
Pagi ini aku ingin sekali memasak sop ayam. Membayangkannya saja membuat air liurku menetes.Aku membuka kulkas dan mengambil potongan ayam yang ada di freezer.
Tiba-tiba saja aku begitu mual melihat potongan ayam yang ada di hadapanku.
Segera aku lari kekamar mandi untuk memuntahkan isi perutku.
Hueek..Hueek...!
Badanku terasa lemas dan kepalaku pun mendadak pusing hanya karena Mencium bau ayam.
Mas Amal sudah berada di belakangku, memijit tengkukku, " kamu kenapa sayang? Mual?"
Aku tak sanggup menanggapi ucapan mas Amal, rasa mual kembali datang.
" Kita ke bu bidan ya? Kamu pucat banget loh." Mas Amal mulai panik.
Tanpa membantah aku menuruti ucapan mas Amal. Aku duduk di sofa, mas Amal memasang jaket di tubuhku. Mas Amal pun memasangkan jilbab instan di kepalaku.
Selanjutnya mas Amal menuntunku masuk kedalam mobil. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dengan mata terpejam. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai kerumah bu bidan.
Mas Amal kembali membantu ku berjalan masuk ke klinik.
"Pak Amal, kenapa istrinya?" Bu bidan Dewi menyapa kami dengan senyum yang ramah
Aku hanya tersenyum sekilas.
Selanjutnya aku sudah berbaring dan di periksa oleh bu bidan Dewi.
" Kapan terakhir datang bulan?" Tanya bu bidan Dewi.
" Sebulan yang lalu bu, dan ini seharusnya sudah datang, tapi..." Aku mencoba mengingat-ingat kembali.
" Kita cek urine dulu ya , bu. Pak Amal tolong di bantu ibunya ke kamar mandi!" Ucap bu bidan Dewi lembut.
Aku dan mas Amal segera ke kamar mandi.
Rasanya badannku tidak karuan. Mau berjalan saja hampir tumbang.
Aku pun menampung air seni dan membawanya pada bu bidan Dewi, " kita cek ya bu." Bu bidan Dewi mencelupkan Testpack kedalam air kencing yang ku tampung tadi.
Mas Amal menggenggam tanganku, kami sama-sama menunggu hasil tes yang di pegang oleh bu bidan Dewi.
Bu bidan Dewi tersenyum sendiri, kemudian menunjukkan testpack yang di pegang ke arah kami.
Aku melihat ada garis dua, bu bidan Dewi meletakkan testpack kemudian menyalamiku, " selamat ya Bu Zahra, positif hamil." Kemudian bu bidan Dewi juga menyalami mas Amal, " selamat ya pak Amal, ibu Zahra positif hamil. Sebentar lagi anda akan menjadi ayah."
Aku dan mas Amal saling memandang, ada perasaan haru bahagia mendengar kabar pagi ini.
" Kemungkinan besar, rasa mual dan kepala pusing yang mendera bu Zahra adalah karena kehamilan. Usia kehamilan buk Zahra sudah berusia tiga minggu. Nanti saya beri vitamin juga susu agar daya tahan Bu Zahra semakin kuat."
Setelah menebus obat yang di berikan bu bidan Dewi akhirnya kami pulang.
" Yang, mas seneng banget." Ucap mas Amal.
Aku hanya tersenyum, namun mataku masih terpejam. Rasanya aku tak sanggup menatap dunia ini.
Ya Allah.. apakah ini juga yang dirasakan mama saat mengandungku?
Satu persatu air mata meluncur bebas membasahi pipiku.
Kami sudah sampai rumah. Mas Amal membantuku masuk ke dalam rumah.
Aku duduk di sofa, " kenapa nangis yang? Mana yang sakit?" Mas Amal duduk di sampingku.
" Teringat mama, mas." Jawabku tersedu-sedu.
" Mama sudah tenang. Cukup kirim doa sama mama, yang. Sekarang kamu makan ya, mau pakai apa?" Tanya mas Amal lagi.
" Pakai nasi putih aja." Jawabku.
Mas Amal melongo menatapku, " betulan?" Ia tampak tak percaya.
Aku hanya mengangguk. Mas Ama bangkut berjalan ke arah dapur. Kemudian muncul membawa sepiring nasi putih dan segelas air putih.
Aku memakan nasi putih itu dengan lahap.
Mas Amal hanya memperhatikan ku dengan raut wajah yang terheran-heran.
" Hah? Habis?" Mas Amal melongo heran.
Aku mengambil obat dan meminumnya agar badanku bisa lebih fit.
" Mas, aku istirahat dulu ya.." akuwminta izin pada mas Amal.
