Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 29


" Harus sekarang ya mas?"


" Kapan lagi?" Tanyanya mesra


" Ceritakan dulu kisah hidupmu bersama uminya sabrina!" Bisikku ditelinga mas Amal.


" Demi kamu akan ku tuturkan kisah hidupku." Ucap mas Amal mesra


Pov Amal


Namaku Amalaksana, biasa orang memanggil ku dengan sebutan Amal. Ketika remaja aku di sekolahkan di pondok pesantren oleh orang tuaku. Aku adalah anak semata wayang. Ketika sedang duduk di bangku sekolah Madrasah Aliyah, aku harus kehilangan ayahku. Ayah harus meninggalkan aku dan ibuku untuk selamanya. Tanpa kata, tanpa pesan juga tanpa sakit. Yang aku ingat saat itu, paman menjemputku di pondok pesantren karena ayah sedang sakit. Namun saat tiba dirumah, sudah ada bendera duka yang terpasang di depan rumah. Rumahku pun ramai di datangi para tetangga.


Sempat dalam hati aku bertanya, apa yang terjadi pada ayah? Aku berlari masuk kedalam rumah menerobos beberapa orang yang sedang duduk di teras rumahku.


Innailaihi wainnailaihi roji'un.. ibuku sudah duduk di depan jenazah ayah. Spontan aku meraung didepan jenazah ayah, tidak ku perdulikan bagaimana orang-orang itu mengingatkan aku agar tetap sabar.


Ada rasa sakit melihat ibu yang setiap hari sedih. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pondok pesantren dan memilih sekolah di kampung agar bisa menjaga dan menemani ibu. Setelah lulus SMA, dan ibu merasa cukup tenang akhirnya aku melanjutkan kuliah di kota


Di sinilah awal mula aku berkenalan dengan uminya Zuwita, namanya Sabrina.


Aku dan Sabrina masih tinggal di kampung yang sama. Sabrina sendiri adalah anak tunggal, sama sepertiku. Sabrina adalah gadis yang bebas. Bahkan dalam berpakaian ia terlalu vulgar. Setiap datang kerumah, ibu tidak menyukai Sabrina bahkan melarangku untuk berdekatan dengan Sabrina karena takut nantinya aku akan terkena pergaulan bebas seperti Sabrina.


Suatu hari Sabrina mendatangiku dengan cucuran air mata. Katanya, ia sedang hamil dua bulan, namun pacarnya kabur tak mau bertanggung jawab. Ia meminta tolong padaku agar aku mau menikahinya sampai anak ini lahir. Aku bingung harus bagaimana. Apa yang harus kukatakan pada ibu jika aku ingin menikahi Sabrina?


Akhirnya mau tidak mau demi Sabrina yang meminta tolong padaku akhirnya aku pun menikahi Sabrina. Ibu sempat tak mau bicara padaku berbulan-bulan. Hingga aku berbohong pada ibu, jika Sabrina tengah hamil anakku. Barulah saat itu kulihat wajah ibu begitu bahagia. Pelan-pelan ibu mulai menerima Sabrina.


Namun feeling seorang ibu tidak pernah salah. Sabrina bukan wanita yang baik. Berulangkali aku memergoki Sabrina membentak ibu.


Dan ibu tidak pernah mengadu pada ku prihal itu.


Sejujurnya, aku dan Sabrina tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Berkali-kali Sabrina menggodaku namun aku berusaha menolaknya hingga ia selesai melahirkan nanti. Bukan aku tidak normal sehingga tidak mau menyentuh tubuhnya yang mulus bak model. Namun Sabrina sedang berbadan dua pada saat itu. Dan itu murni bukan anak hasil dari biologisku. Sampai pada saat itu Sabrina melahirkan Zuwita. Sungguh ia tidak mempunyai naluri keibuan sedikitpun.


Disaat Zuwita berusia dua bulan, Sabrina meninggalkan Zuwita dengan ibu. Dan ia pergi dengan seseorang naik mobil. Dengan bantuan tetangga aku berhasil mengikuti Sabrina dan laki-laki itu. Sabrina masuk kedalam hotel hanya berdua, tanpa ikatan pernikahan. Dan untuk ke dua kalinya Sabrina akan kembali berzina.


Dengan langkah pasti aku mengikuti Sabrina masuk ke hotel.


Aku juga memohon pada karyawan hotel agar mau membantu ku. Dan apa yang ku takutkan benar-benar terjadi, Sabrina sedang bergumul dengan seorang laki-laki.


