The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 73 - Untuk Bestie


Walaupun istrinya sangat barbar tapi perempuan itu juga memiliki sisi lembutnya. Contohnya, Arnette tidak mau mengganggu Agam yang sibuk belajar mempersiapkan diri untuk ujian.


"Ini berikan untuk ayahmu," ucap Arnette seraya memberikan kopi panas buatannya pada Theor.


"Kenapa tidak ibu saja yang memberikannya sendiri?" tanya Theor.


"Ibu tidak mau mengganggu ayahmu, dia harus cepat lulus sekolah," jawab Arnette.


Selagi menunggu Theor kembali dari kamar Agam, Arnette melihat serangkaian skincare yang diberikan Megan padanya.


Jujur saja dia tidak bisa membaca apalagi kalau memakai bahasa Inggris. Tapi, Megan sudah memberi tanda di setiap skincare yang diberikan berupa angka.


"Ternyata menjadi wanita normal sangat susah," keluh Arnette. Dia memakai rangkaian skincare itu satu persatu.


Itu baru rangkaian saat malam dan siangnya berbeda lagi.


Kalau kau tidak memakainya, Agam akan berpaling ke perempuan lain


Perkataan Megan itu mampu membuat Arnette bertekad untuk menjadi cantik. Tidak dipungkiri kalau Agam masih muda dan tampan pasti banyak yang menggilai anak pak kades itu.


Sebenarnya Arnette merindukan Agam, karena ujian mereka harus tidur terpisah.


Tapi malam itu, diam-diam Agam nekat masuk ke kamar di mana Arnette tidur dengan Theor.


"Istriku..." bisik Agam di telinga Arnette.


Perempuan itu langsung terbangun dan mendapati Agam yang tersenyum padanya.


"Ayo ke kamarku!" ajak Agam.


"Kenapa? Bukankah kita dilarang satu kamar?" tanya Arnette.


Memang Theo dan Megan menjaga ketat mereka supaya tidak menghabiskan malam bersama sementara waktu.


"Tidak apa-apa, semua orang sudah tidur," ucap Agam memaksa.


Sebelum keluar kamar, mereka memastikan kalau Theor sudah tidur dengan lelap. Anak itu semenjak merasakan kasur yang empuk tidurnya sangat nyenyak apalagi Megan selalu membuat perut cucunya kenyang.


"Pelan-pelan," Agam berusaha tidak menimbulkan suara apapun bahkan hati-hati sekali ketika menutup pintu kamar.


Setelah mereka masuk kamar, Agam langsung memeluk dan mencium istrinya. Arnette yang sekarang jadi begitu wangi karena perawatan.


"Aku tadi sudah memakai skincare malam," protes Arnette.


"Besok aku akan ujian jadi butuh vitamin," ucap Agam modus.


Agam memberi kode dengan membuka kancing piyama yang dikenakan Arnette. "Vitamin dari sumbernya!"


"Ish," Arnette tidak bisa menolak permintaan Agam itu.


Mereka bergulat di atas ranjang sampai kelelahan malam itu, keringat keduanya membaur jadi satu dan kamar Agam didominasi oleh suara erangan.


Rasanya kepala Agam langsung plong setelah menuntaskan hasratnya yang membara.


"Terima kasih, istriku. Aku besok pasti bisa mengerjakan soal dengan baik," ucap Agam bersemangat.


Biasanya dia tidak perlu belajar dan merasa cemas karena ada Tini yang membantunya tapi sekarang sudah ada Arnette yang akan memberikan vitamin sebelum ujian.


Walaupun begitu tetap saja Agam merasa kesulitan ketika mengerjakan soal.


"Bagaimana ini?" gumam Agam sambil menggaruk kepalanya.


Namun, hal tak terduga terjadi, dia merasa pensil yang ada di tangannya bergerak sendiri untuk mengisi jawaban.


"Tini?" batin Agam. Ternyata meskipun dia tidak bisa melihat teman hantunya itu, Tini masih membantunya.


Sebelum mengikuti Simon, Tini memang ingin melakukan hal terakhir untuk bestienya.


"Apa sudah selesai?" tanya Simon ketika melihat Tini keluar dari kelas Agam.


"Ujiannya selama tiga hari jadi aku akan menyelesaikan apa yang sudah aku mulai," jawab Tini.


Dan benar saja, Tini membantu Agam sampai hari terakhir ujian.


Di kertas coretan Agam, Tini menuliskan sesuatu sebelum pergi.


Selamat tinggal, terima kasih sudah menjadi temanku selama ini dan terima kasih karena menunjukkan cinta sejati padaku


Aku pergi


Tak terasa mata Agam jadi berkaca-kaca membacanya.


"Semoga kau bisa tenang, Tini," ucap Agam dalam hatinya.


_


Kok sedih ya pas ngetiknya😭 tunggu flashback cerita Tini ya ges, pokoknya pas mas Agam udah tamat jadi biar ceritanya gak campur2, hehe