
Hari terakhir ujian, Agam buru-buru pulang karena tidak sabar bertemu istri dan anaknya. Rencananya dia akan membawa mereka berjalan-jalan.
Namun, pak kades melarang kalau belum ada pesta pernikahan.
Menunggu pengumuman kelulusan dan ijazah membutuhkan waktu jadi sebelum itu, pak kades akan mengadakan pesta pernikahan untuk Agam dan Arnette.
Di rumah pak kades jadi ramai karena para ibu-ibu membantu bu kades mempersiapkan pesta.
Padahal Megan lebih suka memesan wedding organizer saja supaya praktis tapi namanya hidup di kampung sukanya bergotong-royong.
Selain membantu pak kades yang akan ngunduh mantu, para ibu-ibu Suka Maju sangat penasaran bagaimana rupa janda anak satu yang bisa memikat hati Agam.
Pada saat itu, Arnette tengah membantu untuk memotong ayam, perempuan itu menggunakan keahliannya memakai benda tajam.
Hanya hitungan menit, ayam yang jumlahnya puluhan bisa terpotong dengan baik, dulu dia sering melakukannya ketika membagi jatah makanan para kesatria.
Ternyata selera anak laki-laki pak kades adalah wanita perkasa
Arnette tidak peduli digosipkan seperti apa, dia sudah mengalami hal yang jauh lebih menyakitkan daripada ini. Bagi Arnette yang terpenting bisa selalu bersama Agam dan Theor.
Puas melihat Arnette kini giliran Theor yang menjadi buah bibir.
Bukankah anak itu mirip dengan anak pak kades?
Kalau ditarik mundur ke belakang, tidak mungkin Agam yang berusia 12 tahun sudah bisa menghasilkan anak. Jadi, mereka semua meyakini kalau Theor memang anak Arnette.
Mungkin karena anak itu mirip dengan Agam maka dari itu anak pak kades langsung jatuh cinta
Agam ingin memuliakan janda
Wah, so sweet...
Mendengar semua itu, Agam jadi geleng-geleng kepala, dia takut kalau Arnette akan tersinggung.
"Tahan ya, kalau hidup di kampung memang seperti ini. Nanti kalau kita pindah ke kota akan berbanding terbalik, tidak ada yang suka mengurus kehidupan pribadi orang lain," ucap Agam pada Arnette. Dia berusaha memberi pengertian.
"Kau pikir aku akan terpengaruh? Aku sama sekali tidak masalah," balas Arnette.
"Dan istriku..." Agam agak takut mau mengatakannya. "Kau harus lebih bersikap lembut padaku, orang-orang harus percaya kalau kita saling jatuh cinta!"
Arnette mengerutkan keningnya dalam sekali, dia tidak mengerti harus berbuat seperti apa supaya terlihat jatuh cinta pada Agam.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Arnette.
"Itu..." Agam menautkan kedua jari telunjuknya karena malu mau mengatakannya. "Panggil aku seperti sebelumnya!"
"Ah," Arnette jadi paham sekarang. "Maksudnya mau dipanggil mas Agam?"
"Baiklah, kalau begitu!"
Tanpa Agam duga, Arnette langsung menggendongnya di pundak dan menunjukkannya pada ibu-ibu yang sedang merewang.
"Aku jatuh cinta sama Mas Agam," ucap Arnette dengan percaya diri.
"Bukan seperti ini," Agam menangis dalam hatinya.
Bagaimanapun juga, Arnette masih beradaptasi dengan kehidupan barunya jadi Agam harus mengerti dan mengajarinya banyak hal.
Pesta pernikahan yang digelar tidak besar-besaran seperti pesta pernikahan Ara dulu, pak kades hanya mengundang yang dekat-dekat saja.
"Bagaimana?" tanya Theo pada Zester yang kembali lagi ke kampung.
"Tenang saja, ayah mertua. Semua masih dalam proses," jawab Zester. Dia sudah mengurus dokumen Arnette dan Theor tapi semua membutuhkan waktu.
"Bagus," tanggap Theo. Ternyata mempunyai menantu banyak uang dan kekuasaan memang ada gunanya.
"Tapi, kami tidak bisa menginap hari ini, ayah mertua," ucap Zester meminta izin. Dia tidak sanggup harus melihat keluarga express adik iparnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Theo.
"Anu..." Zester jadi bingung bagaimana caranya menjawab. "Aku merasa mempunyai permasalahan jantung kalau lama-lama di kampung, lebih tepatnya tidak biasa melihat keluarga mas Agam!"
"Contohnya sekarang, pernikahannya didatangi oleh anaknya sendiri," lanjutnya.