Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 11


Percaya deh sama aku, menikah itu enak. Ada yang nemenin, ada yang jagain. Lagian kita bukan menikah muda. Insyaallah akan ada rezeki yang di beri oleh Allah.


Aku terdiam mencerna setiap ucapan Putri. Benarkah menikah itu enak?


Allah... Dekatkan jodoh hamba dengan lelaki pilihanmu yang paling terbaik untuk hamba doaku dalam hati.


Acara wisuda tengah berlangsung. Tak jarang aku mendengar cibiran dari teman-teman ku yang ikut menonton video viral kemarin.


Aku hanya bisa mengelus dada mengucap istighfar meminta diberi kesabaran yang luas.


Tibalah saat pembacaan nama-nama anak yang berprestasi, aku berharap ada satu nama ku di sebutkan.


" Kami panggilkan kepada anak kami Zahra.."


Terdengar suara pembawa acara menggema digedung ini.


Aku menutup mulut, ada rasa haru yang menyeruak karena masih bisa memberikan yang terbaik untuk orang tua. Dan aku percaya, masalah yang terjadi kemarin adalah proses pendewasaan untukku.


***


Acara wisuda telah usai. Mama berkali-kali memeluk ku, " mama bangga padamu sayang.."


" Terima kasih ma, ini semua juga atas dukungan papa dan mama." Jawabku lega.


" Apa rencana mu kedepannya setelah meraih Spd Zah?" Tanya papa antusias.


" Zahra ingin seperti mama,pa. Mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa." Jawabku penuh keyakinan.


" Kalau boleh papa beri saran, pergilah mengabdi ke kampung nenek di Pekanbaru."


Ucapan papa membuatku terkejut. Bagaimana bisa papa menyuruhku mengabdi di kampung nenek. Kalau masih di kota Pekanbaru barunya tidak masalah. Ini jauh masuk kedalam pelosok. Dan aku tidak pernah kerasan saat berlibur di rumah nenek.


" Kenapa diam?" Tanya papa.


" Em.. anu pa.." Aku bingung harus menjawab apa.


" Di kampung nenek sangat membutuhkan guru dengan tamatan sarjana." Jawab papa santai.


" Zahra takut tidak betah berada di sana pa." Jawabku takut-takut.


" Disana sudah mulai maju, sudah masuk listrik juga sinyal mulai bagus. Mengabdilah di sana." Ucap papa lagi.


" Kasih waktu Zahra untuk berpikir ya pa, ma."


***


Aku semakin galau. Setelah dua minggu di wisuda aku hanya berdiam diri dirumah. Akhirnya iseng-iseng aku mencoba bertukar pendapat dengan sahabatku, Putri.


Dan diluar dugaanku masuk pesan singkat dari Putri yang membuat aku harus berpikir kembali.


' Sahabatku Zahra, bukan aku ingin membela mama dan papa mu. Tapi percayalah, pilihan orang tua tidak akan salah selagi kita menjalani dengan hati yang ikhlas. Insya Allah ridho orang tua adalah ridho Allah juga. Jangan pernah melawan rencana orang tuamu. Semoga kamu menemukan jodohmu di tempat yang baru nanti. Oh iya, besok aku akan berangkat ke semarang mengikuti tugas suami. Sampai berjumpa di lain waktu ya....'


Air mataku merembes membaca pesan singkat dari sahabatku. Begitu bijaksananya ia memberi pencerahan kepadaku yang masih labil ini. Kembali aku membalas pesan untuk Putri. ' Terima kasih Sahabatku, semoga aku bisa menjadi seperti dirimu. Dan Insya Allah aku akan mengikuti saran dari orang tuaku. Sehat-sehat lah selalu. Dan semoga selalu di beri rezeki yang berkah dari Allah. Hati-hati ya.. ' kutambahkan dengan emotikon cinta.


Tak kan kutemui lagi sahabat terbaik seperti Putri.


***


Hari keberangkatan ku ke kota Pekanbaru tiba. Dari bandara Soekarno Hatta Menuju bandara sultan Syarif Kasim.


Mama dan papa ikut mengantar ku ke desa terpencil ini. Terakhir aku kerumah nenek lima tahun yang lalu. Selebihnya neneklah yang selalu datang kerumah kami.


Kami sudah tiba di kota Pekanbaru. Tante Lidya dan om Iwan sudah menunggu kami.


" Hai Zahra..." Sapa Tante Lidya.


