
Aku masih tidak habis pikir mengapa kelakukan mas Erik begitu bejad? Apa dia pikir aku ini perempuan murahan?
Benar kata putri, jika aku tidak boleh terlalu percaya kepada lelaki yang baru ku kenal.
Dadaku terasa sesak, lelaki macam apa yang tidak bisa menghargai seorang perempuan? Bukankah ia terlahir dari rahim seorang perempuan juga?
Emosiku lagi-lagi memuncak perihal mas Erik, andai saja aku melapor pada papa, sudah pasti mas Erik akan habis hari ini juga
Ah, jadi rindu pada sahabatku yang bersuara cempreng tapi tulus menjalin pertemanan.
Dering handphone mengagetkan ku, ternyata pak Anwar yang menelpon. Mengabarkan kalau pak Anwar sudah sampai dan sedang menungguku di depan warung.
Aku pun bergegas ke kasir untuk membayar makanan ku tadi.
Aku segera berjalan kearah pak Anwar, " yuk pak langsung pulang." Aku masuk kedalam mobil. Pak anwar mengikutiku dan melajukan mobil setelah menerima perintah dari ku.
" Non, sepertinya kita gak pernah kesinikan?" Tanya pak Anwar kepo dan penasaran.
" Memang iya pak, tolong hangan cerita sama mama dan papa ya pak. Kalau mama tanya bilang aja, habis nganterin aku kerumah putri." Aku memasang wajah kasihan pada pak Anwar.
Pak Anwar hanya mengangguk menuruti perintahku.
Aku menyenderkan kepalaku pada kursi mobil yang telah kuatur posisinya.
Begitu lelahnya aku hari ini. Tanpa sadar air mataku menetes satu persatu. Bagaimana jika aku tadi tidak bisa kabur dari mas Erik? Pasti keperawanan ku sudah direngut paksa oleh lelaki itu. Bodoh! Aku menonyor kepalaku sendiri.
Betapa kecewanya mama dan papa andai itu terjadi kepadaku.
Aku memejamkan mataku, dari tape mobil mengalun lagu dari arif penyanyi idolaku.
πΆπΆ
Bukan ku ingin memastikan
Akulah cinta sejatimu
Yakinkan hatimu
Akulah takdir yang engkau nantikan
Ku ingin kau merasa tent'ram
Biarlah berada di sampingku
Kar'na diriku sangat menyayangimu
Ku akan membuktikan cinta di hatimu
Satu rasa menggapai bahagia
Kupinang dirimu s'bagai teman hidupku
Berjanjilah, Kasih, setia bersamaku
πΆπΆπΆ
Semakin deras air mataku menetes.
Nyatanya cinta pertamaku tak sesuai dengan impianku. Bahkan cintaku belum seutuhnya mekar, namun harus dipaksa layu oleh sikap mas Erik yang diluar nalar pemikiranku.
*********
Mobil sudah memasuki pekarangan rumah. Aku membersihkan wajah terlebih dahulu, takut mama melihat penampilanku yang kumal. Aku menaburkan bedak diwajah agar lebih segar dan tidak ketara kalau aku baru saja menangis.
Turun dari mobil, kakiku linu semua. Aku menyeret langkahku dengan berat.
Pintu rumah masih di kunci berarti mama belum pulang sekolah. Aku bisa bernapas lega. Itu artinya mama tidak akan tahu kejadian siang ini.
Kamar adalah tempat favoritku untuk melampiaskan rasa penatku. Tak lupa aku mengunci pintu untuk berjaga-jaga mama masuk secara tiba-tiba.
Terlebih dahulu aku membasuh kakiku. Ternyata banyak yang luka dan berdarah. Mungkin karena terkena kerikil di jalan tadi.
Ku keringkan kakiku dan mengolesinya dengan obat.
Aku berbaring dikamar. Mas Erik, mengapa kamu tega sama aku?
Saat pikiran ku masih di penuhi oleh mas Erik, handphone ku tiba-tiba berbunyi.
Nama Putri terpampang di layar handphone ku.
" Halo assalamu'alaikum"
" Ada apa? Paket? Paket apa aku belum ada nerima apa pun."
Sambungan telepon di matikan. Aku keluar kamar.
" Apa sih maksud Putri? Lagian tumben banget tuh anak ngirimi aku paket." Batinku dalam hati.
"Mbak..?"
