Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 36


Nek, kok tahu banget sih Zahra sedang pengen makan Rendang?" