Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 23


Jam di dinding kamar menunjukkan pukul sepuluh siang, Aku segera mandi agar lebih segar kembali. Tak lupa hari ini aku ingin bobok cantik. Kini hari-hari ku akan lebih santai. Dan kini aku sudah menjadi pengangguran sukses. Aku tertawa dalam hati jadi pengangguran sukses kok bangga sibuk batinku berceloteh sendiri.


Entah mengapa rasa kantuk datang menyerang hingga mataku tak bisa kuajak kompromi sedikitpun akhirnya aku terlelap.


Entah sudah berapa jam aku tertidur pulas hingga suara dering handphone mengagetkan ku. Ada nama mas Amal terpampang di layar handphone. Ada apa mas Amal menelponku?


Dengan setengah kesadaran aku menekan tombol hijau. Terdengar suara mas Amal dari sebrang.


Ia ingin mengajakku untuk kerumah saudaranya yang sedang ada hajatan. Jadi aku segera untuk bersiap. Kalau bisa membawa baju ganti jadi kalau kemungkinan tidak bisa pulang sudah ada persiapan.


Sambungan di telpon telah terputus. Aku mencari nenek untuk meminta izin. Ternyata nenek sedang tidur dikamarnya. Aku masuk kekamarnya dan membangunkan nenek.


" Ada apa? Tumben sekali sampai membangunkan tidur nenek." Tanya nenek keheranan.


" Em mas Amal mau mengajak Zahra ke rumah saudaranya yang sedang hajatan, boleh nek?" Tanyaku hati-hati.


" Ibunya ikut?" Tanya nenek lagi.


" Ikut."


" Ya sudah boleh. Tapi tetap jaga harga diri. Jangan sampai mau bersentuhan dengan Amal." Pesan nenek.


Aku pun segera bersiap dengan tak lupa aku memakai gamis terbaik yang aku punya. Juga tak lupa aku membawa baju, perlengkapan mandi, perlengkapan makeup dan handuk. Agar nantinya jika menginap tidak menyusahkan orang lain.


Tak berapa lama terdengar suara mobil, aku mengintip dari balik jendela kamarku. Mas Amal turun bersama ibu dan Zuwita.


Nenek sudah menyambut di depan. Aku pun keluar dari kamar membawa beberapa barang perlengkapanku.


Setelah mas amal dan ibu meminta izin kepada nenek, akhirnya kami berangkat kerumah saudara mas Amal.


Ada rasa canggung ketika harus duduk di samping mas Amal. Sementara Zuwita sedang santai duduk di belakang bersama neneknya.


" Ini pesta apa mas?" Tanyaku membuka percakapan.


" Pesta nikahan." Jawab mas Amal. Tatapannya tetap fokus pada jalan.


" Berapa lama kita sampainya?" Tanyaku lagi.


" Kemungkinan tiga jam perjalanan."


" Oh .."


" Kamu gak rindu balik ke Jakarta?" Tanya mas Amal.


" Rindu sih.. tapi nunggu waktulah mas untuk balik kesana."


"Jadi rumahnya di sana kosong? Gak di kontrakkan saja."


" Bingung mau di kontrakkan karena barang-barang masih di sana semua. Kalau kosongnya sih enggak, karena ada asisten papa yang nempatin dirumah itu." Jelasku lagi.


Hanya kami berdua yang terlibat obrolan, ibu dan Zuwita sudah tidur di belakang.


Ketika aku sedang menikmati pemandangan kebun kelapa sawit, diluar dugaanku tiba-tiba mas Amal menggenggam tanganku.


Sontak aku terkejut dan berusaha menarik tanganku. Tapi nyatanya mas Amal lebih erat menggenggamnya.


" Mas.. ?" Aku menunjuk tanganku yang ada pada genggamannya.


Ia tersenyum, selanjutnya tanganku di bawa kedepan dadanya.


" Tolong kabari aku jika serius ingin menikah denganku." Ucapnya tanpa melihatku.


Aku melihat kebelakang, takut ibu mas Amal memergoki kami berdua.


Dan seperti mas Amal mengerti akan ketakutanku, " ibu tidur."


" Tangannya mas.." bisikku.


Ia pun melepas tanganku, karena akan memindahkan persneling mobil. Kemudian ia mengulangi kembali menggenggam tanganku dan ia menyetir dengan satu tangan.


Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhku ketika ia menggenggam tanganku.


Apakah itu pertanda aku mempunyai perasaan padanya?


