


"Aku tadi beli seblak dan cilok, kau pasti belum pernah memakannya!"


Agam membawa istrinya itu ke meja makan dan meminta Arnette mencoba makanan yang dia beli.


"Aku membelinya memakai koin emas dan penjualnya kesenangan," ungkap Agam.


"Jangan terlalu baik padaku," Arnette berusaha menolak kebaikan suaminya. Dia tidak mau terbawa suasana.


"Ini hanya seminggu dan sisa empat hari lagi, jadi lakukan tugasmu dengan baik!"


Agam mengerutkan keningnya karena Arnette kembali bersikap galak. "Memangnya kenapa kalau hanya seminggu, sudah tugas suami menyenangkan hati istrinya. Apalagi istriku suka makan," balasnya.


Pemuda itu membuka seblak dan meminta Arnette mencobanya.


"Makanlah!"


Arnette kembali merasakan masakan baru dengan hati sulit diartikan, di sini dia mendapatkan banyak perhatian. Betul kata Simon kalau keluarga Agam adalah keluarga yang penuh dengan kasih sayang.


Malam itu, Arnette tidak bersemangat membuat anak. Dia memilih naik ke atap rumah pak kades dan melihat langit dari atas sana.


"Sudah hampir setahun," gumam Arnette. Memang di dunia Agam masih hitungan hari tapi di dunia Arnette sudah hampir setahun semenjak dia tinggal.


"Bagaimana keadaannya sekarang? Apa aku sudah bisa kembali?"


Namun, rasanya masih sulit melepas kasih sayang yang dia dapatkan di sini, hal yang tidak bisa dia dapatkan di dunianya.


"Apa aku boleh serakah sedikit saja?" Arnette mengulurkan tangannya ke langit malam.


Sementara Agam sedari tadi di kamar mencoba membujuk Tini untuk keluar karena dia ingin bicara.


"Tini... Tini..." panggilnya di depan jendela yang mengarah ke pohon mangga.


"Istriku..." Agam terus memanggil Arnette sampai mendapati perempuan itu yang duduk di atas atap rumah.


"Apa yang kau lakukan di sana?"


"Aku sedang melihat langit dari atas sini," jawab Arnette.


"Tidurlah, malam ini kita libur membuat anak!"


Pasti terjadi sesuatu sampai Arnette yang maniak bisa minta libur. Jadi, Agam berusaha menyusul istrinya dengan menaiki tangga.


"Kenapa kau suka melakukan hal ekstrim begini?" keluh Agam seraya duduk di samping Arnette.


Sejenak keduanya terdiam sampai Arnette bertanya sesuatu.


"Apa kau sebelumnya punya kekasih?" tanyanya.


"Tidak ada, kau perempuan pertama yang menjalin hubungan sekaligus mengambil keperjakaanku," jawab Agam.


Mungkin memang garis takdirnya semua hal ini terjadi, karena keturunan Agam yang bisa menyelamatkan dunia.


"Aku tidak tahu, apa yang sedang kau pikirkan, apa yang sedang kau rencanakan tapi yang jelas aku akan selalu ada di pihakmu karena suami istri adalah satu kesatuan," lanjut Agam.


Terdengar naif karena yang mengatakan hal semacam itu, pemuda yang usianya baru tujuh belas tahun.


Tapi, Arnette merasa tenang mendengarnya.


Dia baru sadar kalau hubungan mereka sekarang tidak hanya sebatas membuat anak.


"Apa sekarang waktunya ciuman?" Arnette mengelus pipi Agam dan mengecup bibir suami kecilnya itu. Dia ingin fokus pada cara Agam menatap dan memberi perhatian padanya.


Hal itu lagi-lagi dilihat oleh Theo yang baru saja pulang, pak kades sampai menggelengkan kepala melihat anak laki-laki dan menantunya yang berciuman di atap rumah.


"Aku harus stok obat sakit kepala," gumam Theo. Apalagi menantu bule lokalnya juga akan datang.