Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 27


Entah karena capek, atau karena kamar ini yang dingin. Mataku begitu cepat terpejam. Mas Amal pun sudah menutup matanya.


Terdengar dengkuran halus dari mulut mas Amal.


Akhirnya kami tidur di satu ranjang dengan bantal guling sebagai penghalang jarak antara aku dan mas Amal.


Disaat aku terjaga, betapa terkejutnya aku. Tangan mas amal sudah menempel di perutku. Guling yang kujadikan jarak sudah terlempar entah kemana.


Ya Allah...kini kami sudah berada dalam satu selimut. Apa yang dilakukan pak duda ini padaku? Aku memeriksa pakaianku dan ternyata pakaian yang aku kenakan masih lengkap dan aku mencoba merasakan bagian kemaluanku. Tidak ada rasa sakit sedikit pun.


"Agrrrhhh... Mas Amal..!" Aku berteriak di telinganya.


Mas Amal begitu terkejut hingga ia langsung dudud, dan sibuk bertanya padaku, " ada apa Zah? Ada apa?"


Aku melotot padanya. Dan ia masih seperti orang yang tidak bersalah.


" Mas!"


" Kenapa teriak-teriak?" Mas Amal menatap jam didinding.


" Masih jam 4 pagi loh yang!" Serunya lagi.


"Mana guling yang menjadi pemisah diantara kita mas?" Tanyaku marah.


" Manalah mas tahu." Ia tampak kebingungan mencari bantal guling tersebut.


" Kenapa mas enggak pindah? Kenapa kita seranjang? Kenapa mas peluk- peluk Zahra? Kalau ada orang ketiga bagaimana?"


Mas Amal memijit keningnya, " ya Allah yang.. cuma perkara tidur seranjang doang pagi-pagi uda merepet macam mercon."


Mas Amal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Kita belum halal mas...!" Ucapku lagi tak terima.


" Kita gak ngapa-ngapain loh. Kita cuma tidur seranjang doang. Lihat baju kamu masih lengkap. Tadi malam sebelum kamu tidur, kan mas udah tidur? Jadi yang tidak pindah siapa? Jadi yang salah siapa?" Mas Amal gantian merepet.


Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal, " ya kamulah yang salah." Jawabku tak mau kalah.


" Dasar perempuan, TIDAK PERNAH SALAH! ejek mas Amal meninggalkanku.


Mas Amal masuk kekamar mandi. Tak lama ia keluar dengan rambut yang masih basah,


" Mandilah setelah itu kita shalat!" Ucap mas Amal sambil mengeringkan rambutnya.


Tanpa banyak kata aku masuk kekamar mandi membawa perlengkapan mandi. Aku yang terbiasa membawa barang-barang perlengkapan seperti baju ganti, alat makeup, alat mandi juga gak ketinggalan mukena saat berpergian kemana pun. Agar tidak menyulitkan nantinya saat aku berada dimana saja.


Aku masih belum percaya atas ucapan mas Amal. Bisa saja dia berbohong. Saat aku tidur ia mencium juga menggerayangi tubuhku, dan aku tidak sadar.


Bodoh sekali sih Zah! Bisa-bisanya teledor macam ini. Pak duda itu sudah pernah menikah, bisa jadi ia dulunya siluman buaya. Aku merutuki kebodohanku di kamar mandi.


Tok..tok..tok..


Pintu kamar mandi diketuk. Sudah pasti itu mas Amal, " Ada apa mas?" Aku teriak dari dalam kamar mandi.


" Mandi! Jangan tidur." Ucap mas Amal.


Huh! Cuma mau bilang itu? Emang ada ya orang yang di kamar mandi ketiduran? Mas.. mas banyak banget sih lagunya. Aku mencibir kelakuan mas Amal dari dalam kamar mandi dan itu pun kulakukan hanya dari dalam hati. Hehehe....


Aku pun segera mandi tak butuh waktu lama karena airnya dingin seperti air es. Aku segera memakai baju tak ingin berlama-lama di kamar mandi.


Mas Amal sudah menungguku dengan kemeja bermotif kotak-kotak dan celana panjang jeans, tak lupa peci sudah berada diatas kepalanya. Aku segera memakai mukena, dan kami pun melakukan shalat subuh dua rakaat.


