Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 7


" Kita lihat benar atau tidak ucapannya. Mama kasih tahu sama kamu ya Zah, seorang laki-laki itu yang di pegang ucapannya. Sekali laki-laki berbohong sudah pasti dia akan berbohong untuk menutupi masalah-masalah selanjutnya." Jelas mama lagi.


Tampak kekecewaan diwajah mama.


" Maafkan Zahra ya ma..! Zahra janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi. Zahra janji akan selalu meminta pendapat mama." Ucapku penuh penyesalan.


" Ya sudah, sekarang kamu tidurlah. Sudah malam." Perintah mama.


Aku menurut saja, masuk kedalam kamar dengan perasaan galau.


Besok aku akan mengajak mas Erik bertemu dan membicarakan masalah ini.


***


Pagi menjelang, mama sudah pergi bekerja. Tinggal aku yang sedang bersiap untuk bertemu dengan mas Erik. Kami akan bertemu nanti pukul sembilan di tempat biasa.


Aku diantar sama pak Anwar supir pribadi keluarga kami menuju tempat yang biasa berjumpa dengan mas Erik.


Pak Anwar menunggu di mobil, sementara aku masuk sendiri kedalam. Kalau melihat parkiran, aku tadi melihat ada mobil hitam terparkir. Mudah-mudahan saja mas Erik sudah datang.


Aku mencari sosok yang ku kenal. Dan seseorang melambaikan tangannya padaku.


" Mas Erik..." Gumamku pelan.


Aku melangkah kearah mas Erik.


" Hai sayang.. apa kabar?" Sapanya ramah padaku.


" Hai mas.. sudah lama?" Tanyaku basa basi.


" Untuk menunggu seorang bidadari tidak masalah bagi mas." Gombalannya membuat aku sedikit terbang.


" Bisa aja deh mas." Balasku malu.


Kami masih asyik bercanda ria.


" Yang, jalan yuk!" Ajak mas Erik.


" Hem...aku bawa supir mas." Ucapku bingung.


" Suruh pulang aja, nanti kamu mas antar pulang sampai di rumah."


" Oh.. oke mas, bentar ya aku telepon pak Anwar dulu."


Aku mengeluarkan handphone dari tas ku dan menekan nomor pak Anwar.


" Halo pak Anwar.. pak Anwar boleh pulang duluan nanti saya pulangnya diantar teman." Ucapku pada pak Anwar di telpon.


Sebenarnya ada rasa takut pada mama karena harus berduan dengan mas Erik. Jelas-jelas mama seperti kurang suka aku dekat dengan mas Erik. Di tambah lagi mama mengetahui kalau aku baru meminjamkan uang jajan ku pada lelaki yang belum pernah di kenal oleh keluarga ku sendiri.


Kami keluar dari kafe, mas Erik merangkulkan tangannya di bahuku. Ada rasa risih saat mas Erik memperlakukan aku seperti itu. Apalagi saat mata pengunjung dan karyawan kafe menatap kami dengan tajam. Ingin rasanya aku segera menghilang dari kafe ini secepat mungkin.


Akhirnya aku merasa lega saat sudah masuk kedalam mobil.


Cup! Tiba-tiba bibir mas Erik sudah mendarat di pipiku.


Ya Allah... Aku terkejut luar biasa. Mataku melotot kearah mas Erik yang tampak santai dan senyum-senyum tanpa merasa bersalah.


Jujur ini adalah ciuman pertama dari seorang laki-laki yang dekat denganku.


Selama ini aku selalu mengingat nasihat mama agar jangan terlalu dekat dengan laki-laki. Dan mama selalu berpesan jangan pernah membiarkan laki-laki menyetuh anggota tubuh kita walau secuil pun.


Dan kini aku baru saja di sentuh oleh..


Ya Allah...ampunkan semua dosa hambamu ini..


Aku memukul keras bahu mas Erik, " Mas, apaan sih?"


Dia hanya tertawa, malah tertawa makin keras, " Sedikit saja sayang.. gak bakal berkurang kok." Jawabnya santai dan melanjutkan perjalanan kami.


