
Ada perasaan kehilangan saat satu hari saja tak ada Zuwita main ke rumah nenek. Biasanya kalau ada Zuwita aku akan mengajak bayi lucu itu berbicara, bernyanyi.
Ah, Zuwita kenapa sih abimu harus mas Amal yang super duper cuek, dingin juga galak.. racauku dalam hati.
Aku menunggu sampai sore berubah menjadi Magrib, namun mas Amal tak juga lewat bersama Zuwita. Sedang apa ya bayi lucu itu? Menangiskah ia hari ini?
Aku menatap photonya di galeri handphone ku. Sesekali kuputar videonya saat ia sedang tertawa.
Malam mulai beranjak, setelah melaksanakan shalat isya aku duduk di depan televisi. Aku membuka aplikasi berlayar hijau. Tampak status dari mas Amal muncul di handphone ku dengan caption ' cepat sembuh Zuwita hatiku'
Zuwita sakit? Sakit apa? Hatiku menjadi risau. Radanya ingin sekali aku menjenguk Zuwita namun aku masih ingat kata-kata mas Amal yang melarangku untuk berdekatan dengan Zuwita dan ibunya.
Salahku apa mas? Batinku pilu.
********
Ini adalah hari ke tujuh dimana aku tidak pernah bertemu dengan Zuwita. Sedikit demi sedikit aku mulai terbiasa tanpa kehadiran bayi mungin nan lucu tersebut.
Aku masih asyik bermain ponsel dikamar, hingga seseorang mengetuk pintu kamarku.
" Masuk!" Aku menjawab dari dalam kamar dengan malas-malasan.
Wajah Mbak Tami muncul di balik pintu,
" Ada ibunya mas Amal."
Seketika aku loncat dari tempat tidurku.
" Mau ngapain mbak?" Tanyaku bingung.
Mbak Tami hanya mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu. Aku pun menjumpai ibu mas Amal didepan.
" Ibu..." Aku menyalami ibu mas Amal.
" Neng, maksud kedatangan Ibu kesini mau ngajak neng Zahra untuk menjenguk Zuwita di rumah sakit." Ucap ibunya mas Amal memohon.
" Zuwita masuk rumah sakit? Sakit apa buk?" Aku begitu terkejut mendengarnya. Yang aku tahu Zuwita hanya sakit tidak tahu kalau harus di infus.
" Demam tinggi. Setiap hari rewel. Ibu teringat sama kamu. Zuwita itu baik banget kalau dekat sama kamu. Mungkin Zuwita kangen sama kamu." Ucap ibunya mas Amal.
Aku masih terdiam bingung. Kalau menurut kehendak hati ingin rasanya aku terbang kerumah sakit untuk menjenguk Zuwita, namun kalau mengingat sikap mas Amal aku madih berfikir dua kali untuk itu.
" Neng tolong ibu!"
Aku menatap wajah ibunya mas Amal. Ia menangkupkan tangannya didada.
"Saya ganti baju sebentar ya buk."
Aku masik kekamar dan hendak bersiap untuk kerumah sakit.
Aku juga menitip pesan pada mbak Tami agar memberi tahu nenek kalau aku akan kekota untuk menjenguk Zuwita.
Akhirnya kami pergi drngan mobil uang di supiri oleh sepupu mas Amal.
" Buk, sebenarnya saya takut untuk menjenguk Zuwita, karena mas Amal melarang saya untuk berdrkatan dengan Zuwita dan ibu." Ucaku takut-takut.
" Maafkan kelakuan Amal ya neng. Semenjak ditinggal istrinya ia jadi orang yang paling sensitif." Ujar ibunya mas Amal.
" Kalau boleh tahu ibunya Zuwita kemana ya buk?" Aku kembali menberanikan diri bertanya perihal ibunya Zuwita.
" Ibunya Zuwita selingkuh dengan seseorang !" Ucap ibunya mas Amal dengan suara serak .
" Astaghfirullah!" Hanya itu yang bisa ku ucapkan.
" Amal seperti benci kepada perempuan." Jelas ibunya mas Amal dengan mata mulai berkaca-kaca.
Ah, akhirnya aku menemukan jawabannya. Ternyata mas Amal sudah menikah. Zuwita adalah anak kandung mas Amal. Istri mas Amal ternyata berselingkuh.
Ya Allah.. hidup seperti apa ini. Pantas saja mas Amal sangat cuek terhadap perempuan bahkan terkesan sinis. Kasihan sekali Zuwita, ibu seperti apa yang bisa meninggalkan anaknya sendiri demi pria lain.
