
Mas Amal memberhentikan motornya di sebuah gerobak gorengan.
Ternyata banyak yang membeli, masih pagi begini kami sudah antri.
Saat aku sedang berdiri mengantri, di depanku ada sosok perempuan yang ku kenal.
"Ya Allah kenapa harus bertemu dengan wanita ini lagi?" Aku membatin dalam hati.
Aku berusaha menundukkan wajahku agar tidak melihat Sabrina.
Sabrina memang tidak melihatku, tapi ia berjalan melewatiku. Aku mengikuti arah langkah kaki Sabrina. Ia berjalan menghampiri mas Amal dan Zuwita. Mas Amal tidak menyadari kedatangan Sabrina karena terlalu asyik bercanda dengan Zuwita.
Berbagai pertanyaan menari-nari di kepalaku. Apa yang akan di lakukan oleh Sabrina? Aku segera memesan gorengan dan cepat-cepat menghampiri mereka.
Kulihat wajah mas Amal mengeras sepertmenahan emosi. Kami berempat menjadi tontonan orang-orang yang kebetulan berada di tempat ini.
Sabrina memandangku sinis, tampak ia tidak suka melihatku.
" Datang saja kerumah, tempat ini tidak pantas di jadikan penyelesaian." Ucap mas Amal kepada Sabrina.
Kemudian mas Amal menyuruhku naik, kami pun meninggalkan Sabrina di tepi jalan.
Sepanjang perjalanan mas Amal hanya diam. Aku pun takut untuk bertanya lebih jauh. Biarlah nantinya mas Amal aendiri yang akan bercerita padaku.
Kami sudah tiba di rumah. Mas Amal menggendong Zuwita masuk kedalam rumah. Ia duduk di sofa sambil berkali-kali mencium pipi Zuwita, seperti takut kehilangan.
Ibu menghampiri kami, " ada apa? Kok diam-diaman?" Mama tampak heran melihat kami bertiga.
Mas Amal mengusap sudut matanya.
" Ada apa Mal? Apa yang terjadi? Kenapa menangis?" Ibu mulai panik.
Kami saling memandang, ibu menatapku meminta jawaban atas sikap mas Amal, namun aku hanya menggeleng sebagai jawaban bahwa aku tidak tahu.
" Bu.." mas Amal membuka suaranya.
" Apa yang terjadi Mal?" Ibu mengusap punggung anak lelaki satu-satunya.
Mas Amal menatap Zuwita, ada perasaan sedih yang begitu terpancar di wajahnya.
" Sabrina meminta hak asuh Zuwita..." Ucap mas Amal lesu.
Ibu menghela nafas berat, " Kita tidak ada hak atas Zuwita, Mal. Bahkan setetes darahmu tidak ada mengalir di tubuhnya." Ucap ibu mengingatkan.
" Tapi Amal terlanjur sayang pada Zuwita, bu.." ucap mas Amal lagi.
" Lalu kita bisa apa Mal? Sekalipun di bawa kepengadilan kita tidak akan menang." Ucap ibu lagi.
Aku mendekat duduk di samping mas Amal, " mas, yang sabar ya. Zahra tahu ini adalah cobaan terberat. Tapi jangan lupa ada Allah Yang Maha Mengetahui." Aku mencoba menguatkan mas Amal.
***
Hari sudah sore, cuaca kali ini sangat cerah. Aku dan mas Amal duduk bersantai di halaman belakang. Zuwita sedang asyik belajar berjalan sambil tertatih tatih. Sesekali kami tertawa melihat tingkah lucu Zuwita.
" Seneng deh mas lihat Wita aktif begini." Ucapku sambil tersenyum.
Mas Amal meraih tanganku, " semoga kita bisa segera mempunyai momongan ya Yang." Tangan mas Amal yang sebelah mengusap perutku yang masih rata.
" Amin ya mas.." aku menyenderkan kepalaku di bahu mas Amal.
Disaat kami sedang bermesraan, ibu datang dengan wajah penuh kekhawatiran.
" Mal.. anu.. Sabrina datang bersama keluarganya."
Mas Amal bangkit dari duduknya dan segera menggendong Zuwita. Mas Amal dan ibu segera menemui Sabrina dan keluarganya.
Setelah selesai, aku membawa minuman itu kedepan. Tampak mereka sedang berdiskusi atas hak asuh Zuwita. Tampak perdebatan diantara mas Amal dan Sabrina.
Saat disinggung masalah ayah biologis Zuwita, mas Amal kalah telak. Dengan berst hati mas Amal memberikan Zuwita pada ibunya.
Mas Amal menggendong Zuwita masuk kekamar. Aku mengikuti mas Amal untuk membereskan baju-baju Zuwita, tak lupa pampers dan susunya ikut ku bawakan.
