
Kudengar pembawa acara akan menyebutkan nama-nama yang terdaftar dalam korban pesawat terbang. Hati dag dig dug tak menentu. Doa-doa kurapalkan dalam hati berharap nama mama dan papa tidak ada.
Dan ternyata...?
" Mama...."
Aku meraung histeris. Kalau mama sudah menjadi korban, papa pun pasti bernasib sama. Aku dan nenek berpelukan menangis berbarengan. Dadaku terasa sesak, duniaku pun menjadi gelap. Hingga aku tidak mampu untuk menopang tubuhku. Aku pingsan!
" Zahra! Zahra! Istigfar nak.." sayup-sayup aku mendengar suara orang banyak yang memanggil-manggil namaku.
Hidungku pun terasa mencium bau minyak kayu putih dan badan ku seperti di guncang-guncang.
Aku membuka mataku, rumah nenek sudah ramai dengan kedatangan orang-orang.
" Mama... Papa..." Panggilku lemah.
" Yang sabar ya Zah!" Seseorang menguatkan aku. Aku memeluknya padahal aku tak mengenalnya.
Yang bisa ku lakukan adalah menangis dan menangis.
Semua keluarga berembuk untuk datang ke Jakarta.
" Zahra ikut!" Pintaku.
Akhirnya aku, tante Lidya dan beberapa keluarga pergi ke Jakarta untuk menjemput jenazah mama dan papa.
Aku sudah tidak perduli dengan penampilanku. Mataku sudah membengkak akibat karena terlalu lama menangis.
Di handphone ku sudah banyak pesan mengucapkan turut berbelasungkawa, namun aku belum membalas satu persatu. Aku hanya ingin bertemu mama untuk yang terakhir kali.
************
Kami sudah tiba di Jakarta. Kini kami sudah berada di rumah sakit tepatnya di ruang mayat. Aku mengumpulkan kekuatan agar tegar jika nanti harus menerima atau sekiranya aku tidak lagi mengenali mama dan papa.
Kami mulai membuka satu persatu ersatu penutup jenajah. Sudah sepuluh orang yang kulihat, namun belum ada ciri khas yang ku kenali. Semua wajahnya terlihat menghitam.
Hingga sampai pada jenajah yang ke sebelas, " Papa.. ini papa, tante!" Tanpa rasa takut aku memeluk papa. Ada rasa bahagia bercampur sedih karena berjumpa dengan papa dalam kondisi yang ah, aku sendiri tak mampu menggambarkan. Dan aku menemukan mama di dua puluh jenajah yang kubuka penutupnya.
" Ma, pa.. Zahra jemput mama. Zahra akan bawa mama dan papa ketempat peristirahatan yang paling baik untuk kalian." Ratapku.
***
Setelah mengurus berbagai perlengkapan dokumen akhirnya aku dan keluarga bisa membawa jenazah mama dan papa pulang.
Kami sudah tiba di kota Pekanbaru. Aku dan tante Lidya menemani mama di dalam mobil ambulan, sementara papa ditemani oleh om Iwan dan kerabat yang lain.
Tak sedetik pun aku meninggalkan mama sendiri. Jauhnya perjalanan yang kami tempuh tak membuatku merasa kelaparan. Aku hanya merasa haus saat di perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama empat jam akhirnya kami tiba di kediaman nenek. Rumah nenek sudah ramai untuk menyambut kedatangan kami.
Suara sirine ambulan yang berbunyi membuat suasana semakin sedih. Berbondong-bondong para lelaki mendatangi peti jenazah mama dan papa untuk membawa masuk kedalam rumah.
Jangan tanya kesedihan nenekku. Berkali-kali nenek pingsan karena merasa terpukul atas kejadian yang menimpa orang tuaku.
Kini jenazah mama dan papa telah selesai di shalatkan. Dan akan segera dibawa ke makam.
Sepanjang jalan menuju makam tak henti rasanya air mataku menetes. Rasanya ingin aku berteriak sekencang-kencangnya memanggil mama dan papa agar kembali hidup menemaniku seperti dulu.
***
Acara pemakaman mama dan papa telah selesai. Mama dan papa di kuburkan dalam satu liang lahat.
" Ma, pa.. kalian tidak akan berpisah sekalipun kematian datang menghampiri." Gumamku sedih.
Aku masih duduk di ruang tamu untuk menemui para pelayat yang datang kerumah nenek.
Tak sedikit yang merasa kadihan kepadaku karena langsung kehilangan orang tua sekaligus.
Aku hanya diam, tatapan ku kosong. Sesekali aku mengusap air mataku yang jatuh menetes.
Allah... Aku tidak pernah mengira jika aku harus mengalami cobaan ini. Kehilangan papa dan mama disaat aku benar-benar belum siap.
***
Acara takziah sudah selesai dilaksanakan.