Aku seperti tidak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan itu.
Apa kekurangan mas Amal?
Batinku sibuk bertanya-tanya sendiri.
Mas Amal sedang membujuk putrinya yang sedang rewel. Sesekali ia mengusap sudut matanya.
" Mal." Ibu memegang bahu mas Amal.
Mas Amal tampak terkejut melihat kehadiranku.
Tanpa canggung aku mengambil Zuwita dari pangkuan mas Amal.
" Hai sayang.. kamu sakit ya... Uda minum susu?" Aku sibuk mengajaknya berbicara.
Zuwita menatapku dalam diam. Tidak ada suara rengekan nya seperti saat bersama mas Amal.
Bayi mungil itu memelukku sesekali mengoceh memanggil ma- ma.
Aku memeluknya. Entah mengapa hatiku begitu rapuh melihat Zuwita seperti ini.
Aku sudah sayang padanya sejak pertama kali mengenalnya.
Aku yang masih sibuk mengurus Zuwita sesekali melirik ke arah mas Amal. Ia sedang duduk bersender di kursi. Sesekali tatapan mata kami bertemu. Dan ia selalu membuang pandangannya.
Kini Zuwita sudah tertidur lelap. Sebelum tidur tadi aku sudah membersihkan tubuhnya, mengganti bajunya juga mengganti Pampers nya dan memverinya susu. Dan sekarang ia tampak lebih wangi.
Ibunya mas Amal sedang izin keluar untuk membeli makanan. Kini tinggal kami berdua didalam ruangan ini.
Ruangan ini sunyi dan senyap. Hingga suara cicak berkejaran pun terdengar ke telinga.
Aku masih duduk di samping ranjang Zuwita, hingga mas Amal mendekatiku, " terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk Zuwita. Maaf kalau kemarin saya berbicara kasar sama kamu." Ucapnya pelan, namun masih bisa kudengar lembut suaranya.
Aku hanya mengangguk, bingung ingin menjawab apa. Tapi ada perasaan haru, karena mas Amal masih mau meminta maaf atas sikapnya yang kemarin.
" Sudah berapa lama Zuwita dirawat mas?" Aku mencoba mencari topik pembahasan agar kami tak saling diam.
" Hampir tujuh hari. Selalu panasnya naik turun. Kemarin ibu menyarankan agar menjemput kamu. Mungkin Zuwita kangen sama kamu." Ucapnya lagi.
Saat sedang berbincang dengan mas Amal, masuk lah seorang Dokter y yang akan mengecek keadaan Zuwita.
" Wah, sudah tidak rewel lagi ya pak anaknya. Rupanya mamanya sudah datang." Celetuk Dokter tersebut.
Sontak mataku melotot kaget! Aku melihat mas Amal menutup mulutnya berusaha menahan ketawa.
" Kalau malam ini demam nya tidak naik, insyaallah besok sore sudah boleh pulang ya pak Amal dan ibu...?" Ucapan Dokter itu menggantung.
" Zahra Dok." Sambung mas Amal.
" Iya buk Zahra." Ucap Dokter tersebut menyambungkan ucapannya yang sempat terputus tadi.
Dokter itu sudah pergi meninggalkan kami. Namun mas Amal masih menahan ketawanya. Baru kali ini aku melihat senyumnya yang bersahabat.
" Maafin Dokter nya ya?" Ucap mas Amal.
" Heheh.. iya mas." Ucapku malu-malu.
**********
Malam kian larut. Aku sudah mengabari nenek bahwa malam ini aku tidak pulang dan masih menginap dirumah sakit untuk menemani Zuwita.
Bayi lucu nan menggemaskan itu tampak tertidur lelap.
Ibu mas Amal pun sudah tidur di bawah rabjang Zuwita. Tampaknya ibu mas Amal sangat kelelahan hingga tak sanggup lagi untuk membuka matanya.
Sementara aku dan mas Amal masih terjaga.
Aku berusaha untuk menutup mataku, namun tetap saja tidak bisa.
" Belum bisa tidur?" Tanya mas Amal.
Sepertinya ia memperhatikanku yang sedang gelisah.
" Matanya ndak bisa diajak kompromi mas." Ucapku lagi.
" Sini duduk sini!" Mas Amal menepuk kursi panjang yang ada disebelahnya.
Ya Allah...jantungku seperti mau copot. Apa telingaku masih bagus? Apa aku tidak salah dengar?