Mas Amal menuntunku masuk ke dalam kamar. Aku menarik selimut menutup tubuhku.
Setelah memastikan aku nyaman, mas Amal pun keluar dari kamar.
****
Hari sudah siang ketika aku bangun. Terdengar suara adzan zuhur berkumandang di mesjid. Aku seperti mengenal suara ini.
Aku bangun dan mencoba berdiri pelan-pelan. Badanku sudah lebih membaik setelah meminum obat yang di beri oleh bu bidan Dewi.
Aku keluar dari kamar. Memanggil mas Amal, dan mencari mas Amal di setiap sudut ruang di rumah ini. Namun tak juga ku temukan keberadaan mas Amal. Aku berjalan ke arah pintu depan, namun pintu terkunci dari luar.
Oh, berarti mas Amal sedang di mesjid.
Aku pun berniat membereskan rumah. Aku ingin memulainya dari dapur.
Namun betapa terkejutnya aku, karena dapur ini sudah bersih mengkilat. Piring kotor pun tak kutemui satu buah pun.
Aku membuka tudung saji, seketika menetes air liurku mencium aroma sayur sop yang sudah matang dan masih hangat. Di samping sayur sop ada sambal kecap dengan potongan cabe rawit, bawang merah dan tomat segar.
Tanpa menunggu mas Amal pulang dari Masjid, aku mengambil piring dan segwra mengisinya dengan nasi, sayur sop dan juga sambal kecap. Aku menikmati makan siang ini dengan lezat. Aku mengangkat piring dan menuang kuahnya ke dalam mulutku hingga tetes terakhir.
" Yang?" Mas Amal sudah pulang dan mengejutkan ku.
Aku terkejut, sontak menurunkan piring. Ya Allah.. aku sampai tidak sadar akan kedatangan mas Amal.
Ada perasaan malu yang menjalar di wajahku.
" Enak yang?" Tanya mas Amal sambil duduk di sampingku.
" Eh.. enak mas." Jawabku malu-malu.
" Siapa yang masak mas?" Tanyaku lagi.
" Mas dong." Mas Amal mengambil piring dan ikut makan di sampingku.
" Alhamdulillah.. sudah kenyang." Jawabku sambil mengelus perutku yangasih rata.
" Alhamdulillah..." Mas Amal menggodaku.
" Mas, terima kasih ya.. sudah masak yang sangat lezat hari ini."
Mas Amal hanya mengangguk. Aku menemani mas Amal sampai selesai makan.
Setelah mas Amal selesai makan aku pun membereskan piring bekas kami makan berdua, namun dilarang oleh mas Amal, " Kamu shalat saja Yang, nanti mas yang membereskan."
Aku pun segera berlalu dari hadapan mas Amal.
***
Setelah selesai shalat aku menyusul mas Amal ke depan televisi. Ia sedang melamun.
Aku menyentuh bahu mas Amal, " mas?"
Mas Amal terkejut.
" Melamun?" Tanyaku lagi.
" Zuwita sedang apa ya Yang?"
Kasihan kamu mas. Aku mengusap bahu mas Amal, " kita jenguk Wita nanti sore yuk,mas?" Ajakku pada mas Amal.
" Mas gak yakin kita di bolehin Yang."
" Kita coba nanti ya." Aku mengedipkan mataku.
****
Sore ini kami bersiap untuk kerumah Sabrina. Rencananya nanti kami ingin mengajak Zuwita keluar sebentar. Sekedar jalan-jalan dan naik odong-odong.
Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya kami sampai dirumah mewah bak istana. Pak satpam yang menjaga pintu pagar rumah Sabrina mengahampiri mobil mas Amal.
Mas Amal menurunkan kaca mobil, dan sepertinya mas Amal dan pak satpam sudah saling mengenal. Ia membuka pintu pagar lebar-lebar. Mas Amal memasukkan mobil dan memarkirkan mobil di halaman rumah Sabrina yang tampak luas.
Aku dan mas Amal turun dari mobil
Mas Amal menggandeng tanganku. Mas Amal menekan tombol yang terpasang di dinding. Pintu terbuka, seorang perempuan tua tampak ramah kepada mas Amal.
Dengan sopan dan ramah ia menyuruh kami masuk. Mas Amal pun menyampaikan maksud kedatangannya kerumah ini.
Wanita tua yang bernama mbok Jah meninggalkan kami, ia naik keatas menuju lantai dua.
Tak berapa lama turun dan menyuruh kami menunggu.
Aku memastikan sekeliling rumah ini yang penuh dengan kemewahan.
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya kami mendengar suara sepatu hal beradu dengan kilatnya lantai rumah ini.
Ada yang penasaran siapa yang akan menjumpai Zahra dan Amal?