
Akhirnya dengan perdebatan yang alot Zuwita kembali kepelukan mas Amal. Sementara mantan istri mas Amal menatapku tajam.
Tetangga sudah pulang. Hanya ada aku,nenek, mas Amal, ibunya mas Amal dan mbak Tami.
" Memangnya kamu serius sama Zahra?" Tanya nenek kepada mas Amal.
Sontak mataku membulat mendengar pertanyaan nenek yang begitu bar-bar untukku.
Mas amal menatapku, aku hanya bisa membuang pandanganku.
" Jika Zahra bersedia., Insya Allah saya mau melamar dalam waktu dekat." Ucap mas Amal pasti.
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang bisa kulakukan hanyalah menunduk sambil berusaha mendiamkan Zuwita yang masih merengek karena keributan tadi.
" Bagaimana Zah?" Tanya mas Amal yanng membuatku semakin kikuk.
" Minta waktu untuk berfikir." Ucapku lagi.. bagaimana pun menikah itu tidak boleh terburu-buru. Setidaknya aku harus meminta petunjuk pada sang pemilik hidup.
Keluarga mas Amal sudah berpamitan pulang, hanya Zuwita yang yang masih tinggal bersamaku.
Bayi manis ini seperti trauma dengan keributan tadi.
" Kasihan kamu!" Aku mengusap lembut wajahnya. Ia tampak kegirangan.
" Zah, kamu serius dengan Amal?" Tante Lidya seperti penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari mulutku.
" Zahra..." Ucapanku terhenti karena di potong oleh tante Lidya.
" Berat menikah dengan pria yang sudah punya anak, apalagi istrinya seperti tadi." Tambah tante Lidya.
Aku menatap tante Lidya, mencoba mencari kebenarannya atas ucapan tante Lidya.
" Bayangin aja Zah, bagaimana kalau kamu menikah dengan Amal. Lalu mereka masih cinta. Diam-diam mereka selingkuh di belakangmu. Apa lagi ada Zuwita diantara mereka berdua. Hi...!" Tante Lidya bergidik ngeri.
Aku manggut-manggut seperti membenarkan ucapan tante Lidya. Lalu aku akan kembali merasa tersakiti seperti dulu.
" Sebaiknya kamu pikir-pikir dulu deh. Boleh sayang sama Zuwita, tapi jangan pertaruhkan masa depanmu pada mereka." Ucap tante Lidya sambil menggeloyor pergi masuk kekamar.
Nenek hanya diam mendengarkan aku dan tante Lidya.
Sesekali ia melihatku dan Zuwita. Namun aku tidak bisa membaca jalan pikiran nenek.
Nenek perlahan meninggalkanku, aku pun membawa Zuwita masuk kekamarku. Sepertinya ia mengantuk.
Aku meninabobokan Zuwita, tidak butuh waktu lama ia sudah terlelap.
Allah apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menerima lamaran mas Amal? Kalau ditanya, apakah aku punya perasaan pada mas Amal, tentu aku punya. Sejak pertama aku menatapnya di sekolah. Walau ia tpak begitu jutek padaku.
Tring...!
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Aku membuka pesan yang menggunakan huruf kapital semua. ( JAUHI MAS AMAL DAN JUWITA JIKA TIDAK MAU HIDUPMU HANCUR).
Siapa yang berani mengancamku? Apakah mantan istri mas Amal?
**********
Malam sudah datang menunjukkan gelapnya. Zuwita sudah dijemput oleh mas Amal.
Aku masih duduk sendiri di teras depan rumah. Tiba-tiba ada sepeda motor yang berhenti.
Tampak seraut wajah yang ku kenal.
Andre! Mau apa dia. Padahal malam ini aku sedang malas berbincang dengan siapa pun.
" Assalamu'alaikum sayang.." mas Andre menyapaku dengan banyolannya yang konyol.
" Apaan sih mas sayang-sayang? Nanti ada yang marah loh!" Aku sedikit menyindir mas Andre.
" Siapa yang marah? Amal?" Ia balik meledekku.
Aku pura-pura merengut menanggapi ucapan mas Andre.
" Makan bakso yuk!" Ajak mas Andre.
Aku menggeleng sebagai tanda menolak, " aku sedang malas mas."
" Kenapa? Karena masalah tadi?" Ia mencoba menebak-nebak.
" Tidak perlu membahas masalah yang bukan ranah kita mas." Aku mencoba mengingatkan mas Andre.
