
Saat sedang asyik menikmati semangkuk mie ayam bakso, dari kejauhan aku melihat Mila, sepertinya ia ingin menikmati mie ayam bakso juga.
Aku melambaikan tangan pada mila, namun tidak ada sambutan hangat dari Mila. Ia hanya tersenyum sekilas lalu sama sekali tak melihatku.
Ada apa dengannya? Apa Mila cemburu aku dekat dengan mas Andre? Apa mas Andre pernah punya hubungan dengan Mila? Atau mas Andre masih berhubungan dengan Mila.
Kepalaku mendadak pusing. Selera makanku tiba tiba saja menghilang.
Mas Andre tampak santai,ia sama sekali tidak perduli pada Mila.
Mila sudah pulang tanpa menyapaku.
" Mas, Mila kok diam saja ya?"
" Biarin saja, mungkin sedang ada masalah." Jawab mas Andre sambil menghisap sebatang rokok.
Aku pun sedikit lega, mungkin saja Mila sedang ada masalah. Mudah-mudahan masalahnya tidak ada sangkut pautnya dengan aku.
Setelah mas Andre selesai merokok, aku pun mengajak pulang karena sudah hampir pukul sembilan. Itu artinya kami sudah hampir satu jam berada di tempat ini.
Kami pun berjalan ketempat sepeda motor di parkirkan. Saat hendak berboncengan dengan mas Andre, tiba-tiba saja mas Amal berhenti tepat di samping motor mas Andre.
" Mal, mau beli bakso?" Tanya mas Andre.
" Eh, Ndre! Iya ini uda malam tapi masih lapar. Uda siap?"
" Uda. Ini sudah mau pulang." Jawabas Andre.
Mas Amal melirikku, ingin rasanya aku menyapa mas Amal. Tapi mengingat sikapnya sangat cuek terhadapku. Aku pun berfikir dua kali.
Sebelum sepeda motor mas Andre melaju, aku sempat melihat ke motor mas Amal. Ada sekotak susu bayi yang tergantung.
Susu untuk siapa? Apa mas Amal sudah menikah? Mengapa ia tidak pernah berboncengan dengan istrinya? Kalau dilihat dari wajahnya, ia seperti belum pantas mempunya bayi atau pun menjadi ayah. Tapi ia selalu membawa bayinya jalan-jalan sore.
Ah, kenapa harus mikirin mas Amal sih? Dia saja cuek padaku. Masalah Mila saja belum selesai, kini pikiran ku sudah di penuhi mas Amal lagi. Pusing!!!
" Zah, kita sudah sampai." Suara mas Andre mengagetkanku.
" Eh, kita uda nyampe mas?" Aku seperti orang linglung.
Ya Allah.. ini kan rumah nenek.
Aku turun dari motor mas Andre.
" Kamu diam aja dari tadi, aku tanyain gak jawab-jawab." Mas Andre seperti protes.
" Masak sih mas?" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
" Mungkin kamu sudah kenyang dan sudah ngantuk. Aku pamit pulang dulu. Salam buat nenek dan tante kamu ya.!"
Mas Andre sudah pulang. Akuelangkah masuk.
Hanya ada tante Lidya yang sedang menonton televisi.
" Nenek uda tidur tan?" Aku menjatuhkan pantatku di kursi kosong sebelah tante.
" Sudah, barusan aja. Kamu lagi deket sama Andre?" Tanya tante kepo.
" Enggak tan, cuma temanan aja. Lagian Zahra juga gak ada janjian mau ketemu sama mas Andre." Ucapku polos.
" Syukur deh! " Tante bernapas lega.
" Emang kenapa tan?" Aku tak sabar menanti penjelasan dari tante Lidya.
" Yang tante tahu, Andre itu orangnya Playboy. Salah satu pacarnya yang masih bertahan adalah Jamilah. Sepertinya mereka kena cinlok deh."
" Ops! Beneran atau sekedar gosip nih tan?" Aku mencoba memastikan berita yang kudengar malam ini.
Akhirnya aku menemukan jawaban atas pertanyaan ku tentang Mila.
Pantas saja Mila begitu culas padaku bahkan seperti menahan amarah.
Dasar Andre!! Ya Allah mengapa engkau pertemukan aku lagi kepada laki-laki yang tidak setia.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
" Aku masuk duluan ya tan, ngantuk." Aku meninggalkan tante Lidya sendiri.
Aku masih termenung di dalam kamar. Padahal malam semakin larut. Entah mengapa kepalaku di penuhi oleh pria berhati kutub. Mas Amal, bikin aku penasaran.
Aku membuka handphone membuka grup sekolah, ada nama Amal di dalam daftar grup. Iseng-iseng ku save nomor mas Amal di handphone ku.
Kulihat foto profilnya dengan seorang anak kecil berjwnis kelamin perempuan.
