
31
" Yang, kamu pernah dengar enggak? Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik begitu pun perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik." Ucap mas Amal lagi.
" Karena Jodoh itu cerminan diri kita sendiri mas." Ucapku pada mas Amal.
" Dan semoga kita adalah golongan orang-orang yang di pilih oleh Allah ya, yang!"
Dan aku mengamini ucapan mas Amal.
Mas Amal mengusap pipi ku lembut.
Karena waktu sudah malam akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel. Dan paling gemesnya adalah Wita sama sekali tak terbangun saat mas Amal membawanya kekamar hotel.
Aku menciumi pipinya juga menggelitik perutnya berharap ia bangun, " Wita, please bantu Umi!" Bisikku di telinganya.
" Ngapain Yang masih bobok kok di gangguin?" Ia mengusap-usap wajahnya di punggungku.
Aku berpaling menatapnya, cup! Ciumannya mendarat di bibirku.
" Mas?"
Ia tidak perduli dengan panggilanku. Justru ia semakin merapatkan tubuhnya padaku.
Selanjutnya ia melingkarkan tangannya di pinggangku.
" Mas?" Aku mencoba mengembalikan kesadarannya. Namun gagal yang ada ia lebih agresif lagi mencumbu ku.
Dan entah siapa yang memulai. Yang jelas hati dan tubuh ku menerima sentuhan mas Amal dengan pasrah. Terjadilah ibadah suami istri yang halal di mata Allah. Bahkan mas Amal sanggup mengulanginya berkali-kali.
Apakah pengantin baru itu seperti kami? Begitu menikmati surga dunia yang baru kami rasakan.
" Mas?" Panggilku lagi.
Ia masih asyik mencumbuku.
" Sudah jam dua dini hari. Tak perlu istirahatkah?" Godaku lagi.
" Lelah ya?" Tanya mas Amal.
" Ngantuk." Jawabku jujur.
" Besok lagi ya?" Candanya mas Amal sambil mengedipkan matanya genit.
Aku hanya mengecup bibirnya. Selanjutnya aku berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Aku keluar dari kamar mandi memakai baju tidur. Mas Amal sudah terlelap disamping Wita.
Sebelum tidur aku mengecek pampers Wita dan menggantinya. Ku usap pipinya, Umi sayang padamu, nak. Umi berjanji akan selalu ada disamping kamu, nak. Entah mengapa hatiku sakit melihat Zuwita yang masih kecil tapi di paksa tegar oleh keadaan.
Aku membaringkan tubuhku di samping Zuwita. Dan setelah aku menikah dengan mas Amal, kupastikan hidup anak manis ini akan bahagia. Aku memeluknya dalam dekapanku.
***
Pagi sudah datang. Aku segera memandikan Zuwita, kami bernyanyi bersama. Aku juga tak henti mengajak Zuwita mengobrol untuk merangsang ke aktifannya.
" Yang, memangnya kamu tahu yang di ucapkan sama Wita?" Tanya mas Amal.
" Ya harus tahu dong mas, sebagai orang tahu kita harus belajar." Ucapku dengan percaya diri.
Aku mengikat rambut Wita, membuat mas Amal terheran-heran.
" Nanti kepalanya sakit yang.." ucap mas Amal rewel.
Aku hanya tertawa menanggapi ucapan mas Amal. Wajar ia khawatir, ia tidak tahu seluk beluk wanita dan ank kecil.
" Tara... Anak Umi cantik sekali.." Aku mencium pipinya, " wangi lagi. Coba de Bi, cium pipinya!" Aku sengaja membiasakan mas Amal semakin dekat dengan Zuwita.
Mas Amal mengambil Zuwita dari tanganku, " Wah.. anak Abi wangi sekali.. cantik lagi kayak Uminya." Mas Amal melirik kearahku.
Setelah Zuwita di ambil alih oleh mas Amal, aku segera mandi dan bersiap. Aku berpakaian simple hanya celana kulot putih di padukan dengan kemeja dan kerudung yang senada agar nantinya lebih mudah dalam mengasuh Zuwita. Karena anak itu sedang aktif-aktifnya.
Saat kami hendak keluar dari kamar hotel, tiba-tiba Wita tampak mengejan, seperti ingin buang air besar.
Aku dan mas Amal saling berpandangan.
Tercium aroma kurang sedap dari tubuh Zuwita, " kayaknya Wita BAB deh Yang, sini mas saja yang bersihin." Mas Amal ingin mengambil Zuwita dari gendonganku.
