Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 30


Aku mendengarkan cerita dan kisah cinta juga perjalanan hidup mas Amal. Dan aku begitu takjub melihat kelembutan hati mas Amal yang dengan suka rela menyayangi Zuwita dengan tulus, walau satu tetes darah pun tidak ada yang mengalir di tubuh Zuwita.


Banyak hal yang membuatku terkejut mendengar semua penuturan mas Amal, salah satunya ialah ketika ia tak menyentuh Sabrina sedikit pun walau mereka sudah menikah sekali pun. Dan aku bisa membaca begitu teguh keimanan mas Amal. Padahal aku yakin, Siapa pun lelaki pasti akan goyah jika terus menerus di goda.


Kini mas Amal merapatkan tubuhnya padaku. Kami saling berpegangan tangan. Mas Amal mendekat kearah wajahku. Sesekali aku melirik kearah Zuwita, takut bayi manis itu terbangun.


Pelan namun pasti mas Amal mulai mencicipi bibirku. Jangan tanya bagaimana gemetarnya badanku. Ini adalah pengalaman pertama untukku.


" Masih siang mas!" Aku mencoba menahannya berulang kali.


Namun alasan yang ku berikan tidak cukup untuk melarang mas Amal.


Hingga kami melakukan hubungan suami istri siang ini. Hubungan yang sah dan bebas kami lakukan dengan catatan hanya untuk kami berdua.


Zuwita masih terlelap tidur disampingku. Aku dan mas Amal melihat noda merah yang terkena seprai.


" Masih ori." Candanya.


Aku menutup wajahku dengan bantal. Ada perasaan malu karena mas Amal membahasnya. Ada perasaan bahagia, karena aku berhasil mempersembahkan keperawanan ku untuk suamiku.


Berkali-kali mas Amal memelukku, " terimakasih sudah memberikan yang terbaik untuk mas dan Zuwita. Semoga kita segera memberikan adik buat Zuwita."


Aku mencubit pinggang mas Amal pelan," secepat itu mas?" Tanyaku malu.


Ia hanya mengedipkan matanya sebelah. Kemudian ia masuk ke kamar mandi. Ku dengar guyuran air dari dalam kamar mandi. Aku masih menutup tubuhku dengan selimut. Ada rasa sakit di sekitar kemaluanku yang membuat aku takut untuk bergerak.


Mas Amal selesai mandi dan bergegas memakai baju. Ia keheranan melihatku meringis kesakitan.


" Sakit?" Tanyanya.


Aku hanya mengangguk. Tiba-tiba saja di luar dugaanku, mas Amal memapahku ke kamar mandi.


Tanganku bergelayut di lehernya. Sedangkan wajahku ku tutup di dadanya.


" Jangan malu, kita sudah sah." Ucap mas Amal sambil mengecup bibirku.


Aku pun memulai untuk mandi wajib. Ya Allah.. begitu indahnya pacaran setelah menikah.


Saat selesai mandi, aku melihat Zuwita sudah bangun. Dan hendak di mandikan oleh mas Amal.


" Pakai baju yang cantik ya, aku mau ajak kamu jalan ke kota." Ia berlalu dari hadapanku sambil menggendong Zuwita ke kamar mandi.


Tanpa banyak tanya, aku menuruti ucapan mas Amal.


Sekarang Zuwita sudah siap mandi.aku sudah mempersiapkan pakaiannya dan aku mulai mendandani Zuwita secantik mungkin.


" Kita serius mau ke kota sore-sore mas?" Tanya ku memastikan.


" Iya." Mas Amal mulai mengumpulkan perlengkapan Zuwita. Mulai susu, baju, pampers dan selimut.


Ah, salut lihat ketelatenan mas Amal.


" Ibu sudah tahu mas? Atau kita ajak ibu sekalian?" Tanya ku memastikan.


" Sebelum menikah, mas sudah bilang sama ibu. Tapi nanti kita coba ajak ibu lagi."Jawab mas Amal.


Aku pun mulai mengumpulkan perlengkapan ku dan mas Amal.


Setelah merasa sudah siap kami bertiga keluar kamar.


Ada ibu yang sedang santai duduk di depan televisi.


" Jadi ke kotanya Mal?" Tanya ibu.


" Jadi bu." Jawab mas Amal.


" Ibu gak ikut?" Aku mencoba mengajak ibu, karena merasa kasihan meninggalkannya sendiri.


"Bu, sekarangkan sudah ada Zahra, Zahra akan menjadi umi yang baik untuk Zuwita. Dan kemana pun Zahra dan mas Amal, Zuwita harus ikut. Sudah waktunya ibu istirahat. Menikmati waktu bersantai. Biarlah zuwita menjadi tanggung jawab kami berdua." Aku mencoba menepis keraguan di hati ibu.


