Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 26


" Kan ada hotel sayang..." Ia memainkan alisnya naik turun.


" Kita belum sah mas!" Aku mendelik marah.


" Tiga hari lagi kita sah sayang."


" Dalam waktu tiga hari Allah bisa merubah siapa saja, dalam waktu tiga hari Allah bisa saja merubah takdir." Jawabku lagi tak mau kalah.


" Buk ustadzah sedang ceramah? Memang nya kalau nginep di hotel salah ya buk ustadzah? Kan tidurnya sendiri-sendiri. Kita pesan kamar dua. Buk ustadzah kira saya suka menggauli orang yang belum saya halalin?" Ucapnya berkelakar.


Aku hanya senyum-senyum sendiri. Malu sendiri karena sudah sempat berpikiran kotor pada duda satu anak ini.


" Kenapa senyum-senyum sendiri nanti kesambat loh..."


Aku tak menanggapi ucapan mas Amal.


Aku loh mas kesambat cintamu batinku sibuk ngeromet sendiri.


Dasar pak duda, ngakunya gak suka menggauli yang belum halal. Nyatanya lihat tanganku saja ia gak tahan.


" Mas belum halal. Katanya gak suka gauli yang belum halal." Aku menyindir dengan memakai kata-katanya sendiri.


Ia hanya cengengesan mendengar kalimat sindiranku" sedikit saja sayang.."


Entah mengapa ia menyukai tanganku. Berkali-kali tanganku di genggam, berkali-kali juga tanganku di kecup, berkali-kali juga tanganku di bawa menyentuh dadanya.


Masih tangan saja yang di sentuh, tapi sudah seperti ada energi yang aku tidak tahu ikut menjalar di tubuhku. Hangat!


Kami berhenti makan di warung nasi uduk. Ternyata kami punya selera makan yang sama. Nasi uduk dengan lauk ayam khusus bagian paha.


" Suka paha juga?" Tanyaku.


" Suka. Tapi untuk saat ini sukanya hanya paha ayam." Candanya.


" Ya Allah mas, kita memang lagi bahas paha ayam bukan paha yang lain." Protes ku pada pak duda satu ini.


Aku mengeluarkan handphone dari tas. Mencari nomor ibunya mas Amal.


" Mau nelpon siap sayang?" Heran mas Amal melihatku melakukan video call.


Sambungan video call terhubung. Ada wajah Zuwita dan ibu di layar handphoneku. Seketika mas Amal merapatkan duduknya agar wajahnya bisa masuk di dalam video.


Tampak Zuwita yang sedang belajar ngomong ikut dengan cadelnya.


" Besok kita pergi sama-sama ya dik..." Ucapku lagi.


" Hati-hati ya Mal bawa mobilnya." Pesan ibu.


Setelah pesanan datang aku pun mengakhiri telponan ku dengan Zuwita yang di akhiri dengan tangisan zuwita yang ingin ikut.


" Mas, kayaknya kamu paham deh makanan yang enak di daerah ini." Tanyaku.


" Kalau masih daerah Riau, insyaallah pahamlah."


Dan setiap di ajak makan oleh mas Amal, tempatnya selalu nyaman. Ini sudah ketiga kalinya ia mengajakku makan di tempat yang berbeda dan tidak mengecewakan.


Mas Amal memberi uang padaku, " bayar ya!"


" Emang kenapa kalau mas yang bayar?"


" Nanti kita ketahuan kalau sedang pacaran." Jawabnya malu.


" Kan emang benar kita masih pacaran."


" Suuttt!" Ia memberi kode dengan menempelkan jari telunjuk di bibirku.


Aku pun berjalan kearah kasir dan membayar makanan yang kami makan tadi.


Mas Amal sudah menungguku di mobil, " ini mas kembaliannya." Ku letakkan uang kembalian di dashboard mobil.


" Pegang saja sayang, nanti buat beli minum." Jawab mas Amal tanpa melihatku. Ia fokus pada jalanan macet kota Pekanbaru pada sore hari.


Setelah terjebak macet berkali-kali akhirnya kami berhenti disebuah butik.


Aku dan mas Amal masuk kedalam. Ia menggandeng tanganku mesra.


Pintu di buka oleh karyawan butik, tampak seorang wanita cantik menyambut kami dengan ramah.


" Hai Amal... Akhirnya sampai juga."


Ia bersalaman dengan mas Amal.


Wanita cantik itu melirik kearahku, " ini calon istrimu?"


" Calon mas.." aku membenarkan ucapan mas Amal.


