
Inilah yang Arnette benci, dia akan lemah jika bersama Agam. Dia tidak boleh goyah tapi sentuhan pemuda itu memang begitu menggoda.
Dalam hati kecil Arnette, perempuan itu merindukan Agam.
Mungkin Agam hanya merasakan dua bulan saja kepergian Arnette tapi bagi perempuan itu sudah hampir enam tahun lamanya berpisah.
"Ya?" Agam terus meraba tubuh Arnette.
Sampai pemuda itu akhirnya bisa menjangkau bibir Arnette dan mereka kembali berciuman.
"Ibu..."
Suara itu membuat keduanya melepas ciuman, Arnette mendorong dada Agam supaya bisa menjauh. Dia selalu saja terbuai.
Tak lama Theor masuk dengan mengucek matanya karena mengantuk.
"Apa malam ini aku boleh tidur dengan paman malaikat?" tanya Theor.
"Tidurlah bersamanya," jawab Arnette cepat. Dia ingin Agam cepat pergi supaya dia terbebas dari suasana canggung.
Agam segera menggendong Theor untuk keluar dari tenda Arnette, dia akan memberi waktu perempuan itu untuk berpikir.
"Kita mau ke mana?" tanya Theor.
"Membuat tenda sendiri," jawab Agam seraya berjalan ke arah barang-barangnya. Dia juga membawa tenda sebagai perbekalan.
Lagi-lagi Theor dibuat takjub oleh benda-benda surga yang dibawa Agam. Tenda itu praktis, sekali tarik langsung terbuka.
"Ayo masuk!" ajak Agam.
"Sebentar," Theor berlari untuk mencari selimut.
Hanya beberapa menit saja anak itu kembali dengan selimut yang dicarinya.
"Malam di sini sangat dingin," ucap Theor seraya memberikan selimut itu.
Agam menerima selimut dari Theor lalu meminta anak itu untuk berbaring bersamanya.
"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Agam.
Tanpa menunggu jawaban dari Theor, Agam langsung memeluk anak itu. Dia harus membuat perhitungan pada kaisar karena membuat Theor seperti sekarang.
Agam harus membawa anaknya dan memberi kehidupan yang lebih baik.
"Paman malaikat, apa aku bisa pergi ke surga?" tanya Theor yang masih belum tidur.
"Tentu saja bisa, kau harus jadi penurut supaya bisa pergi ke sana," jawab Agam.
"Bagaimana dengan ibu? Apakah dia juga bisa ikut? Ibu satu-satunya keluarga yang aku miliki," ucap Theor.
"Di surga, kau akan memiliki banyak keluarga. Jadi, jangan khawatir dan ibumu..." Agam mengeratkan pelukannya. "Pasti ikut bersama kita!"
Perlahan Theor menutup mata dan akhirnya tertidur di pelukan ayahnya. Rasanya sangat hangat sekali.
Agam mengelus rambut dan mengamati wajah Theor, dia jadi memikirkan banyak hal dan tidak bisa tidur.
Pemuda itu memilih keluar dari tendanya ketika Theor benar-benar pulas.
Saat baru keluar, Agam mendapati Arnette yang duduk di depan api unggun. Suasana tampak sepi karena sebagian pasukan Arnette tidur dan berpatroli.
Agam mengambil jaketnya untuk dia pakaikan pada Arnette yang tidak memakai baju zirah.
"Udaranya dingin," ucap Agam dari belakang.
Arnette menoleh ke belakang di mana Agam berdiri dan memakaikannya jaket. "Kau tidak tidur?"
"Aku tidak bisa tidur sama sepertimu," jawab Agam. Dia mendudukkan diri di samping Arnette.
Keduanya terdiam beberapa menit karena tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Sampai Arnette membuka suaranya.
"Aku sudah mendengar rencananya dari Simon," ucap Arnette kemudian.
"Tidak salahnya dicoba, bukan?" tanggap Agam.
"Apa kau yakin bisa mengendalikan stigma iblis itu?" tanya Arnette memastikan.
"Aku tidak tahu, yang jelas jangan mendorongku untuk menjauhimu atau Theor," jawab Agam. Dia tidak bisa berjanji untuk masalah yang satu ini.