Dan aku ingin membuktikan pada ibu jika aku bukanlah ibu tiri yang jahat seperti di sinetron yang sering ibu tonton.


Akhirnya kami bertiga masuk kedalam mobil. Zuwita tampak senang.


Saat sampai di sebuah pertigaan, aku dan mas Amal melihat Sabrina sedang bergandengan mesra dengan seorang pria.


" Itu pria yang kamu pergoki waktu di hotel mas?" Aku menunjuk ke arah Sabrina.


Mas Amal mengurangi kecepatan laju mobilnya, dan sejenak memerhatikan Sabrina dan pria yang ada di sampingnya, " bukan." Jawab mas Amal singkat.


" Sudahlah, dia hanya wanita masa lalu ku. Tak perlu dibahas. Sekarang yang perlu dibahas adalah antara aku dan kamu." Jawab mas Amal lagi.


Sepanjang jalan Zuwita tampang riang. Ia begitu menikmati perjalanannya. Apalagi tidurnya sudah puas dan perutnya sudah kenyang. Tidak pernah ada masalah saat mengajak Zuwita berpergian sepanjang yang ku tahu.


Aku dan Zuwita belajar bernyanyi, sesekali aku mengajari ia memanggilku dengan sebutan umi.


" Wita, U- mi." Aku mengejakan pelan- dan berulang-ulang.


" U...mi...mi..." Dengan suara yang jelas Wita berhasil mengucapkan kata Umi.


" Masya Allah... Hebat sekali anak Umi.." aku memuji Wita.


" Gantian dong sekarang sebutin A- bi." Ujar mas Amal.


Namun Wita tak mau membuka mulutnya.


" Kok anak Abi kayak gitu sih? Uda punya Umi jadi gak sayang Abi lagi ya?" Mas Amal seperti merajuk karena Wita lebih nurut pada ku.


Dan seperti biasa kalau sedang naik mobil, Wita pasti lebih sering tidur.


" Lihat mas, dia gak sanggup lagi buka matanya." Aku terlihat gemas melihat wajah Wita yang berusaha menahan ngantuk.


Mas Amal hanya tertawa melihat ekspresi Wita.


Tidak berapa lama Wita sudah terlelap di pangkuanku.


" Yang tidurin di belakang aja ya. Nanti kamu capek mangku, soalnya badannya gembul." Mas Amal memberhentikan mobilnya. Ia menyusun kursi di belakang tak lupa melebarkan kasur kecil dan bantal agar Wita tidur dengan nyaman. Setelah mas amal selesai menyusun, aku pun meletakkan Wita dengan sangat hati-hati agar tidak bangun.


Setelah selesai membereskan Wita kami melanjutkan perjalanan lagi. Butuh waktu satu jam untuk tiba di tempat tujuan.


" Mas, kenapa sih baru siap akad kok langsung ngajak keluar? Kenapa gak tunda aja dulu." Tanyaku penasaran.


" Aku punya impian, pengen malam pertama di hotel." Jawab mas Amal senyum-senyum.


" Lah tadi?" Aku mengingatkan kejadian siang tadi di kamar pribadi mas Amal.


" Tadi mas benar-benar gak tahan lagi buat nunda, kebetulan juga Wita pengertian. Jadi khilaf deh belah duren duluan." Mas Amal cengar cengir mirip kebo di sawah. Hahahah..... Kok aku jadi nyanyi sih.


" Yang?" Panggil mas Amal.


" Hem?" Aku menatap kearah mas Amal yang sedang fokus menyetir.


" Terima kasih ya karena kamu masih Ori, masih murni, masih... terharu banget mas. Kamu gak ngecewain mas di malam pertama kita. Impian mas untuk mendapatkan wanita baik-baik dan sholeha akhirnya dikabulkan juga sama Allah." Mas Amal meraih tanganku dan mengecupnya.


"Zahra juga terima kasih loh sama mas, masih bisa menjaga keperjakaannya hanya buat Zahra. Karena mas tahu sendiri kan di zaman sekarang sudah banyak orang-orang yang tidak taat pada larangan Allah, sudah banyak orang yang lebih mementingkan hawa nafsu. Dan aku juga gak nyangka jika ternyata Zahra adalah orang yang beruntung bisa berjodoh dengan mas. Dan Zahra bisa jadiyang pertama dalam hidup kamu, mas. Walau kamu sudah bergelar duda." Balas ku lagi.


" Yang, kamu pernah dengar enggak? Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik begitu pun perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik." Ucap mas Amal lagi.


" Karena Jodoh itu cerminan diri kita sendiri mas." Ucapku pada mas Amal.


" Dan semoga kita adalah golongan orang-orang yang di pilih oleh Allah ya, yang!"


Dan aku mengamini ucapan mas Amal.