" Kamu tersinggung?"
Ia seperti memancing amarahku. Dan aku mencoba untuk tetal bersikap lembut walau amarahku sudah memuncak hingga sampai ke ubun-ubun.
" Mas, kamu boleh pulang sekarang! Aku sedang tidak enak badan." Aku mencoba meminta pengertiannya.
Ia menatapku dalam-dalam. Aku membalas tatapannya dengan penuh kebencian.
Ia pulang tanpa berpamitan padaku. Ia memacu kecepatan motornya. Dan aku tidak perduli.
Dari awal berkenalan dengan mas Andre, aku sudah menilai negatif padanya. Dan ternyata terbukti. Sifatnya sangat buruk.
Aku masih duduk di depan rumah, hingga ada sebuah mobil datang.
Aku mengamati mobil tersebut. Sepertinya mobil pak Indro, dan benar saja tebakanku.
Pak indro keluar dari mobil dengan wajah sumringah.
Ada apa gerangan? Tumben sekali.
Aku mempersilahkan pak Indro masuk kedalam rumah. Begitu banyak biih tangan yang di bawah oleh pak Indro.
Tak lupa aku juga memanggil nenek.
Nenek sangat senang dengan kehadiran pak Indro. Apalagi pak Indro adalah teman terbaik papa dari kecil.
Om Iwan dan tante Lidya juga ikut duduk bersama di ruang tamu.
Untuk menghormati pak Indro aku juga turut hadir menemani nenek.
Basa basi telah selesai. Yang ada saat ini adalah ke canggungan diantara kami semua.
Hingga pak Indro mengutarakan maksud kedatangannya.
" Maksud kedatangan saya kesini adalah.. em bermaksud.. anu.. " ia kembali mengusap wajanya.
Ada kebingungan yang terpancar di wajah pak Indro.
Aku dan tante Lidya saling memandang, seperti ada ketidakberesan yang akan terjadi.
Perasaanku pun sudah tidak enak. Mengingat pak Indro adalah seorang duda cerai mati.
Aju bukan bermaksu gede rasa tapi melihat cara pak Indro berbicara sudak tampak belepotan.
" Kenapa gugup pak? Coba lebih rileks!" Om Iwan mencoba membuat pak Indro lebih nyaman.
Berkali-kali juga pak Indro menarik naas kemudian membuangnya.
Setelah merasa cukup tenang, akhirnya, " kalau Zahra bersedia saya ingin melamar Zahra."
Perkataan pak Indro sontak membuat kami saling pandang. Tante Lidya sudah menutup mulutnya agar tidak tertawa. Om Iwan pun melakukan hal yang sama seperti tante Lidya. Hanya nenek yang masih terpaku seperti patung. Bahkan mulut nenek masih terbuka. Untung saja suasana masih malam, jadi tidak ada lalat yang berterbangan.
" Bagaimana buk?" Pak Indro mencoba meminta pendapat pada nenek.
Tentu saja nenek tampak uring-uringan. Ada wajah yang sedang menahan amarah. Namun nenek begitu pandai untuk menyembunyikan itu semua.
Karena bagi nenek siapapun tamu yang datang kerumahnya ia akan menghormati layaknya raja.
" Maaf ya pak Indro, kami butuh waktu untuk memikirkan hal yang serius seperti ini. Bapak bisa datang satu minggu. Zahra pasti punya keputusan yang terbaik."
Ah, nenekku adalah pahlawanku. Bisa diandalkan dalam segala hal.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya pak Indro pamit pulang.
Setelah memastikan pak Indro sudah jauh, tiba-tiba saja om Iwan tertawa terbahak-bahak. Om iwan tertawa sambil memegang perutnya. Begitu pun nenek dan tante Lidya. Mereka tertawa sambil memegangi perutnya.
Aku menatap mereka satu persatu. Sampai cukup lama aku menunggu tawa mereka reda. Setelah suasana cukup tenang om Iwan angkat bicara, " kamu ini kenapa sih Zah? Cantik iya, manis iya, baik iya. Tapi yang mau melamar kamu semuanya duda. Dulu suami orang hadeh ..." Om Iwan masih tertawa sambil menggelengkan kepala.
Mungkin tidak habis pikir dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.
" Emang kamu mau menikah dengan pak Indro? " Tante Lidya bertanya penuh selidik.
Kira-kira mau enggak ya menikah dengan pak Indro? Tinggalin jejak dikolom komentar ya..🙏