
Saat mataku akan terlelap, tante Lidya masuk kekamarku, " Abinya jemput tuh didepan."
" Abinya? Masih tidur tan. Tolong bilangin dong tan!"
" Jumpain gih." Tante berlalu meninggalkan ku.
Aku pun keluar kamar hendak menemui abinya Zuwita.
Aku tertegun menatap punggu lelaki yang sedang duduk di teras rumah.
Lelaki itu sepertinya aku kenal. Postur tubuhnya tidak asing bagiku.
Hingga tanpa kuduga, lelaki itu menoleh ke belakang.
Lelaki itu memergoki aku yang sedang memperhatikannya.
" Mas Amal?"
Ia seperti salah tingkah, namun ia berhasil menguasai keadaan, " saya mau jemput Zuwita. Zuwitanya mana ya?"
" Eh anu Zuwita sedang tidur di kamar saya. Masih lelap banget mas. Em.. kalau mas Amal tidak keberatan nanti setelah Zuwita bangun langsung saya antar." Aku berusaha bersikap biasa saja di hadapan mas Amal. Walau sesungguhnya aku merasa gugup berhadapan dengan lelaki berhati kutub itu.
" Oh Zuwita sedang tidur? Aduh! Maaf saya jadi ngerepotin kamu dan keluarga."
" Tidak perlu minta maaf mas, justru saya senang karena Zuwita anak yang super gemesin." Ucapku jujur.
Mas Amal hanya tersenyum setelahnya ia berpamitan pulang.
Aku menatap kepergiannya. Satu persatu mulai terungkap rahasia di lelaki berhati kutup itu.
Tak perlu aku mencari jawaban kesana dan kemari, nyatanya Allah lah sendiri yang menunjukan.
Jadi mas Amal itu abinya Zuwita?
Lalu kemana ibunya Zuwita? Meninggalkah?
Kasihan sekali jika ibunya benar meninggal.
Kasihan juga mas Amal, harus menjadi ayah juga menjadi ibu untuk Zuwita.
Aku melangkah masuk kedalam kamar. Bayi manis itu sefang tertidup pula. Kuperhatikan raut wajahnya, sangat mirip dengan mas Amal. Aku pun kembali baring di samping Zuwita. Mencoba untuk ikut tidur di samping Zuwita.
******
Hari sudah sore, tak lupa aku mengantar zuwita kerumah mas Amal.
Tak lupa aku meminjam kain jarik milik nenek dan nenek mengajariku cara menggendong Zuwita menggunakan kain jarik tersebut.
" Sudah kuat nek?" Aku meragukan kekuatan jarik yang sedang menahan tubuh gembul Zuwita.
" Sudah. Hati-hati! Sesekali pegang jangan lepaskan." Pesan nenek padaku.
Aku pun berangkat mengendarai sepeda motor milik tante Lidya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah mas Amal. Begitu banyak tatapan aneh yang mengarah kepadaku.
Dan Sepanjang perjalanan Zuwita tampak riang sesekali mengoceh.
Akhirnya kami tiba dirumah mas Amal, " assalamu'alaikum..."
" Waalaikumsalam..." Terdengar suara ibunya mas Amal.
" Eh, Zuwita uda pulang ya... Maaf ya neng, ibu jadi ngerepotin kamu." Ibunya mas Amal merasa tidak enak padaku.
" Tidak apa-apa kok buk. Justru saya senang karena jadi punya temen deh."
Ibunya mas Amal izin kedapur sebentar, katanya ingin membuat susu untuk Zuwita
Sambil bermain dengan Zuwita, aku memperhatikan ruangan rumah mas Amal. Berharap ada foto ibunya Zuwita yang tergantung di dinding.
Namun nyatanya nihil. Aku hanya melihat foto mas Amal bersama Zuwita dan foto kedua orang tua mas Amal.
" Kemana ibunya Zuwita?" Gumamku.
" Eh kok repot-repot sibuk." Aku jadi merasa sungkan.
" Tidak repot kok neng, justru ibu yang merepotkan neng."
Akhirnya aku mengobrol dengan ibunya mas Amal.
Karena penasaran dengan ibunya Zuwita dengan penuh keberanian aku pun bertanya pada ibunya mas Amal, " Bu, maaf bukan saya bermaksud lancang. Kalau boleh tahu ibunya Zuwita kemana ya buk?" Ada perasaan lega karena pertanyaan yang selama ini tersimpan di kepalaku sudah ku keluarkan.