Ia memelukku erat.


" Kangen deh sama anak gadis ini. Anak gadis yang tak pernah mau berkunjung ke desa." Sindir tante Lidya.


Kami sudah menempuh tiga jam perjalanan. Badanku terasa sakit semua. Ini adalah perjalanan yang membosankan. Bagaimana bisa papa betah pulang pergi Jakarta- Pekanbaru? Aku hanya geleng-geleng kepala sendiri membayangkan jalan yang super rusak.


" Tan, berapa jam lagi sih?" Tanyaku lelah.


" Sabar ya... Satu jam lagi deh kita sampai. Nenek sudah gak sabar loh menunggu cucu satu-satunya ini untuk datang menginjakkan kakinya di rumah nenek." Jawab tante panjang lebar.


Sementara mama dan papa hanya senyum-senyum tak jelas.


Aku merenungi nasibku. Haruskah aku mengabdi di desa terpencil ini? Miris sekali nasibku. Hampir dua puluh tiga tahun menetap di kota dan sudah menjadi anak kota, yang kalau mau kemana-mana itu sangat mudah. Apalagi aku di fasilitasi mobil oleh papa. Lalu di desa nanti haruskah aku hidup mandiri?


Aku memasang handset di telingaku untuk mengusir kebosanan yang datang melanda. Aku menutup mataku berusaha terlelap barang sebentar. Karena yang akan kulewati sepanjang jalan adalah pohon sawit yang berjejer. Nasib..nasib batinku sibuk ngedumel sendiri.


" Zah bangun!" Mama menggoyang bahuku berkali-kali.


Aku mengucek mata, berusaha mengumpulkan kesadaranku ya terpecah belah di jalanan tadi.


" Uda sampai." Ucap mama sembari menurunkan barang yang kami bawa.


" Uda sampai ma?" Aku malah balik bertanya.


Belum sempat mama menjawab pertanyaanku, seraut wajah yang mulai keriput dengan kepala yang di tutupi songkok muncul dari balik pintu mobil menyambut kami. Ya itu nenek.


Mama memeluk nenek, ada suara tangisan yang keluar dari mulut nenek.


" Kamu sehat?" Tanya nenek sambil menatap wajah mama penuh haru.


" Sehat ma, Zah ayo salim sama nenek!"


" Zahra ikut? Mana.. mana cucuku yang paling cantik?" Suara tangisan nenek makin kencang.


Aku keluar dari mobil. Ku peluk erat-erat wanita tua yang di hadapanku, " kenapa nangis nek?" Tanyaku sambil tertawa.


Ah, jahatnya aku. Menertawakan nenekku sendiri. Tetangga nenek mulai berdatangan , mereka bingung mengapa nenek menangis dengan kencang.


" Zahra cucuku... Huuuh...huuuu..."


Papa menghampiri kami berdua, " mengapa mama menangis?"


" Zahra......"


Hanya namaku saja yang selalu di sebut nenek.


Akhirnya aku menuntun nenek masuk kedalam rumah. Kami berkumpul di ruang tamu.


Kini Nenek sudah tampak tenang. Nenek masih duduk di dekatku dan memegang tanganku.


" Kenapa Zahra datang nenek malah menangis?" Tanyaku penasaran.


" Nenek sedih, sudah lama cucuku tak mau menginjak kampung halaman nenekmu ini, biarpun pelosok seperti ini, kampung ini adalah tanah kelahiran papa mu." Jelas nenek panjang lebar.


" Anak kota ini akan tinggal disini menemani mamak disini." Ucap papa riang.


" Hah? Benarkah itu?" Ucap nenek tak percaya.


" Iya mak, kami mau buang dia disini untuk menjadi kawan mamak. Supaya ia menjadi anak yang mandiri." Ucap papa sambil menatapku dari kejauhan.


Ah, aku jadi sedih. Ternyata....


************


Hari mulai malam. Kami sudah selesai makan malam. Nenek memasak gulai ayam kampung hasil olahan tangannya sendiri. Katanya, untuk menyambut anak-anak nya.


So sweet sekali nenekku.


Aku izin masuk kekamar yang sudah disiapkan oleh tante Lidya.


Kamar yang nyaman walau hanya ditemani kipas angin. Sayup- sayup-sayup terdengar suara jangkrik bernyanyi. Apakah aku bisa betah tinggal di tempat ini dalam waktu yang lama?