Mas Amal berkali-kali mengusap sudut matanya. Tapi Zuwita belum mengerti arti air mata kami. Ia masih tertawa riang dan berceloteh.
" Sudah siap?" Mas Amal menatapku sedih.
Aku hanya mengangguk. Bibirku terasa kelu. Cuma air mata saja yang turun dengan deras.
Kami berpelukan bertiga. Aku menahan tangisan suaraku agar tak keluar.
Aku mengecup pipi gembul Zuwita, " Umi pasti rindu, malah rindu.. banget. Adek baik-baik disana ya.. jangan rewel, jangan buat bunda marah." Aku berpesan pada anak bayi yang belum tahu apa-apa.
Mas Amal memberikan Zuwita padaku, sementara itu mas Amal membawa perlengkapan Zuwita yang sudah ku susun rapi di dalam tas.
Ibu mengambil Zuwita dari gendonganku, menciumi Zuwita dengan penuh cinta.
Aku dan ibu melepas kepergian Zuwita dengan tangisan.
Sabrina mengambil Zuwita dari tangan ibu dengan angkuhnya. Zuwita terlihat ketakutan dan menolak untuk di gendong oleh Sabrina. Ia berpegangan pada jilbab ibu yang panjang. Suara tangisan Zuwita terdengar sangat kencang. Ia menolak untuk ikut bersama Sabrina. Tapi Sabrina tidak perduli pada tangisan Zuwita. Ia menarik paksa genggaman Zuwita hingga terlepas.
Mas Amal bangkit dari duduknya, " jangan kasar pada Zuwita." Mas Amal meluapkan amarahnya pada Sabrina.
Sabrina menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada mas Amal, " bukan urusanmu, Zuwita anakku, bukan anakmu. Bahkan kau sedikitpun tak menyumbang benih di tubuh putriku." Ia tersenyum sinis dan berlalu dari hadapan kami di ikuti oleh keluarganya.
Mas Amal meninju dinding ruang tamu berkali-kali. Ia mengungkapkan kekesalan hatinya. Darah segar mengalir dari buku buku jari tangan mas Amal.
Mas Amal merosot jatuh kelantai, bajunya sudah basah dengan darah. Aku mengambil perlengkapan p3k yang ada di kamar mas Amal. Aku membersihkan luka mas Amal.
" Mas?" Aku menyentuh wajah mas Amal.
" Salahkah aku menyayanginya? Dia memang bukan anakku, bukan darah dagingku, 365 hari sudah aku mengurusnya. Dari ia hanya sebuah bayi merah yang hanya bisa menangis sampai kini ia sudah bisa memanggilku Abi, bukan waktu sebentar untuk saling menyayangi di antara kami. Dan kini namanya sudah terukir dihatiku lalu dengan seenaknya saja ia mengambil dariku ." Ia menepuk dadanya pilu.
Mas Amal tidak bisa menahan kesedihannya, begitu juga dengan ku. Sedangkan ibu sejak kepergian Zuwita sudah mengurung dirinya di kamar.
" Zuwita, semua sedih atas kepergianmu nak! Sehat-sehatlah disana." Doaku dalam hati.
***
Malam sudah datang, matahari telah tidur di peraduannya. Kini hanya bulan dan bintang yang bersinar menerangi gelapnya malam.
Tanpa Zuwita rumah ini sunyi. Mas Amal sejak sore tadi sudah tidur. Ia sedikit demam akibat luka di tangan. Ibu pun masih mengurung dirinya di kamar. Tinggallah aku yang masih termangu di depan televisi.
Rumit sekali hubungan mas Amal dan Sabrina. Setelah meninggalkan Zuwita,lalu dengan seenaknya mengambil Zuwita dari asuhan keluarga mas Amal.
*****
Pagi ini mas Amal masi termenung di teras rumah. Keceriannya hilang di bawa pergi oleh Zuwita. Hari ini ibu berpamitan akan pergi ke Medan. Katanya kalau berdiam diri dirumah pasti akan kembali terngiang oleh suara tangisan, tertawa juga ocehan dari Zuwita. Ibu sudah pergi bersama saudaranya yang juga akan pergi ke Medan.
Tinggallah aku berdua di rumah ini.
Pagi ini aku ingin sekali memasak sop ayam. Membayangkannya saja membuat air liurku menetes.
Aku membuka kulkas dan mengambil potongan ayam yang ada di freezer.
Tiba-tiba saja aku begitu mual melihat potongan ayam yang ada di hadapnku.
Segera aku lari kekamar mandi untuk memuntahkan isi perutku.
" Huek... Huek..!"