Aku hanya diam, seketika mood ku hilang. Aku seperti tidak nyaman berdekatan dengan mas Erik. Ia terlalu dewasa bagiku. Bahkan ia tidak punya malu saat bermesraan denganku di hadapan orang.


Aku membuang wajahku ke arah jalan.


" Marah ya?" Tanya mas Erik sambil menjawil bahuku.


Aku masih diam. Malas menanggapi ucapan mas Erik.


" Maaf deh... Janji gak ngulang lagi." Ia menyodorkan jari kelingkingnya ke arahku.


Ya Allah... Apa lagi ini? Meminta maaf dengan menyodorkan jari kelingking. Setauku meminta maaf itu ya bersalaman, ternyata mas Erik terlalu mengikuti gaya kebarat-baratan.


" Iya mas, aku maafkan." Tanpa memperdulikan jari kelingkingnya yang masih mengambang ke udara.


Ia pun menarik jarinya kembali dan fokus memegang stir.


" Kita mau kemana mas? "


" Nanti deh, kamu bakal tahu sendiri." Jawabnya sambil senyum-senyum.


Aku mengamati jalan yang kami lewati. Jujur aku gak pernah lewat di sini. Aku mulai menandai satu persatu jalan yang kami lewati. Hingga mobil sampai di sebuah rumah besar berpagar. Di depan rumah itu tertulis dengan huruf besar semua.


'HOTEL MELATI'


jantungku berdetak kencang. Keringat dingin mengucur deras dari badanku. Tanganku gemetar dan mulai terasa dingin.


" Yuk turun!" Ajak mas Erik sambil membuka kunci mobil.


" Kenapa kita ke hotel mas?" Tanyaku heran.


" Nanti kamu akan tahu sendiri. Kita akan bersenang-senang didalam sana." Jawabnya santai.


Badanku semakin bergetar. Otakku berfikir dengan cepat. Apa yang harus kulakukan? Lari ya aku harus lari. Aku tidak boleh panik dan histeris jika ingin baik-baik saja.


" Ayo kita turun! Ajaknya lagi.


Aku mengangguk. Aku segera membuka pintu mobil. Dengan cepat aku membuka sandalku yang berhak. Aku mengambil langkah seribu berlari menjauh dari mas Erik.


Masih ku dengar suara mas Erik memanggilku dengan lantang dan keras.


Yang ada di pikiran ku adalah berlari dan berlari. Jika aku tidak berhasil melepaskan diri dari mas Erik maka hidupku akan hancur.


Aku berlari terus sesekali menoleh kebelakang, takut mas Erik mengejarku.


Keringat mengucur deras membasahi baju dan jilbabku. Penampilanku sudah enggak karuan. Banyak orang yang memperhatikanku sesekali bertanya. Namun kepercayaan ku terhadap orang lain sudah hilang begitu saja.


Ketika merasa cukup jauh berlari, aku mencari tempat persembunyian. Aku masuk kesebuah warung nasi yang banyak pengunjungnya. Berjaga-jaga andai nanti bertemu dengan mas Erik aku bisa meminta tolong. Aku memesan es teh manis dingin dan memesan satu nasi padang. Sesekali aku melihat sekeliling, takut ada yang mencurigakan. Tak lupa tadi aku membaca alamat yang tergantung di dinding warung makan ini. Aku sudah mengirim pesan pada pak Anwar agar menjemputku kealamat yang sudah kuberikan tadi.


Pesananku sudah datang. Aku makan begitu lahap. Mungkin karena terlalu lama berlari hingga energiku terkuras habis.


Aku masih tidak habis pikir mengapa kelakukan mas Erik begitu bejad? Apa dia pikir aku ini perempuan murahan?


Benar kata putri, jika aku tidak boleh terlalu percaya kepada lelaki yang baru ku kenal.


Dadaku terasa sesak, lelaki macam apa yang tidak bisa menghargai seorang perempuan? Bukankah ia terlahir dari rahim seorang perempuan juga?


Emosiku lagi-lagi memuncak perihal mas Erik, andai saja aku melapor pada papa, sudah pasti mas Erik akan habis hari ini juga.