The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 54 - Kesatria Suci


Aku ingin ikut bersamamu setelah semua ini selesai jadi jangan mati!


Hal yang sangat ingin Agam dengar setelah perjalanan panjangnya ke dunia Arnette. Walaupun pernyataan cinta perempuan itu terdengar anti mainstream tapi Agam senang karena Arnette mau kembali padanya.


Agam terus berusaha melawan pengaruh dalam dirinya.


"Apa kau mendengarku?" tanya Arnette yang masih memeluk Agam dari belakang.


Bersamaan dengan itu, pasukan Arnette yang tersisa memanggil kapten mereka karena para monster mulai menyerang.


"Kapten!" panggil mereka.


Arnette melepas pelukannya dari Agam, dia harus membantu pasukannya tapi dia juga tidak bisa membiarkan Agam mengejar Theor.


Akhirnya Arnette menyeret Agam dan mengikat pemuda itu supaya tidak kabur.


"Kau pikir bisa mengikatku seperti ini?" tanya Agam mencemooh.


"Tentu saja bisa, ini adalah rantai sihir yang seharusnya aku buat untuk mengikat tubuh aslimu," jawab Arnette.


Dan benar saja rantai sihir itu bekerja saat sudah terikat di tubuh Agam. Pemuda itu tidak bisa melepaskan diri dengan mudah.


Arnette mencoba menghentikan pendarahan di tubuh Agam dengan mengikat perut laki-laki itu menggunakan kain.


"Arghhh!" Agam berteriak karena tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Dari dalam pemuda itu juga berusaha melepaskan diri.


Arnette kembali ke medan perang untuk mengalahkan para monster tapi karena kurangnya pasukan, dia jadi kewalahan mengalahkan monster-monster yang menyerang tanah Bavaria.


Langit semakin gelap, bau anyir karena darah semakin tercium di indera penciuman Arnette.


Mungkin ini adalah titik terendahnya sekarang, hanya Theor harapan satu-satunya yang dia miliki.


Tapi, bagaimana kalau anak itu juga tidak selamat?


Semuanya akan sia-sia.


"Kapten, kita tidak bisa bertahan lagi," ucap salah satu anak buah Arnette yang mendekati perempuan itu dengan penuh luka.


Arnette melepas sarung tangannya dan melihat cincin yang tersemat di jari manisnya, cincin pemberian Agam yang selalu dia pakai sebagai sumber kekuatan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, cepat sadarlah dan bawa Theor pergi," batin Arnette seraya mencium cincin itu.


Matanya lalu tertuju pada pasukan Aragon dan para monster yang terus menyerang pasukan Bavaria.


Sebentar lagi mereka semua pasti tumbang.


"Ibu..." Theor yang tidak tahan akhirnya ingin membantu Arnette. Dia tidak akan bersembunyi dan berada digendongan Arnette lagi.


"Kau masih mengingat apa yang aku katakan, bukan? Gunakan batu sihir waktu itu disaat darurat," ucap Arnette berusaha mengingatkan.


Theor menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Aku tidak mau meninggalkan ibu!"


"Kau memang keras kepala," balas Arnette yang merasa Theor mewarisi sifatnya.


"Aku tidak takut lagi!" Theor mengambil pedang suci Arnette karena sudah siap menusuk jantung raja iblis.


Pada saat itu, terdengar suara gemuruh dari arah belakang.


Arnette langsung memasang sikap siaga, mungkin saja itu pasukan Aragon tapi ternyata dia salah.


Ada sosok orang yang dikenalnya mendekat.


"Tristan?" panggil Arnette memastikan.


Tristan berlutut di depan Arnette dengan memegang dadanya.


"Bukankah kau sudah mati?" tanya Arnette lagi. "Apa aku tidak salah lihat?"


"Tidak, Kapten. Maafkan saya sebelumnya karena harus memalsukan kematian, saya harus pergi ke kota suci untuk mencari bantuan dan maafkan saya lagi karena butuh waktu yang lama untuk kembali, tapi saya tidak sendirian...." Tristan menjeda kalimatnya dan pasukan dari kota suci sudah menampakkan diri.


Pasukan Bavaria mendapat harapan besar setelah melihat pasukan dari kota suci.


"5000 pasukan kesatria suci, sekarang ada di bawah perintah, Anda. Berikanlah kami perintah, Kapten Arnette Bavaria!" lanjut Tristan.