Ia terkejut melihatku. Dengan sigap ia menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan selimut.


Aku mendekatinya," kita selesaikan di pengadilan." Ucapku lantang.


Aku seperti di curangi oleh Sabrina. Betapa aku benar-benar menyayanginya, nyatanya kelakuannya tak ubah seperti binatang.


Sekalinya sampah ya tetap sampah, tidak akan berubah menjadi mutiara itulah Sabrina.


Aku mengumpulkan beberapa barang-barang yang ada dirumah orang tua Sabrina. Termasuk barang-barang Zuwita. Jika nanti Sabrina akan membawa Zuwita baru aku tidak mempunyai hak. Kami memang tinggal di rumah orang tua Sabrina atas permintaan Sabrina.


Aku memberi tahu kejadian di hotel pada orang tua Sabrina, namun mereka hanya santai menanggapi. Dan sedikit menyalahkanku karena tak memberi kewajiban pada Sabrina.


Ya Allah... Ternyata aku sudah masuk pada lingkaran orang-orang gila seperti mereka.


Dengan penuh tekad ku urus surat perceraian dan Sabrina tidak sedikit pun ingin membawa Zuwita. Akhirnya aku dan ibu mengurus Zuwita dengan segenap hati. Hingga orang-orang yang melihat Zuwita akan mengatakan Zuwita mirip denganku. Padahal tidak ada satu tetes darah pun yang mengalir di tubuh Zuwita.


Kami kini tinggal di rumah ibu. Zuwita lebih terurus begitu pun denganku.


Hingga suatu hari, disaat aku sedang patah hati karena kelakuan Sabrina, aku melihat seseorang bidadari.


Anggun,cantik juga terjaga auratnya. Dia wanita impianku.


Tapi ada keraguan untuk mendekati wanita lagi. Aku juga merasa minder karena kini statusku adalah seorang duda. Tak sedikit pun aku ramah pada wanita itu. Padahal hatiku seperti mobat mabit saat melihat parasnya ada didekatku.


Yang kutahu wanita itu bernama Zahra. Pindahan dari Jakarta. Dan belum lama ini orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat.


Aku yang menaruh perasaan sejak awal melihatnya berusah untuk bersikap cuek, namun Zuwita membuka jalan untukku agar aku bisa mendekati bidadari cantik itu.


Entah dari mana awalnya, Zuwita bisa begitu lengket pada Zahra, bahkan aku dan ibu sering kewalahan saat Zuwita sedang rewel.


Namun Zahra menjadi penolong untuk ku dan ibu. Ia lebih cekatan dalam mengasuh Zuwita. Dan aku percaya hati seorang anak tidak pernah salah.


Setelah Zuwita membantuku membuka jalan untuk mendekati Zuwita, ibu pun melakukan hal yang sama. Ibu selalu membawa nama zahra di dalam rumah ini. Setiap detik, menit, jam, hari, selalu ada nama Zahra. Termasuk saat zuwita rewel tidak mau tidur. Ibu akan menyanyikan lagu dengan menyebut nama Zahra. Apakah ibu sama sepertiku yang jatuh cinta juga pada Zahra? Terkadang aku jadi tertawa sendiri.


Seperti pagi ini, ibu berencana mengajak Zahra kerumah saudara ibu yang sedang mengadakan hajatan. Eh, tahu-tahu wanita itu sudah nongol.


Hal yang membuat aku yakin ingin menikahinya adalah ketika ia mendapat perlakuan kasar dari pak Indro. Rasanya hatiku begitu terbakar. Seharusnya sebagai lelaki itu melindungi dan mengayomi bukan menyakiti.


Hingga dengan keberanian, aku menyampaikan keinginanku ingin melamarnya dan menikahinya. Berkali-kali aku menyampaikan hingga ia menjawab iya.


Hatiku rasa berbunga-bunga, akhirnya aku akan menikah dengan pujaan hatiku. Terima kasih Zuwita sudah membuka jalan untu abi mu ini.


Akhirnya pernikahan yang ku tunggu-tunggu tiba, dada ku begitu berdebar-debar. Berbeda sekali saat aku menikah dengan Sabrina. Menikah dengan Zahra aku ingin hanya mengucapkan sekali saja dengan satu kali tarikan napas. Dan benar saja. Jalan begitu mudah ku lalui. Kini aku dan Zahra sudah sah menjadi suami istri. Dan kini kami sudah berada dalam satu kamar yang sama di temani oleh putri kecilku, Zuwita.