The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 41 - Kesempatan


"Malaikat yang diusir dari surga?" gumam Theor. Dia merasa tidak masuk akal tapi melihat Agam yang tiba-tiba datang dan membawa benda asing itu, Theor sedikit percaya.


"Kenapa paman bisa diusir dari surga?"


"Karena aku tidak penurut," jawab Agam. Dia berusaha menahan diri dan mencari alasan supaya Theor mau berteman dengannya.


Agam tidak akan gegabah sebelum Arnette sendiri yang mengakuinya sebagai ayah dari Theor.


"Apa itu benda dari surga?" tanya Theor yang melihat granat di tangan Agam.


"Iya, apa kau mau melihatnya dari dekat? Kau boleh menggunakannya," ucap Agam. Dia berharap Theor akan luluh.


Dan benar saja anak itu perlahan maju mendekat padanya karena penasaran.


Ketika sudah dekat, Agam mengamati wajah Theor dengan seksama, tidak salah lagi anak itu adalah darah dagingnya.


"Kalau kau menjaga rahasiaku yang diusir dari surga, aku akan memberikan benda ini dan mengajarimu cara memakainya," ucap Agam.


"Baiklah, aku akan menjaga rahasia, paman malaikat," Theor langsung setuju. Dia baru tahu ada senjata selain pedang, pisau atau panah yang dia pelajari selama ini.


Agam pun memberikan satu granatnya pada Theor. "Ini namanya granat, ini hanya bisa digunakan sekali saja!"


"Granat?" Theor merasa takjub dan mengamati granat yang ada di tangannya. "Aku menyukai benda surga ini!"


"Kemarilah, aku akan mengajarimu," Agam meminta Theor untuk membalik badannya.


Dari belakang Agam mengajari anak itu cara menggunakan granat, dia menarik tuas granat kemudian melemparnya.


"Kau harus menjaga jarak dari granat karena benda itu akan meledak dalam beberapa detik saja," jelas Agam.


Saat granat itu meledak, Theor merasa terkejut dan refleks membalik badannya untuk memeluk Agam. Untuk pertama kalinya ayah dan anak itu saling berpelukan.


Theor merasakan sesuatu yang aneh.


Langkah Arnette terhenti karena secara tiba-tiba Simon muncul.


"Kau sama sekali tidak menua," komentar Arnette.


"Kenapa kau membawanya kemari? Kau tahu dia adalah ancaman, bukan?"


Simon yang sebelumnya berdiri, duduk di sebuah kursi di tenda pribadi Arnette itu. Dia mengamati tempat yang jauh dari kata layak itu.


"Jadi, ini tempat untuk sword master yang akan menyelamatkan dunianya?" tanya Simon. Dia justru mengalihkan pembicaraan.


"Kau berhak hidup lebih baik setelah apa yang kau lakukan selama ini!"


"Jangan ikut campur dengan urusan yang tidak kau ketahui," kesal Arnette karena pemburu hantu itu masuk ke ranah pribadinya.


Ternyata setelah bertahun-tahun berlalu, perempuan itu masih saja keras kepala.


"Agam juga mempunyai pilihan jadi aku membantunya kemari, jangan pernah mengusirnya karena kita bisa saja memanfaatkan stigma iblis itu," jelas Simon.


"Aku pikir keadaanmu tidak baik-baik saja, bukan?"


Arnette merendah, dia ikut duduk dan mencoba berbicara pada Simon dengan kepala dingin.


"Aku tidak bisa mencegah raja iblis untuk muncul lagi, yang bisa aku lakukan sekarang adalah mempersiapkan Theor dengan sebaik mungkin," ucap Arnette.


"Sebenarnya kami kemari tidak dengan tangan kosong, kami membawa senjata modern dan aku yakin itu bisa mengecoh lawan. Apa kau mau mengajak kami bergabung?" Simon melakukan negoisasi.


Sepertinya tidak ada salahnya mencoba, Arnette akan membiarkan Simon dan Agam ikut bergabung dalam pasukannya.


"Tapi, jika dia menjadi ancaman, aku tidak akan segan-segan membunuhnya!" tegas Arnette.


"Dia yang kau maksud itu hampir gila selama dua bulan ini setelah kau tinggalkan. Jadi, beri Agam kesempatan untuk membuktikan dirinya," balas Simon.