Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 24


Tak terasa malam sudah datang. Aku meminta izin pada mas Amal untuk masuk duluan. Ibunya mas Amal menyuruh aku tidur di kamar menemani Zuwita.


Aku pun tidur di samping bayi manis ini. Saat sedang asyik mengamati Zuwita, pintu kamar di buka oleh seseorang. Aku langsung terduduk. Ada rasa takut yang menghantui.


Lampu di hidupkan tampak tampak seraut wajah yang kukenal.


" Zah, ini Pampers untuk Wita. Nanti kalau Wita nangis bangunin saya saja. Biasanya dia mau minum susu dan ganti Pampers." Ucap mas Amal memberi tahu.


" Gak usah khawatir mas, nanti Zahra yang gantiin dan buat susu untuk Zuwita." Ucapku meyakinkan mas Amal.


" Makasih ya.. sudah mau ikut menyayangi Wita." Mas Amal berjongkok didekatku.


Ia mendekatkan wajahnya kepadaku.


" Mau apa mas?" Jantungku berdebar tak menentu.


" Mau nikahin kamu."


Ucapnya serius sambil meraih tanganku. Menggenggamnya.


" Menikahlah denganku, Aku butuh istri yang baik juga ibu yang baik untuk Wita."


" Berdoa saja mas, mudah-mudahan kita berjodoh ya mas." Aku menatapnya penuh cinta.


" Tidurlah sudah malam. Jangan lupa mimpiin mas ya." Ia mengusap pucuk kepalaku yang tertutup kerudung.


Mas Amal keluar dari kamar ini. Aku terasa bahagia malam ini. Kini aku seperti yakin untuk menerima lamaran dari mas Amal.


***********


Hari ini kami sudah siap berkemas-kemas hendak pulang. Kami sudah berpamitan pada keluarga mas Amal. Banyak yang mendoakan kami agar segera naik pelaminan. Mengingat aku dan mas Amal tampak serasi kata mereka. Tapi bagiku bukan serasi yang utama. Bagiku suami yang kucari adalah suami yang bisa membimbing ku sampai ke surganya Allah nanti.


Kami sudah meninggalkan rumah keluarga mas Amal.


Aku masih asyik memangku dan bermain dengan Zuwita.


" Sepulang dari sini boleh mas datang kerumahmu."


" Kalau mau datang silahkan datang mas."


" Bersama keluarga mas." Tanyanya lagi.


Aku mengangguk memberi sinyal hijau padanya.


" Yes!" Mas Amal bersorak kegirangan.


" Seneng banget sih, oh iya surat pengunduran kemarin sudah di kasih ke pak Indro?"


" Sudah, tapi dari auranya kayaknya pak Indro marah deh. Oh ya kenapa kamu gak mau menerima lamaran pak Indro?"


" Apa perlu Zahra jawab ya mas?"


" Perlu, biar mas tahu bagaimana kriteria suami idaman mu. Secara pak Indro sudah mapan tapi kamu tolak. Mas jadi mikir takutny mas tidak lolos nantinya."


" Kalau mas di sukai sama orang yang usianya lebih tua dari mas, kira-kira mas mau enggak nerima cintanya?" Aku balik bertanya.


" Ya kalau mas sudah cinta ya mas akan lamar dan nikahin dia. Kalau kamu sendiri?" Ucap mas Amal sok bijak.


" Mas, sekalipun pak Indro mapan, hartanya tujuh turunan tidak habis, tapi kalau Zahra tidak punya perasaan tentu Zahra akan menolak. Mas bayangin Zahra punya suami tapi seumuran dengan almarhum papa."


" Malas ah bayanginnya. Ngeri!" Mas Amal begidik sambil tertawa.


Ibunya pun ikut tertawa mendengarkan kami ngobrol.


Sementara anak manis ini hanya bisa tertidur kalau sedang naik mobil. Kalau bangun pasti minum susu terus lanjut tidur lagi.


Akhirnya setelah lelah di perjalanan kami pun tiba dirumah. Mas Amal turun membawakan oleh-oleh untuk nenek dan tante Lidya sementara ibu dan Wita sedang tertidur lelap di kursi belakang.


Nenek menyambut kedatangan kami, Bagaimana perjalanannya? Lancar? Ibu mu mana?"


" Alhamdulillah nek. Ibu tidur sama Wita nek. Oh ya nek, Insya Allah kalau tidak ada halangan dua hari lagi saya akan datang bersama keluarga kerumah nenek untuk melamar Zahra."


Aku terkejut mendengar ucapan mas Amal yang terkesan nekat.


" Oh silahkan, nenek tunggu kedatangan kamu dan keluarga." Jawab nenek.


Setelah bersaliman dengan benek mas Amal pun pulang.