Masya Allah .. nyaman banget rasanya jika shalat di imami oleh lelaki pujaan.


Selesai shalat aku segera merias wajah. Riasan sederhana, tidak menor tapi tetap segar. Mas Amal duduk diatas ranjang memperhatikan aku.


" Cantik." Gumamnya.


" Apa mas?" Aku pura-pura tidak mendengar.


" Cantik sayang..." Pujinya lagi.


" Terimakasih sayang..." Aku balas ucapan mas Amal dan mengakhirinya dengan kata sayang.


" Belum ada yang buka sarapan ya?" Mas Amal memperhatikan jalan yang kami lewati.


" Masih terlalu pagi mas, orang-orang belum pada lapar." Jawabku asal


" Tumben banget jalan sama orang cantik, tapi mas kelaparan."


" Maksud mas apa?"


" Idih pagi-pagi kok sudah ngegas? Lagi datang bulan ya?" Canda mas Amal.


Aku malu sendiri jika mas Amal membahas masalah yang terlalu intim. Agar tidak di perpanjang, akhirnya aku memilih diam.


Ketika melihat ada warung sarapan yang sudah buka, akhirnya kami sempatkan untuk sarapan.


*********


Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya kami sampai dirumah.


Mas amal ikut turun membawa tas yang berisi perlengkapanku.


Yang ada di rumah hanya tante Lidya dan om Iwan.


Kami pun masuk dan duduk di ruang tamu.


" Kok harus nginap sih Mal?" Tante Lidya mulai menginterogasi mas Amal.


" Iya tante, kalau mau pulang itu resikonya besar banget." Mas Amal mulai beralasan.


" Loh bukannya kalau nginap itu yang beresiko? Apa lagi kalian nginap di hotel. Siapa yang tahu kalian berbuat yang tidak-tidak." Ucap tante Lidya tanpa basa basi.


" Aku pastikan Zahra pulang tanpa luka sedikit pun tante. Kalau tante gak percaya tanya Zahra saja. Ya kan Zah?" Mas Amal melempar pertanyaan padaku.


" Iya tante." Jawabku malu.


" Jadi Zahra masih bersegel kan Mal?" Tanpa basa-basi om Iwan ikut nyeletuk.


" Masih om, aku bisa jamin suci belum terkonfirmasi apa pun. Masih ori." Mas Amal mengedipkan matanya satu ke arah om Iwan.


Sementara aku sudah melotot kearah om Iwan dan mas Amal.


" Pada bahas apaan sih? Dasar om-om ketemu pak duda emang cocok!" Aku mencibir mereka.


Dan mereka hanya tertawa cengengesan.


Tak berapa lama mas Amal berpamitan pulang, dan besok ia akan mengajakku berziarah ke makam mama dan papa juga ayahnya mas Amal.


Aku mengangtar mas Amal sampai depan. Aku masuk setelah mobil mas Amal menghilang.


" Tan, izin istirahat dulu ya." Aku masuk kekamar tanpa menunggu jawaban tante.


Kubaringkan badanku di atas kasur. Mengingat kembali kenangan tadi malam.


Mas Amal... Bisa menahan nafsunya untuk memintaku melakukan hubungan suami istri. Padahal kalau di pikir-pikir mustahil bagi seorang laki-laki yang sudah pernah merasakan. Apalagi tadi malam hanya ada kami berdua.


" Zah." Tante muncul dibalik pintu.


" Masuk tan!"


Tante mendekat ke arahku.


Ia menatapku dalam-dalam.


" Ada apa tan?" Tanyaku


" Betul Amal tak menyentuhmu? Nanti kamu tidak sadar saat tidur. Atau coba rasakan di bagian ******** mu ada yang linu atau sakit? Atau ada bercak darah di seprai hotel?" Tante tampak cemas.


Aku mulai mengingat ingat, " sepertinya gak ada tan, anu ku pun tidak terasa sakit. Mas Amal adalah pria baik-baik tante. Percaya deh sama Zahra. Zahra dan mas Amal tidak serendah itu." Jawabku berusaha meyakinkan tante.


" Syukurlah." Ada perasaan lega pada wajah tante Lidya.