
" Tapi itu kembali lagi kepada Zahra." Ucap mas Amal lagi.
" Kalau Zahra bagaimana baiknya saja, dan kalau untuk pernikahan Zahra hanya ingin pernikahan yang sederhana dan yang sakral. Tidak perlu mengadakan pesta besar-besaran." Ucapku lagi.
Dan akhirnya atas kesepakatan bersama antara aku, mas Amal, keluargaku juga keluarga mas Amal tanggal pernikahan kami di tentukan satu minggu dari sekarang.
Akhirnya selesai juga acara lamaran malam ini. Ada perasaan senang, ada juga perasaan sedih.
Aku senang akhirnya jodohku sudah ada di depan mata. Dan aku sedih karena disaat hari bahagiaku mama dan papa sudah tidak ada menemani dan mendampingi ku. Seharusnya papa lah yang akan menjabat tangan mas Amal saat menikahkan ku tapi semua itu tak kan pernah terjadi.
Padahal papa selalu memimpikan bisa menimang, bisa menggedong cucunya kelak nanti. Tapi rencana yang di buat manusia tidak bisa mengalahkan takdir dan ketetapan Allah.
Mas Amal dan keluarganya sudah kembali pulang. Semua keluarga sedang merapikan gelas juga piring.
Entah mengapa air mata ku jatuh menetes dan di pergoki oleh mbak Tami.
" Teringat mama sama papa ya Zah? Yang sabar ya. Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan." Mbak tamiberi suntikan semangat padaku. Mbak Tami juga beberapa kali mengusap sudut matanya yang berair.
" Kamu kenapa Zah?" Tiba-tiba saja om Iwan datang menghampiri aku dan mbak Tami.
" Kok pada nangis?" Ucap om Iwan tampak keheranan melihat kami yang saling berpelukan.
" Lidya! Sini dulu!" Om Iwan memanggil tante Lidya.
" Ada apa mas?" Tante Lidya datang hampiri kami
Om Iwan menunjuk kearah kami.
" Kenapa nangis?" Tante Lidya heran hingga dua tangannya berada di pinggang.
Aku tak menjawab apapun hanya mbak Tami yang memberitahukan kesedihan kami berdua," Zahra sedih mbak, karena orang tua nya tidak afa lagi. Sementara pernikahannya sudah ada didepan mata."
Tante Lidya menatapku, merengkuh bahuku membawa aku kedalam pelukannya. Entah mengapa berdekatan dengan tante Lidya mengingatkan aku pada mama. Hal yang sering mama lakukan dulu ketika aku sedang ada masalah. Setelah aku cukup tenang keluarlah kata-kata nasihat mama, begitup dengan tante Lidya.
" Jangan sedih, tante paham apa artinya kehilanganmu. Kamu kehilangan papa, tante kehilangam sosok abang, sosok kakak sedangkan nenek kehilangan dua anak yang paling di sayangi. Kami sama sedihnya denganmu. Tapi kami percaya, mama dan papamy adalah orang baik. Insya Allah mereka sudah ada di tempat terbaiknya Allah. Yang dibutuhkan papa dan mama saat ini bukan kesedihan kita, tapi doa-doa yang kita kirimkan untuk mereka. Tante juga yakin, mama dan papamu pasti bahagia melihat kamu dari surga."
Dan kalimat tante kbali membangkitkan semangat hidupku.
Nenek yang ikut mendengar ucapan tante pun ikut mengusap sudut matanya yang basah.
"Sekarang tidurlah!" Calon pengantin tidak boleh banyak pikiran." Tante Lidya mulai menyelipkan kata-kata bergurau padaku.
*********
Disaat akan membaringkan badan untuk beristirahat, tring...! Terdengar bunyi pesan masuk pada handphone ku.
Aku ingin mengecek siapa pengirimnya malam-malam begini.
Mas Amal? Tumben banget.
(Bahagia malam ini. Gak sabar nunggu satu minggu lagi buat halalin kamu. Terus bawa kamu kerumah ini. Jadi teman makan, teman jalan, teman sedih, teman senang,teman Zuwita juga teman....)
Aku tersenyum membaca isi pesannya.
Tapi aku penasaram dengan yang terakhir. Teman apa yang di maksud
(Teman apa mas?) Balasku.
Masuk lagi balasan darinya.
(Teman tidur. Hahah...)
Ya Allah duda satu anak ini pintar juga ngegombal. Aku kembali mengirim pesan balasan.
