The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 66 - Cucu Kesayangan


Megan yang sibuk di dapur mengalihkan atensinya karena melihat Theor keluar dari kamar.


"Theor!" panggilnya.


Anak itu mendatangi Megan di dapur dan memberitahu omanya kalau baru saja melihat perempuan aneh.


"Dia bisa terbang dan memakai baju putih," ucap Theor bercerita.


Tidak perlu dijelaskan lebih detail Megan bisa memastikan kalau yang dilihat cucunya adalah Tini.


"Apa yang dia katakan?" tanya Megan.


"Katanya orang tuaku sudah kembali, apa benar, Oma?" Theor tidak sabar menunggu jawaban.


Megan menganggukkan kepala. "Itu namanya Tini tapi jangan ganggu orang tuamu dulu!"


"Tini?" gumam Theor.


"Kemarilah!" Megan melambaikan tangannya.


Theor mendekat dan Megan mengangkat cucunya itu untuk duduk di meja pantry.


"Apa yang biasanya cucu oma makan?" tanya Megan.


"Apa saja, buah dan roti atau makanan lembek yang tidak enak," jawab Theor.


Megan mengerutkan keningnya, entah makanan apa yang dimaksud Theor itu, yang jelas mulai sekarang anak itu akan mendapatkan makanan enak.


"Makanlah ini dulu," Megan memberikan beberapa bakwan yang baru digorengnya. "Namanya bakwan!"


"Bakwan?" gumam Theor. Dia mengambil satu dan langsung memakannya. "Hm, ini enak!"


Theor menghabiskan beberapa bakwan yang masih hangat itu dan Megan sangat menyukainya.


Pokoknya Megan jadi bernostalgia seperti merawat Agam yang masih kecil.


"Opa ada di balai desa nanti pasti cepat pulang bersama para sepupumu," jelas Megan.


"Sepupu?" tanya Theor yang tidak mengerti.


"Jadi, ayahmu mempunyai kakak perempuan dan keluarga mereka akan datang kemari," balas Megan berusaha menjelaskan.


"Apa aku bisa bermain bersama mereka?" tanya Theor.


Megan jadi bingung harus menjawab apa karena pada kenyataannya, Theor jadi lebih tua walaupun lahir belakangan.


"Ayo kita mandi dulu!" ajak Megan mengalihkan pembicaraan.


Theor yang sebelumnya memang penurut, mengikuti Megan dan mandi dengan banyak busa, badannya jadi wangi dan dia menyukainya.


"Kapan ayah dan ibu akan bangun, Oma?" tanya Theor.


"Apa kau merindukan mereka?" tanya Megan balik.


"Tentu saja, aku ingin tahu apakah raja iblis benar-benar mati," jawab Theor.


Tangan Megan langsung gemetaran mendengarnya, dia tidak mau cucunya memikirkan hal semacam itu lagi.


"Di sini tidak boleh berbicara seperti itu, setelah ini Theor harus sekolah dan bermain dengan anak-anak lainnya," ucap Megan.


"Sekolah?" gumam Theor. Dia tidak pernah melakukan hal itu karena harus hidup bersembunyi.


"Belajar membaca dan menulis lalu belajar banyak hal, seperti menggambar dan bernyanyi, pokoknya banyak dan Theor pasti suka," balas Megan. Dia mengambil handuk dan langsung membungkus tubuh kecil Theor.


"Nanti Theor juga harus sunat," lanjutnya.


"Sunat?" Theor tidak mengerti. "Apa itu?"


"Itu burungnya dipotong," jawab Megan seraya menunjuk bagian bawah Theor.


"Aaaa...." Theor berteriak karena tidak bisa membayangkan kalau tidak punya burung.


Bukannya merasa bersalah, Megan justru tertawa melihatnya. Pasti Theor mengira kalau burungnya akan dipotong habis.


"Tidak mau, Oma," ucap Theor dengan kedua tangan melindungi sang burung.


"Aduh, tidak dipotong semuanya. Ini untuk kesehatan dan supaya bentuknya jadi bagus," jelas Megan.


Rupanya percakapan itu didengar oleh Theo yang baru saja pulang ke rumah, bisa-bisanya Megan membicarakan masalah burung pada Theor.


"Sayang, jangan membicarakan hal seperti itu," tegurnya.


Theo meraih Theor untuk dia gendong. "Opa dari tadi tidak bisa tenang berada di balai desa jadi izin pulang cepat!"


"Coba lihat yang Opa bawa!"


Theo membelikan banyak mainan kecuali pedang-pedangan.