Setelah jalanan cukup padat, ia pun melepaskan tanganku. " Nanti kita celaka." Candanya padaku


Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam, akhirnya kami sampai di rumah saudaranya mas Amal.


Kami tiurun dari mobil. Zuwita meminta gendong padaku. Dan aku pun menggendong bocah gembul anaknya abi tampan ini. Aku berjalan disamping mas Amal, sementara ibu sudah berjalan duluan. Sepertinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan saudaranya yang sudah berkumpul.


Kami pun disambut dengan senyum ramah. Mereka menatap heran pada kami bertiga. Tak jarang yang penasaran langsung bertanya pada mas Amal.


" Itu siapa? Istrimu?" Tanya seseorang pada mas Amal.


" Doain aja mudah-mudahan ia bersedia menjadi istri ku." Mas Amal melirikku. Mungkin takut aku mendengar ucapannya.


Kami duduk bertiga, sementara ibu sudah asyik mengobrol dengan saudaranya.


Aku menyuapi Zuwita makan menggunakan sop.


Mas Amal memperhatikan kami berdua hingga membuat aku menjadi serba salah.


" Makan mas, jangan diam aja. Lihat tuh nasinya nangis." Aku membuyarkan lamunannya.


" Gak enak nasinya, enakan lihat kamu."


" Duh... Gombalnya melelehkan hatiku." Aku berusaha menutupi wajahku yang memerah seperti kepiting rebus.


Setelah selesai menyuapi makan, aku membuatkan susu karena tampaknya bayi manis ini sudah mengantuk.


Aku mendekap bayi manis ini sambil tanganku Menepuk-nepuk Zuwita. Ia mulai memejamkan matanya. Sebentar saja ia sudah terlelap.


Mas Amal mengambil Zuwita dari tanganku dan membawanya tidur kedalam rumah milik saudara mas Amal.


Setelah itu mas Amal kembali lagi menghampiriku.


Tak bosan-bosan ia menatapku yang sedang makan, " jangan lihat-lihat mas! Nanti aku tersedak."


" Nanti aku yang ngobatin." Jawabnya santai sambil senyum-senyum.


Aku tidak pernah menyangka, jika mas Amal yang dulu berbeda dengan yang sekarang.


Mas amal yang dulu adalah mas amal yang jutek dan cuek. Sedangkan mas Amal yang sekarang lebih ramah, lebih suka gombal. Dua sifat yang bertolak belakang.


Disaat aku dan mas Amal sedang asyik bercerita. Tampak dua orang pria menepuk bahu mas Amal.


" Hei bro! Wah uda dapat pengganti nih."


Mas Amal nampak terkejut,namun detik berikutnya mereka berpelukan dan tertawa sangat keras sehingga menjadi pusat perhatian.


" Zah kenalin ini teman mas." Mas Amal memperkenalkan temannya padaku.


Aku pun bersalaman dengan teman mas Amal. Dan menyebutkan namaku. Ternyata teman mas Amal namanya Feri.


" Gila kamu bro, uda mau dua aja. Yang dulu kemana?" Teman mas Amal tampak penasaran.


" Selingkuh bro." Jawab mas Amal masam.


" Gila, cowok setampan lu aja bisa di selingkuhi. Bagaimana dengan tampangku yang pas-pasan."


" Intinya bukan ketampanan, tapi pada perempuannya. Kalau sudah setia, mau sejelek apanpun kamu, dia akan tetap setia." Jelas mas Amal lagi.


Selanjutnya mereka asyik mengobrol sedangkan aku juga asyik mengobrol dengan saudara perempuan mas Amal.


Namanya Dita, ia tampak ramah padaku.


" Zah, kamu serius mau menikah dengan mas Amal? Tanya Dita penasaran.


" Doain aja ya Dit, mudahan-mudahan kami berjodoh." Aku meminta doa pada Dita.


" Amin ya Zah, Kasihan lihat Zuwita. Masih sekecil itu sudah kehilangan kasih sayang." Ucap Dita sedih.


Tak terasa malam sudah datang. Aku meminta izin pada mas Amal untuk masuk duluan. Ibunya mas Amal menyuruh aku tidur di kamar menemani Zuwita.


Aku pun tidur di samping bayi manis ini. Saat sedang asyik mengamati Zuwita, pintu kamar di buka oleh seseorang. Aku langsung terduduk. Ada rasa takut yang menghantui.


Lampu di hidupkan tampak tampak seraut wajah yang kukenal.