The Red Moon

The Red Moon
Slide Story - Tini


Sebelum pergi ke kota, Tini menyempatkan diri untuk melihat ibunya terlebih dahulu. Ibunya mendapat perawatan dengan perawatan VIP yang membuat harapan Tini begitu besar untuk melihat ibunya sembuh.


"Ayo! Nanti kalau ada kabar pasti pihak rumah sakit menghubungi suamimu!" Pakdhe Rudi mengajak Tini untuk segera pergi.


Sekarang Tini hanya pasrah, dia pikir kalau akan menikah dengan lelaki tua yang mempunyai istri banyak tapi Tini salah. Karena ternyata calon suaminya masih terlihat muda dan gagah.


Umurnya sekitar 30 tahun dan seorang lelaki sukses dengan bisnis properti.


Namanya Pram Anggara, lelaki itu mempunyai istri yang sudah dinikahi selama dua tahun ini tapi mereka belum mempunyai keturunan.


Dan Pram terus dituduh mandul oleh keluarga istrinya.


Demi membuktikan tuduhan itu tidak benar, Pram meminta pakdhe Rudi untuk mencarikan gadis perawan untuk dia jadikan istri siri. Dan dia yakin pasti bisa membuat gadis itu hamil.


Tentu saja niat itu sudah disetujui oleh istri pertamanya karena istrinya juga meragukan kesuburan Pram.


Tempat nikah sudah disiapkan dan Tini didandani sederhana tapi masih terlihat cantik.


"Jangan takut," ucap pakdhe Rudi.


Untuk gadis yang masih berusia 17 tahun tentu saja itu hal menakutkan apalagi badan Pram yang tinggi besar membuat Tini seperti anak kecil.


Walaupun acara pernikahan itu dilakukan secara sederhana tapi acaranya terasa begitu sakral karena hanya ada beberapa orang saja di sana.


"Ayo pulang!" ajak Pram pada Tini ketika acara pernikahan mereka selesai.


Sedari tadi, Tini hanya diam saja sambil menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.


Sepanjang perjalanan pun Tini hanya diam saja sampai mobil yang gadis itu tumpangi masuk ke dalam rumah besar.


"Kita sudah sampai. Ayo turun!" ajak Pram lagi supaya Tini keluar dari mobil.


Tini keluar dari mobil dan matanya tidak berkedip melihat rumah yang ada di depannya saat ini. Dia sampai tidak sadar kalau kakinya tersandung, beruntung Pram dengan sigap menangkap istri kecilnya itu.


"Kenapa kau sangat ceroboh," kesal Pram.


"Akhirnya kau bicara juga," Pram akhirnya mengangkat tubuh Tini untuk masuk ke dalam rumahnya.


Rumah itu tampak sepi karena memang Pram tidak mempekerjakan asisten rumah tangga yang tinggal di sana. Karena memang rumah itu khusus untuk dirinya dan Tini.


Pram membawa Tini ke kamar utama dan meminta gadis itu untuk mandi.


"Mandilah!" perintah Pram.


Dengan patuh Tini masuk kamar mandi dan di dalam sana dia bingung karena tidak pernah menggunakan shower apalagi bathub.


"Ya ampun, ini kan kamar mandi seperti yang ada di iklan televisi. Bagaimana cara memakainya? Apa aku tanya saja pada suamiku," gumam Tini.


"Suamiku? Aaaa...." Tini rasanya sangat malu.


Tadi saat digendong saja dia rasanya mau pingsan.


Tini memutuskan untuk bertanya pada Pram daripada dia salah pencet dan kesetrum listrik.


"Kesetrum listrik bagaimana?" Pram menggelengkan kepalanya karena alasan Tini.


Lelaki itu akhirnya mengajari Tini caranya menggunakan shower dan caranya menyetel air hangat.


"Apa kau paham?" tanya Pram ketika selesai menjelaskan.


"Iya, saya paham," balas Tini. Dia sangat malu karena sebelumnya berpikir akan kena setrum.


"Jangan lama-lama," ucap Pram seraya berbisik pada telinga Tini. "Karena kita harus segera melakukan malam pertama!"


DEG!


Jantung Tini langsung berdebar mendengar kalimat itu.


"Apa maksudnya itu belah duren?" batin Tini takut.