" Insya Allah mas Amal bisa menjadi imam yang baik untuk Zahra ya nek." Aku mencoba meyakinkan nenek.


************


Nanti malam mas Amal akan datang kerumah nenek. Dari pagi kami sudah sibuk memasak untuk jamuan makan malam nanti saat keluarga mas Amal datang.


Tak lupa nenek juga mengundang para tetangga untuk datang menyaksikan acara lamaran kami.


Tak sedikit yang menggunjing tentang hubunganku dan mas Amal. Ada yang mendukung, ada juga yang menyayangkan karena aku mau menerima lamaran seorang duda. Kata mereka, kalau aku mau saja tentu aku masih bisa mendapatkan pria yang tampan, lajang juga tentu kaya.


Tetapi sepanjang perjalanan cintaku, sudah kutemui pria tampan tapi suami orang. Pria lajang pun sudah kutemui tapi yang terpancar adalah aura negatif. Bahkan untuk yang kaya raya pun sudah kutemui, bahkan ingin melamarku. Tapi usianya jauh lebih tua. Ia lebih cocok menjadi ayahku ketimbang suamiku.


Dan pilihanku jatuh pada mas Amal. Pria tampan,soleh, suaranya begitu merdu saat menyerukan suara adzan. Dan minusnya dia sudah punya bontot.


Tapi aku tidak pernah mempersoalkan kehadiran Zuwita di tengah-tengah kami. Aku juga sudah terlanjur sayang pada Zuwita. Di usia yang masih dini ia sudah kehilangan kasih sayang seorang ibu.


Sedangkan bagi seorang anak, ibu adalah madrasah bagi tumbuh kembangnya sang anak.


Dari seorang ibu, anak belajar berbagai hal.


Entah mengapa begitu kuat dorongan dalam hatiku untuk menjadi seorang ibu dari Zuwita.


Tak terasa malam sudah datang, jantung tak berhenti untuk berdetak. Malam ini aku merasakan udara lebih panas. Berkali-kali aku mengusap wajahku.


" Kamu gugup?" Tanya tante Lidya heran.


Sudah banyak sampah tisu di sampingku.


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan tante Lidya.


" Ini masih acara kecil loh, bagaimana kalau menghadapi hari pernikahan? Mungkin bajumu akan basah oleh keringat." Tante Lidya membuat lelucon, mungkin agar aku lebih rilexs.


Jam didinding sudah menunjukkan pukul delapan. Terlihat sorot lampu mobil yang masuk dari jendela kamarku.


" Tuh mereka datang. Yuk keluar!" Ajak tante Lidya sambil menggandeng tanganku.


Aku pun mengikuti tante Lidya.


" Tanganmu dingin sekali." Bisik tante Lidya di telingaku. Tante Lidya tampak cekikikan sambil menutup mulutnya.


Sedangkan aku menowel pinggang tante Lidya.


Kami menyalami tamu yang datang bersama mas Amal. Tak terkecuali aku pun bersalaman dengan mas Amal dan Zuwita.


Anak manis itu pun segera berpindah gendongan kearahku.


Setelah semua duduk dan tenang. Perwakilan keluarga mas Amal pun memulai berbicara dengan menyampaikan maksud kedatangannya adalah untuk melamarku.


Dan hal yang paling gugup adalah saat mas Amal memasang kan cincin di jari manisku. Tanganku bergetar dan terasa dingin.


Saat tangan kami bersentuhan, sempat-sempatnya mas Amal membuat lelucon yang mengundang orang tertawa.


" Tangannya dingin banget. Ini kenapa goyang ya? Gemetaran?" Tanya mas Amal.


Sontak orang yang ada di sekeliling kami tertawa terbahak-bahak.


Dasar mas Amal, apa dia tidak tahu jika ini menjadi pengalaman pertama dalam hidupku.


Setelah selesai pemasangan cincin, dilanjutkan untuk menentukan tanggal pernikahan. Dan ini diserahkan kepada aku dan mas Amal.


" Kalau saya maunya di percepat saja pernikahannya. Seminggu lagi pun tak masalah." Jawab mas Amal santai.


Dan entah mengapa setiap mas Amal berbicara selalu mengundang gelak tawa.


" Sudah gak sabar ya mal."


" Wah si Amal sudah gak sanggup menjadi duda."


Begitu banyak kata-kata yang ditujukan terkhusus untuk mas Amal.


" Tapi itu kembali lagi kepada Zahra." Ucap mas Amal lagi.


" Kalau Zahra bagaimana baiknya saja, dan kalau untuk pernikahan Zahra hanya ingin pernikahan yang sederhana dan yang sakral. Tidak perlu mengadakan pesta besar-besaran." Ucapku lagi.


Dan akhirnya tanggal pernikahan kami sudah di tentukan. Satu minggu dari sekarang.