Ada perubahan pada wajah ibunya mas Amal, wajah yang ramah tadi berubah menjadi memerah karena menahan amarah.
" Ibu, maaf kalau tidak berkenan tidak perlu dijawab pertanyaan saya."
Ibunya mas Amal masih terdiam membeku, tiba-tiba mas Amal datang entah dari mana.
" Maaf buk Zahra, kayaknya sudah sore dan cuacanya sudah mendung. Sebaiknya ibu pulang sekarang sebelum kehujanan."
Mas Amal berbicara tanpa menatapku. Ia berdiri dengan angkuhnya.
Aku menatap sebentar kearah mas Amal, kemudian bergantian kearah ibunya mas Amal. Suasana berubah menjadi dingin membeku. Aku mengerti, pasti ada sesuatu yang tersakiti disini.
" Baiklah mas, ibu, saya permisi pamit pulang. Zuwita, kakak pulang dulu ya." Aku berpamitan namun tidak adanyang menjawab. Hanya Zuwita yang tampak gelisah seperti tahu aku akan meninggalkanya.
Aku keluar dari rumah mas Amal dengan tatapan aneh dari tetangga yang ada disekitar rumah mas Amal.
" Buk guru ngapain?" Tanya seorang ibu yang seperti sangat penasaran dengan kedatangan ku kerumah mas Amal.
Aku hanya tersenyum tanpa berbicara sepatah kata pun.
Aku menghidupkan sepeda motor dan segera berlalu dari rumah mas Amal.
Air mataku terasa ingin jatuh, namun sebisa mungkin kutahan. Tidak pantas aku menangisi seseorang yang tidak pernah perduli kepadaku. Aku hanya sekedar sayang pada Zuwita bukan maksud yang lain-lain.
Aku sudah sampai dirumah. Segera kumasukkan sepeda motor ke garasi.
Aku masih tidak habis fikir, apa sebenarnya yang terjadi pada keluarga mas Amal?
***********
Pagi ini aku sudah sampai disekolah. Iam didinding masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Dan di ruangan ini hanya ada aku dan mas Amal. Kami berdua tampak kikuk sejak kejadian kemarin.
Ia menatapku seperti ada yang ingin disampaikan. Namun itu hanya dugaan sementara saja.
" Buk Zahra, maaf! mulai hari ini jangan pernah mendekati anak saya atau pun ibu saya. Jika hanya ingin mengetahui kehidupan keluarga saya." Ucapnya pelan namun menyakitkan.
Aku menyipitkan mataku, mencoba mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut mas Amal. Bagaimana pun aku adalah seorang wanita yang pasti akan tersakiti dengan ucapan pria berhati kutub ini.
Dan aku akan membela diriku sendiri agar ia tidak memandangku sebwlah mata.
" Maaf mas, maksud kamu apa? Yang mendekati anak dan ibu mu siapa? Tolong lah mas jangan terlalu pedas berbicara dengan perempuan. Saya hanya menyukai Zuwita, karena ia bayi yang lucu. Dan saya menyukai Zuwita jauh sebelum saya mengenal kalau kamu ternyata abinya Zuwita. Saya hanya kasihan kepada Zuwita, bukan bermaksud yang lain." Ucapku lantang.
Ia menatapku sinis dan berlalu meninggalkanku.
Aku memijit keningku yang mendadak pusing. Apa salahku? Salahkah jika aku ingin mengenal ibunya Zuwita?
" Selamat pagi buk Zahra.." pak Indro menyapaku dengan ramah pagi ini.
" Selamat pagi pak." Aku menyunggingkan senyum tipis pada pak kepala sekolah. Gairah mengajarku hilang karena sikap mas Amal yang luar biasa menyebalkan.
**************
Sampai sore perasaan ku tetap tidak tenang. Tante Lidya sedang pergi bersama om Iwan. Nenek sedang pergi pengajian bersama ibu-ibu didesa.
Aku hanya mondar-mandir tak jelas. Sampai mbak Tami kebingungan melihat tingkahku.
" Sebenarnya kamu kenapa sih Zah? Mbak perhatikan kayaknya punya beban berat banget." Mbak Tami menatapku penuh selidik.
" Em enggak kok mbak, biasa aja." Jawabku singkat.
Ada perasaan kehilangan saat satu hari saja tak ada Zuwita main ke rumah nenek. Biasanya kalau ada Zuwita aku akan mengajak bayi lucu itu berbicara, bernyanyi.
Ah, Zuwita kenapa sih abimu harus mas Amal yang super duper cuek dingin juga galak.. racauku dalam hati