" Aku aja mas, percaya deh sama Uminya Wita." Aku berusaha meyakinkan mas Amal.
" Gak jijik Yang?" Mas Amal seperti ragu akan kemampuanmu.
Aku mengedipkan mataku sebelah, dan selajutnya kami melipir ke kamar mandi.
" Wita BAB ya..? Sakit ya perutnya tadi? Gimana sekarang sudah enakkan?" Aku kembali mengoceh mengajak Zuwita berbicara.
Tak lupa aku mengoleskan minyak telon ke area perut Wita. Aku kembali memakaikan pampers dan celana.
" Kita siap berangkat sayang? Let's go!"
Aku menggedong Wita yang tampak riang dan menggoyangkan kakinya.
Mas Amal mengusap sudut matanya.
Ia meraihku dan memelukku, mencium pucuk kepalaku. Kami berpelukan bertiga
" Kenapa nangis mas?"
" Ternyata Allah mengabulkan doa mas selama ini. Meminta agar mas, ibu juga Wita di pertemukan dengan wanita berhati malaikat. Dan sekarang wanita malaikat itu sudah hadir di tengah-tengah keluarga mas." Bergetar sudah suara mas Amal bercerita
" Insya Allah ya mas, mudah-mudahan Zahra bisa menjadi wanita yang baik untuk keluarga ini." Ucapku lembut.
Akhirnya kami berjalan keluar dari area hotel.
" Kita mau piknik kemana sih mas? " Aku masih bingung.
Mas pingin wisata ke Sumatra Barat. Setiap tahun teman-teman selalu memposting foto mereka." Ucap mas Amal bersemangat.
" Apa kita tidak terlalu lama mas? Bagaimana dengan anak-anak ngaji dan anak-anak disekolah nanti?" Aku mencoba mengingatkan.
" Mas sudah izin untuk waktu dua minggu menikmati waktu bersama kamu. Kalau untuk sekolah...." Ia terdiam sejenak. Ada keraguan terpancar di wajahnya.
" Mas uda mengundurkan diri." Jawab mas Amal.
Sontak aku terkejut mendengar penuturan mas Amal.
" Kenapa mengundurkan diri mas?"
" Ingin ngikutin jejak kamu." Jawab mas Amal cengengesan.
" Aku serius mas!"
" Setelah menikah denganmu, mas ingin hidup santai. Mengurus kebun sawit saja. Apa kamu masih mau hidup dengan mas yang tidak kantoran lagi?" Tanya mas Amal meminta pendapatku.
" Terserah mas saja, yang terpenting buat Zahra, mas nyaman dengan pekerjaannya. Dan yang lebih penting lagi pekerjaan mas halal dan tidak hasil mencuri barang orang lain." Tegasku.
Hari semakin siang, aku menikmati perjalananku kali ini bersama kekasih halalku juga keluarga baruku. Tidak terasa kami tiba di kelok sembilan. Aku yang masih menggedong Wita tampak takjub melihat jembatan megah nan kokoh ini. Aku tidak pernah membayangkan jika suatu hari nanti bisa menginjakkan kaki di kelok sembilan. Dan kini adalah waktunya. Tak lupa aku mengabadikan foto bersama Wita dan mas Amal.
Tampak sekeliling bukit-bukit yang di tumbuhi pepohonan lebat membuat suasana semakin hijau.
Sebelum melanjutkan perjalanan kami menyempatkan untuk shalat dan beristirahat. Aku juga mengganti pakaian Wita agar lebih nyaman nantinya di perjalanan. Kami bergantian untuk shalat agar ada yang menjaga Wita.
Setelah puas berada di kelok sembilan kami melanjutkan perjalanan kembali.
" Kita mau kemana lagi mas?"tanyaku pada mas Amal.
" Pernah lihat jam gadang enggak?" Tanya mas Amal balik.
Aku menggeleng, " enggak."
" Kita ke jam gadang ya. Kemungkinan magrib deh sampai disana. Setelah itu baru kita cari penginapan untuk istirahat." Ujar mas Amal sambil fokus menatap jalanan yang lenggang.
Aku sudah meletakkan Wita yang tertidur di belakang. Rasa kantuk datang menyerang hingga aku tertidur lelap di samping mas Amal.
" Yang.. bangun!" Mas Amal menggoyang bahuku.
Aku membuka mataku," uda sampai mas?" Ada rasa tidak percaya sehingga aku mencubit daging yang ada di tanganku.
" Jangan di cubit sayang, nanti sakit." Mas Amal meraih tanganku dan mengecupnya berkali-kali.