Bukankah ini Zuwita? Aku memperhatikan foto Anak kecil itu dengan seksama. Ah, aku tidak salah lagi. Ini adalah Zuwita, anak bayi yang ku gendong semalam. Begitu mirip wajahnya dengan mas Amal.
Ternyata tidak asyik bermain teka teki sendiri.
**********
Pagi sudah tiba, suara nyanyian burung begitu nyaring terdengar. Hari minggu adalah hari tersantai dalam hidupku.
Aku duduk memperhatikan mbak Tami.
Dan mbak Tami merasa sadar sudah kuperhatikan.
Ia sesekali tersenyum melihat ku.
" Mbak Tami." Panggilku
" Iya non." Ia menoleh sebentar ke arahku. Setelahnya ia oembali fokus memasak.
" Panggil Zahra aja. Mbak Tami uda lama kerja di rumah nenek?" Aku mencoba mencari jawaban yang bersarang di kepalaku tentang pria berhati kutub melalui mbak Tami. Mudah-mudahan saja mbak Tami tidak curiga juga tidak menuduh ku mempunya perasaan pada pria berhati kutub. Hehe.... Aku tertawa sendiri karena dengan suka hati mengganti nama orang lain.
" Uda non eh Zahra maksud mbak, sudah sekitar lima tahunan mbak disini."
" Mbak kenal sama mas Amal?" Tanyaku setengah berbisik karena takut didengar oleh nenek dan tante Lidya.
" Mas Amal yang bersuara merdu itu?" Tanya mbak Tami.
" Iya." Jawabku cepat.
" Mas Amal yang menjadi guru itu kan?"
" Iya loh mbak, kenal?" Tanyaku tak sabar.
" Kasihan mas Amal itu mbak,padahal ganteng, agamanya juga bagus. Apalagi kalau uda mengumandangkan adzan, pokoknya mbak Tami salah satu fansnya deh." Mbak Tami mengungkapkan isi hatinya dengan mata berbinar-binar.
Aku setuju dengan yang disampaikan mbak Tami. Mas Amal punya kriteria menjadi cowok idaman. Tapi yang ingin kuketahui belum terjawab ileh keterangan yang diberikan oleh mbak Tami.
Aku menggelengkan kepalaku, kok aku jadi ngawur gitu sih.
" Lagi ngerumpi apa sih? Kok serius banget." Nenek mengagetkan aku dan mbak Tami.
" Anu loh buk, Zahra nanya.."
" Gak nanya apa-apa kok nek cuma tanya resep masakan aja kok nek." Aku memotong ucapan mbak Tami sembari mengedipkan sebelah mata untuk memberi kode kepada mbak Tami agar tidak memberi tahu pada nenek.
" Oh.. sejak kapan cucu nenek mau belajar memasak? Apa karena sudah ada yang serius?" Ucap nenek menggodaku.
" Nenek..." Aku pura-pura marah pada nenek.
" Kenapa marah? Kalau memang sudah ada yang serius, nenek setuju-setuju saja. Yang paling penting bisa menjadi imam terbaik untuk kamu, bisa menyayangi kamu, dan bisa melindungi kamu. Apalagi nenek sudah tua, sebentar lagi juga mati. Tidak ada yang akan menjaga kamu nantinya."
Ucapan nenek begitu mengejutkan hatiku.
" Nenek, yang tahu kematian itu hanya Allah." Ucapku memeluk nenek.
Ya Allah berikan kesehatan untuk nenekku.
*****************
Sore hari, disaat aku sedang santai dikamar. Tante Lidya masuk kekamarku membawa bayi perempuan lucu yang menggemaskan.
" Zahra... Lihat tante bawa siapa?"
Aku menoleh ke arah pintu.
" Zuwita..." Seruku senang.
Aku bangkit dan menggendong bayi nan lucu tersebut.
" Kok bisa tante bawa pulang?" Tanyaku heran.
" Iya, tadi jumpa sama neneknya Zuwita. Katanya Zuwita rewel aja kalau sedang dirumah."
"Zuwita rewel ya sayang? Buat nenek capek ya...?" Aku mengajak Zuwita ngobrol. Bayi itu hanya tersenyum kegirangan.
" Uda cocok deh.." seloroh tante.
Aku hanya meringis menanggapi ucapan tante Lidya.
Setelah memberinya susu, akhirnya bayi lucu nan menggemaskan itu tidur di kamarku.
Huft! Lelah juga ternyata mengurusi bayi. Aku pun ikut rebahan di samping Zuwita.
Saat mataku akan terlelap, tante Lidya masuk kekamarku, " Abinya jemput tuh didepan."
" Abinya? Masih tidur tan. Tolong bilangin dong tan!"
" Jumpain gih." Tante berlalu meninggalkan ku.
Aku pun keluar kamar hendak menemui abinya Zuwita.
Lelaki itu sepertinya aku kenal. Postur tubuhnya tidak asing bagiku.
Kira-kira siapa ya?
Ada yang tahu?
Tulis jawaban di kolom komentar ya...🙏