Keluarga besar mama dan papa masih berkumpul dirumah nenek. Tak banyak saudara yang menawarkan diri agar aku ikut serta tinggal dirumah mereka. Namun semua kutolak dengan lembut.
Yang aku ingat adalah papa menitipkanku pada nenek. Papa percaya aku akan baik-baik saja jika tinggal bersama nenek. Begitu pun mama. Jadi tidak ada alasan jika aku harus pergi dari sini.
Ma, pa.. Zahra akan jaga nenek seperti pesan papa dan mama.
Malam semakin larut. Aku memutuskan tidur dikamar ku sendiri. Kamar yang menjadi saksi saat sebelum kepergian mama, mama menemani ku tidur layaknya gadis kecil yang manja. Mama yang selalu memberikan nasihat yang baik.
Mama, papa semoga diberi tempat yang terbaik di sisi Allah.
Malam ini aku berharap mama dan papa bisa hadir dalam mimpiku. Aku rindu ma pa!
Sebelum tidur aku memutar satu lagu kesukaan ku,
Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu
Belum sanggup untuk jauh darimu yang slalu ada dalam hati ku....
Nyatanya lagu ini seperti kisah hidupku yang tidak siap untuk kehilangan orang yang paling penting,orang yang paling kusayang, orang yang paling kucinta di dunia ini.
***
Hari-hari yang kulalui setiap hari suram karena separuh jiwa ku pegi dan tak pernah kembali.
Aku masih berdiam diri di rumah. Belum banyak aktivitas yang dapat kulakukan. Keseharianku masih sekedar membantu mengurus rumah nenek.
Aku juga belum bersosialisasi selama tinggal di rumah nenek. Aku hanya sesekali kepasar sekedar mengantar tante Lidya berbelanja kebutuhan pokok.
Aku juga belum punya banyak teman disini.
Aku tidak pernah membayangkan jika aku akan menetap disini tanpa di temani mama dan papa.
Ini adalah hari ke tiga puluh aku tinggal di desa. Ada kerinduan ingin kembali ke Jakarta, kembali kerumah kami dulu, tidur di kamarku dulu seperti hari lalu. Namun aku belum punya keberanian untuk mengutarakan keinginan ku pada nenek dan tante Lidya.
Aku juga tidak mau menambahi beban pikiran nenek. Sejak kepergian mama dan papa, nenek jadi lebih sering sakit-sakitan. Nenek juga lebih sering murung. Nenek tampak terpukul dengan kejadian ini.
Sesekali aku juga berusaha menghibur nenek agar tidak sedih. Aku selalu berusaha tegar saat di depan nenek, padahal setiap malam saat mau tidur aku masih suka menangis karena masih menahan rindu yang amat sangat berat.
Aku pernah membaca kira-kira begini bunyinya ' RINDU YANG PALING BERAT ADALAH RINDU KEPADA ORANG YANG SUDAH TIADA' dan kini aku sedang merasakan itu. Setiap malam aku hanya bisa memandangi foto mama dan papa tanpa bisa mendengar suaranya lagi. Sakit dan terluka,namun tidak berdarah.
Pagi ini ada seseorang lelaki setengah tua bertamu kerumah nenek.
Kata tante Lidya ingin berjumpa denganku.
Akhirnya dengan rasa penasaran aku pun menjumpai orang yang di maksud oleh tante Lidya.
Aku duduk di dekat nenek. Tampak nenek dan lelaki itu tampak akrab sekali. Aku seperti mengalami trauma saat berdekatan dengan lelaki, sekalipun usianya sudah sangat jauh diatasku.
" Zah, kenalkan ini pak Indro. Teman papa mu dulu." Ucap nenek riang.
Aku pun bersalaman dengan pak Indro.
" Begini nak Zahra, maksud kedatangan bapak kesini adalah ingin mengajak nak Zahra untuk bergabung di sekolah yang ada di kampung kita ini. Dulu papa nak Zahra pernah berpesan sama bapak, jika nanti nak Zahra sudah selesai wisuda akan mengabdi di desa ini." Jelas pak Indro panjang lebar menjelaskan tampa diminta.
Papa, ternyata engkau benar-benar ingin aku mengabdi disini. Baiklah pa, Zahra akan buat papa bangga. Zahra yakin papa sedang menjaga Zahra dari surga batinku sibuk berbicara sendiri
" Bagaimana nak Zahra?" Tanya pak Indro mengagetkanku.
" Eh.. Anu pak Insyaallah saya siap mengabdi disini pak." Jawabku sedikit gugup.
" Alhamdulillah..." Pak Indro dan nenek kompak mengucapkan kata yang sama.
" Ya sudah kalau begitu hari Senin kamu sudah boleh masuk. Kami tunggu kedatangan nak Zahra di sekolah kami."
Kemudian pak Indro berpamitan pulang. Aku masih termenung, papa... Mama.. Zahra rindu!