(Ngomong-ngomong siapa yang beliin cincin ini ya? Kok bisa pas di jari aku)
Balasan kembali masuk
( Apa gunanya aku pegang tangan kamu sayang...)
Aku tertawa sendiri membaca balasan suratnya.
(Sudah malam selamat tidur mimpiin aku yah...)
Mas Amal membalas pesanku dwngan emoticon cinta.
Ya Allah... Begini ya rasanya jatuh cinta dengan orang yang tepat. Bahagia... Aja terua rasanya. Mudah-mudahan mas Amal adalah orang pilihan Allah yang dikirim untuk menemaniku seumur hidupku.
*******
Hal yang kulakukan setelah menjalankan rutinitas dua rakaat adalah mencek handphone.
Mataku terbelalak melihat deretan pesan tanpa nama.
( Masih nekat buat masuk ke kehidupan Amal dan Zuwita?)
(Sampai kapanpun kanu dan Amal tidak akan bisa bersama)
( Perempuan penggoda pria tidak pantas bahagia.)
( Aku pastikan kamu cacat seumur hidup jika tetap nekat mendekati Amal dan zuwita.)
Badanku seketika gemetar setelah selesai membaca pesan dari nomor yang tidak di kenal.
Aku mengirim pesan-pesan itu pada mas Amal. Termasuk mengirim nomor yang tidak dikenal itu pada mas Amal.
Bagaimana pun mas Amal harus tahu siapa pelakunya.
Pesanku sudah terkirim dan terbaca langsung oleh mas Amal, terlihat dari tanda dua centang yang berubah dari abu-abu menjadi biru.
Handphone ku langsung berbunyi. Ada panggilan masuk dari mas Amal.
" Hallo assalamu'alaikum.)
Terdengar suara mas Amal dari seberang yang menyuruhku untuk tetap tenang. Ia akan mencoba menyelidiki siapa pengirim pesan ancaman padaku. Mas Amal juga mengatakan agar aku tetap dirumah jangan kemana-mana sendiri. Agar tidak membahayakan diriku sendiri.
Sambungan telepon sudah dimatikan oleh mas Amal. Ada sedikit ketenangan. Dan aku percaya ini adalah cobaan pernikahan kami. Dan mudah-mudahan kami tetap bisa melewati badai ini.
Aku mengikuti pesan mas Amal untuk tidak berpergian kemana-mana.
Aku juga memberitahukan pesan ancaman ini kepada om Iwan juga tante Lidya. Dan om Iwan berjanji akan segera menyelesaikan semua yang bisa menjadi ancaman untukku
" Om janji akan bawa orangnya kehadapan kamu."
Aku merasa lega karena di kelilingi oleh orang-orang yang sayang padaku.
**********
Siang ini mas menjemputku. Katanya ia mau mengajakku membeli gaun pengantin.
Karena terlalu sibuk memikirkan pesan ancaman tanpa nama aku sampai tidak memikirkan tentang baju pernikahan.
" Kita berdua aja mas?" Aku ragu untuk masuk kedalam mobilnya.
" Masuk deh, nanti di lihatin orang loh."
Aku pun masuk kedalam mobilnya, " Wita enggak ikut mas?" Tanyaku lagi.
" Enggak, mas pengen berduaan sama kamu." Jawabnya dantai sambil melajukan mobilnya meninggalkan desa kami.
" Kita mau kemana mas nyarinya?"
" Ke Pekanbaru, tempat temannya mas, mas uda janjian tadi pagi."
" Apa enggak terlalu jauh? 4 jam perjalanan loh mas." Aku coba mengingatkan.
" Tidak maslah bagi mas, yang terpenting di hari spesial kita kamu tampil cantik."
" Nanti malam kita kemalaman pulangnya mas?"
" Kan ada hotel sayang..." Ia memainkan alisnya naik turun.
" Kita belum sah mas!" Aku mendelik marah.
" Tiga hari lagi kita sah sayang."
" Dalam waktu tiga hari Allah bisa merubah siapa saja, dalam waktu tiga hari Allah visa saja merubah takdir." Jawabku lagi tak mau kalah.
" Buk ustadzah sedang ceramah? Memang nya kalau nginem di hotel salah ya buk ustadzah? Kan tidurnya sendiri-sendiri. Kita pesan kamar dua. Buk ustadzah kira saya suka menggauli orang yang belum saya halalin?" Ucapnya berkelakar.
Aku hanya senyum-senyum sendiri. Mali sendiri karena sudah sempat berpikiran kotor pada duda satu anak ini.