Aku terloncat kaget, " ih bik Darmi bikin kaget aja."
" Ini ada paket."
Bik Darmi menyerahkan kotak coklat padaku.
" Dari siapa bik..?"
" Ehm... " Bik Darmi berusaha mengingat-ingat namanya.
Tanpa menunggu jawaban bik Darmi,aku membuka kotak coklat.
Gamis berenda warna maroon. Dan ada sepotong kertas ' untuk sahabatku Zahra yang paling cantik. Datang ya diacara pernikahanku tanggal 12 desember 2002. Dari sahabatmu yang manis, Putri.'
Selesai membaca aku langsung berlari kekamar. Menelpon putri adalah sasaran utamaku. Sampai panggilan ke lima tak juga ia menjawab teleponku. Malah ia sempat-sempatnya mengirim pesan singkat padaku.
' Sebelum Wisuda aku akan menikah. Datang ya.. aku tunggu' tak lupa dengan emotikon tersenyum.
Putri.......!!!!
***
Belum kelar permasalahan aku dan Putri, kini mas Erik datang lagi. Beberapa kali ia menelponku, namun tak juga aku menjawab teleponnya. Kejadian kemarin masih menyisahkan trauma untukku.
Kini tiba hari pernikahan Putri. Aku kini sedang menuju tempat acara pernikahan Putri. Aku tidak menyangka jika Putri akan begitu cepat menemukan pendamping hidupnya. Sedangkan aku? Ada rasa iri menyergap hatiku. Bagaimana pun aku ingin bahagia bertemu dengan pangeranku. Apalagi usiaku semakin mendekati angka dua puluh lima.
Aku telah sampai, ada nama Putri dan Aldi di papan bunga yang terpasang di depan gedung acara.
Siapa Aldi? Bahkan ia tak pernah menyebut namanya sekali pun.
Aku berjalan masuk. Ada rasa sedih yang bergelayut di hatiku. Andai mas Erik lelaki baik-baik tentu hari ini aku tidak sendiri di acara pernikahan Putri. Hiks.. inikah yang dinamakan jomblo ngenes.
Acara pernikahan Putri sudah di mulai. Ijab kabul sudah selesai. Saatnya mengucapkan selamat pada sahabat terbaikku.
Aku memeluk nya erat. Jangan tanya air mataku sudah turun seperti hujan yang sangat deras. Kini statusnya sudah berubah bukan gadis lagi tapi sudah menjadi istri.
" Selamat ya sayang... Bahagia dunia akhirat.. " doa ku padanya.
" Terima kasih sayang .. semoga cepat dapat jodoh ya... Semoga jodohnya adalah lelaki yang shaleh."ucapnya bergantian mendoakan ku.
Di sela-sela santai saat pengantin lelaki menemui tamunya, aku segera mendekati sahabat ku itu untuk mengintrogasi.
Aku duduk di sampingnya, " kenapa gak pernah cerita tentang Aldi padaku?"
" Ini perjodohan Zahra, pilihan bunda dan ayah. Cuma kenal satu minggu trus nikah deh." Jawabnya santai.
Aku menutup mulutku, " bagaimana bisa kamu yakin bahwa dia lelaki baik-baik? " Tanyaku lagi.
" Aku percaya pilihan orang tua tidak akan pernah salah." Jawabnya mantap.
Aku hanya manggut-manggut mendengar ucapan sahabatku yang begitu dewasa.
Acara pernikahan Putri sudah selesai. Aku bersalaman dengan kedua mempelai. Tak lupa aku membisikkan sesuatu ketelinga putri, " selamat malam pertama sayang..."
Putri mencubit pinggangku. Tamu undangan tersenyum melihat ulah kami berdua.
**********
Sahabat ku kini tengah berbahagia, sedangkan aku tengah berduka. Acara wisuda lusa akan terlaksana, sementara kemeja batik yang akan kuberi pada mas Erik masih dirumah.
Saat tengah memikirkan mas Erik, handphone ku berbunyi.
Ada pesan masuk darinya. ' aku pengen ketemu. Jelasin yang kemarin. Aku tunggu di tempat biasa jam dua siang.
Aku melemparkan handphone keatas kasur.
Mau bertemu dengannya saja aku takut. Apa aku membawa teman saja ya? Mungkin pak Anwar bisa mengawasiku.
Oke lah mas.. aku akan datang menemui mu siang ini.