
Theor memegang baju Arnette dengan erat ketika mereka masuk ke dalam lift, dia takut akan menghilang ke dunia lain seperti masuk portal waktu sebelumnya.
Sebenarnya ini pertama kali juga bagi Arnette masuk ke dalam lift. Tapi, perempuan itu harus menenangkan Theor supaya tidak takut.
"Tidak apa-apa," ucap Arnette seraya memegang tangan kecil Theor.
"Kita tidak akan kembali ke dunia kita, 'kan? Aku tidak mau melawan monster lagi," Theor sedikit mengalami trauma. Kadang anak itu masih suka bermimpi di medan perang.
Agam yang mendengar itu langsung membawa Theor ke gendongannya. "Kenapa bicara seperti itu? Kau ingat janjimu pada ayah?"
Anak itu menutup mulut dengan kedua tangannya, Theor berjanji pada Agam untuk tidak mengungkit masa lalu dan asal-usulnya.
"Ini namanya lift, ini fasilitas yang bisa kita gunakan untuk naik ke lantai atas gedung ini supaya lebih cepat jadi kita tidak perlu menggunakan tangga," jelas Agam.
"Ada juga yang namanya eskalator, seperti tangga berjalan," tambahnya.
Sepertinya Agam harus menunjukkan anak itu beberapa video dan mengajaknya berjalan-jalan.
Ketika pintu lift terbuka, Agam menarik tangan Arnette untuk keluar dengan dia yang masih menggendong Theor.
"Tempat tinggal kita berada di lantai paling atas jadi kita tidak mempunyai tetangga, namanya penthouse," jelas Agam.
Arnette mengangguk paham dan mengikuti langkah Agam yang akan membuka pintu unit penthouse mereka.
"Jangan lupa kata sandinya sebelum masuk," Agam memberitahu Arnette supaya bisa masuk sendiri ke unit yang akan mereka tinggali.
Saat masuk, suasana di dalam sana tampak rapi dan bersih. Semenjak tidak ditinggali, Ara yang mengurus tempat itu. Setiap seminggu sekali ada petugas kebersihan yang datang.
"Wah," komentar Theor merasa suka dengan tempat tinggal barunya.
Anak itu bisa melihat pemandangan kota dari dinding kaca yang ada di sana.
"Di sini Theor bisa memiliki kamar sendiri," ucap Megan seraya menunjukkan kamar pada Arnette. "Tenang saja, Ara akan membantumu nanti!"
"Baiklah," balas Arnette yang tidak tahu harus berkata apa. Walaupun dia merasa masih asing pasti lambat laun akan terbiasa.
"Nanti jangan lupa menghubungi Opa terus," ucap Theo yang pasti akan merindukan cucunya.
Selang satu jam, Ara datang bersama anak-anaknya jadi suasana semakin ramai.
Megan ingin memasak tapi dilarang oleh Ara.
"Zee akan membawa makanan, Bu. Bersantai saja dan jangan sibuk di dapur terus, kalau ibu ingin kencan dengan ayah malah lebih bagus," ucap Ara.
"Sudah punya cucu tiga begini, sudah malu kalau berkencan," balas Megan. Dia melihat kaca dan mengecek kerutan di wajahnya.
"Kerutannya tidak terlihat, masih cantik," komentar Ara.
"Tapi, ayahmu masih awet muda. Ibu kadang merasa insecure," keluh Megan.
"Zee saja selalu melakukan perawatan supaya tidak kalah dengan ayah mertuanya," ucap Ara dengan tertawa. Bahkan perawatan suaminya lebih lengkap daripada dirinya.
"Maka dari itu, ibu tidak mau ayahmu mengambil job manggung biar dia di kampung saja," Megan menjadi posesif. Dia tidak rela suaminya dikagumi oleh daun muda.
Pada saat itu, Theo bermain dengan ketiga cucunya.
Kaizen naik ke punggung opa gulanya dan Theor bermain dengan Jennie di ruang santai.
Sementara Agam dan Arnette di dalam kamar baru mereka.
"Sepertinya kasurnya lebih luas," komentar Arnette yang membaringkan diri di ranjang kamar utama.
Agam ikut membaringkan diri dan memainkan rambut Arnette. "Apa kau tahu istriku? Kalau ranjang ini dari jaman ibu muda dulu lalu turun ke mbak Ara jadi kita akan mengukir sejarah baru di sini!"
_
Jadi inget Megan ngajarin main lato2🤣