The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 64 - Asah Pedang


Arnette memeluk Agam dengan erat, akhirnya mereka mendarat dengan selamat walaupun keadaan gelap gulita. Hanya sinar rembulan yang menjadi sumber pencahayaan di area sawah itu.


"Akhirnya," gumam Arnette.


Agam ingin membalas pelukan Arnette tapi keadaan mereka saat ini tengah berada di sawah, gelap pula.


"Istriku..."


Belum sempat Agam melanjutkan kalimatnya, ada sorot lampu senter yang mengarah pada mereka.


"Ayah..." Agam memanggil pak kades, orang yang dibalik sorot lampu senter itu.


Theo masih gemetaran dengan apa yang dilihatnya beberapa detik lalu, dia tengah berjalan ke pematang sawahnya dan tiba-tiba melihat ada portal waktu terbuka.


Dulu awal Agam bercerita bisa melihat makhluk halus dan selalu menangis, dia tidak percaya sama sekali. Sampai Agam perlahan-lahan membuatnya yakin kalau hidupnya bersinggungan dengan dunia lain.


Hari ini Theo melihat dengan mata kepalanya sendiri, anak laki-lakinya memang spesial. Siapa sangka hasil dari mabuk kecubung akan menjadi seperti itu.


"A... Agam?" Theo harus memastikan kalau itu adalah putranya.


"Iya, ini aku ayah," Agam segera berdiri dan membantu Arnette untuk bangkit.


Arnette tampak canggung di sana, dia merasa sudah bertahun-tahun tidak bertemu pak kades tapi Theo kelihatan masih muda seperti terakhir kali dia pergi.


Sebenarnya nama Theor memang Arnette ambil dari nama kakeknya.


"Apa ayah sudah menerima paket cucunya?" tanya Agam.


Mendengar pertanyaan itu, Theo yang sebelumnya terharu kini jadi buyar. Benar saja, dia mendapatkan cucu dari dimensi lain.


"Sebelum ada yang melihat, kita harus cepat pergi," ucap Theo kemudian.


Theo memberikan kain yang dibawanya untuk menutupi tubuh Arnette dan Agam. Biasanya dia memakai motor untuk pergi ke sawah tapi karena mempunyai firasat kalau Agam tidak pulang sendirian, Theo memakai mobilnya.


Di dalam mobil, Agam menarik Arnette ke dalam pelukannya. Mulai sekarang dia akan bertanggung jawab pada perempuan itu.


Namun, dia harus menunggu Agam dan Arnette tenang dulu.


"Kalian tidur di kamar Ara dulu, nanti ayah akan buatkan kamar khusus untuk Theor," ucap pak kades ketika sudah sampai rumah.


Mendengar suara mobil, Megan buru-buru keluar rumah, mulutnya tercekat melihat Agam dan Arnette kembali.


Syukurlah mereka selamat, itu hal yang paling penting.


"Ibu, jangan menangis," Agam memeluk Megan supaya berhenti mengeluarkan air mata.


Lalu pemuda itu merangkul Arnette yang berdiri di sampingnya.


"Aku membawa menantu ibu kembali," lanjutnya.


Kini Megan bergantian memeluk Arnette, kedua perempuan itu justru menangis bersama tanpa sepatah katapun.


Sesuai kata pak kades sebelumnya, Agam dan Arnette istirahat di kamar Ara terlebih dahulu.


Rasanya sudah berhari-hari Agam pergi tapi ternyata memang benar kalau di dunianya belum ada 24 jam berlalu.


"Kita harus mandi dulu, istriku!" ajak Agam.


"Aku ingin melihat Theor," tolak Arnette karena memikirkan keadaan putranya.


"Theor baik-baik saja, kita jangan mengganggunya dulu," ucap Agam seraya membuka lemari untuk mencari handuk.


Sepertinya yang dikatakan Agam memang benar, Arnette akan menunggu keesokan hari ketika suasana sudah kembali kondusif.


Rumah pak kades tidak banyak berubah jadi Arnette masih sedikit hafal bagaimana hidup di sana.


"Aku akan mandi duluan," ucap Arnette.


"Kita mandi bersama saja, sepertinya kau harus mengasah pedang sebentar, istriku," balas Agam nakal.