" Bukan Amal namanya kalau tidak banyak banyolannya." Ucap sarah lagi.


Kami pun bersalaman.


Kalau melihat sarah, sepertinya ia tahu betul bagaimana mas Amal. Mereka pun tampak akrab sekali. Jarang loh ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang langgeng. Biasanya mereka akan terjebak oleh perasaan cinta. Tapi mas Amal dan Sarah?


" Enak banget Si Amal, uda mau dua kali nikah. Lah aku satu kali saja belum." Ia tertawa sendiri.


Aku memperhatikan Sarah, sepertinya ia memendam perasaan cintanya pada mas Amal, sampai-sampai ia belum move on dari kisah percintaan. Ia juga sering menatap mas Amal. Sebagai sesama wanita aku bisa membaca gesture tubuh jika mencintai seseorang.


" Eh, jadi kamu mau pesan baju warna apa? " Tanya sarah.


" Kalau bisa sih aku mau yang sudah siap saja. Pernikahan kami tinggal tiga hari jadi tidak keburu waktunya. Kalau urusan warna da model aku serahin ke istri aja." Ujar mas Amal.


Dasar mas Amal dengan santainya bilang istri, aku hanya geleng-geleng kepala melihat pak duda satu anak.


Akhirnya aku dan sarah berdiskusi tentang warna model apa yang cocok untukku dan mas Amal.


Setelah selesai berdiskusi, aku dan mas Amal diajak Sarah untuk naik kelantai dua.


Masya Allah... Aku di buat kagum dengan penampilan lantai dua milik Sarah. Begitu banyak gaun pengantin hasil rancangannya yang terpajang.


Setelah menemukan ukuran yang pas akhirnya gaun pengantinku beserta punya mas Amal di bungkus.


Setelah selesai membayar, kami sejenak melakukan shalat magrib dan isya.


" Kita nginap saja ya?" Mas Amal meminta pendapatku.


" Bagaimana ya...?" Aku merasa ragu untuk menginap dihotel.


" Takut tidur sendiri?"


Mas Amal seperti bisa membaca jalan pikiranku.


" Kita pesan satu kamar yang ada tempat tidurnya dua. Mas janji tidak akan aneh-aneh. Percaya deh!" Mas Amal mengangkat dua jarinya di udara.


Aku dia sejenak. Apa pak duda ini bisa di percaya?


" Ayolah! Kalau kita pulang, resikonya besar sekali." Bujuk mas Amal.


Akhirnya dengan berat hati aku mengikuti mas Amal untuk masuk kedalam hotel.


Mas Amal memesan satu kamar dengan dua ranjang.


Resepsionis itu sedikit tersenyum melihatku.


Aku merasa malu karena belum menikah tapi sudah berani menginap di hotel.


Kami pun di antar oleh karyawan hotel menuju kamar yang kami pesan.


Karyawan hotel membuka pintu kemudian pergi meninggalkan kami berdua. Di kamar hotel ini hanya kami berdua.


Ya Allah... Jangan engkau kirimkan orang ketiga di antara kami doaku dalam hati.


Aku pun segera membersihkan wajahku. Menghapus mekaup, mas Amal menatapku dalam-dalam. Jangan-jangan pak duda kepengen....


Ih... Aku bergidik ngeri.


" Kenapa seperti itu?" Mas Amal heran menatapku.


" Eh.. anu.. em.." aku gugup menjawab pertanyaannya.


Mas Amal membaringkan tubuhnya di sebelahku." Mas?" Protesku.


" Cuma pengen dekat kamu sayang...! Janji gak macam-macam hanya satu macam saja." Ia tertawa sendiri.


Dasar pak duda!


Akhirnya kami tidur di satu ranjang dengan bantal guling sebagai penghalang jarak antara aku dan mas Amal.


Entah karena capek, atau karena ini yang dingin. Mataku begitu cepat terpejam. Mas Amal pun sudah menutup matanya. Terdengar dengkuran halus dari mulut mas Amal.


Disaat aku terjaga, betapa terkejutnya aku. Tangan mas amal sudah menempel di perutku. Guling yang kujadikan jarak sudah terlempar entah kemana.


Ya Allah...kini kami sudah berada dalam satu selimut. Apa yang dilakukan pak duda ini padaku? Aku memeriksa pakaianku dan ternyata pakaian yang aku kenakan masih lengkap dan aku mencoba merasakan bagian kemaluanku. Tidak ada rasa sakit sedikit pun.


Ya Allah apakah aku masih perawan?