
Agam kembali melakukan rutinitas seperti biasanya, dia harus sekolah karena dia akan menghadapi ujian.
Saat ke kota nanti pasti Agam akan melakukan medical check up supaya lebih tahu kondisinya setelah berperang.
Bukan hanya dirinya tapi Arnette dan Theor harus melakukan pemeriksaan yang sama. Oleh karena itu, dia harus segera ujian supaya bisa cepat pergi ke kota.
"Tabunganku ada berapa?" gumam Agam seraya mengecek saldo di rekening dengan internet banking.
Uang dari Arnette waktu itu sudah habis dibelikan senjata dan sekarang dia belum bekerja.
"Tidak perlu khawatir," Theo sepertinya mengerti kegelisahan yang dialami oleh putranya. "Ayah sudah mempersiapkan biaya untuk kuliahmu, Arnette dan Theor juga menjadi tanggungan ayah sekarang!"
"Walaupun ayah tidak menerima job manggung lagi tapi penghasilan di pabrik beras masih bisa untuk menopang hidup kalian, ayah bahkan berencana membuatkanmu rumah di samping," lanjut pak kades.
"Kami akan tinggal di kota jadi tidak perlu membuat rumah, lagipula di samping ada rumah Tini? Apa ayah akan menebang pohon mangganya?" tanggap Agam.
"Kau masih memikirkan teman hantumu?" tanya Theo.
Agam tidak bisa menjawab, hidupnya yang sekarang memang lebih tenang tapi ada kalanya dia juga rindu berinteraksi dengan bukan manusia.
"Rumah itu sebagai investasi, kalian pasti akan sering berkunjung kemari, bukan?" jelas Theo.
Benar juga, keadaan sudah berbeda, Agam sudah memiliki keluarga sendiri sekarang.
"Aku pasti kuliah dengan baik, ayah. Setelah itu kita bisa mengembangkan bisnis kebun sawit kita," ucap Agam.
Theo menghela nafasnya panjang, semoga saja semua berjalan dengan baik dan hal itu membutuhkan proses panjang.
"Lulus sekolah dulu baru kita bicarakan hal lainnya," balas Theo.
Pada saat itu, Theor ingin memanggil ayahnya untuk sarapan dan anak itu terkejut dengan penampilan Agam yang memakai seragam.
"Iya, bagaimana penampilan ayah?" Agam bergaya dengan memakai seragam sekolahnya itu.
"Ish, cepat berangkat nanti terlambat," timpal Theo sambil melihat jam di dinding.
Pagi itu, Megan membuat nasi goreng tapi Agam tidak makan karena memberikan jatahnya untuk Theor.
"Makan yang banyak, ayah sudah terlambat," ucap Agam seraya menggeser piringnya.
Kemudian Agam mencium puncak kepala Arnette untuk berpamitan sekolah.
"Aku berangkat dulu, aku akan cepat pulang, istriku," ucap Agam yang membuat Megan langsung tersedak.
Megan belum terbiasa melihat Agam yang jadi bersikap manis pada perempuan seperti itu ditambah anak laki-lakinya yang masih memakai seragam putih abu-abu.
"Ini belum seberapa, sayang. Kau harus menguatkan mental untuk selanjutnya," tegur Theo. Dia memberikan air putih pada istrinya itu.
Memang benar apa yang dikatakan oleh pak kades karena gosip mengenai Agam sudah mulai tersebar. Lambe turah budhe Juminten sungguh dahsyat hanya hitungan jam gosip Agam yang akan menikahi janda anak satu membuat heboh satu kampung Suka Maju.
Bahkan sudah sampai ke telinga teman-teman sekolah Agam.
"Apa itu benar?" teman-teman Agam bertanya pada pemuda itu supaya pasti.
Agam menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia lalu membenarkan berita itu.
Anak-anak perempuan di kelas Agam berteriak histeris karena selera Agam adalah janda anak satu.
Bukan hanya teman sekelas tapi adik-adik kelas yang mengagumi Agam selama ini mengalami patah hati masal.
"Mau bagaimana lagi, aku suka perempuan matang," ucap Agam supaya meyakinkan.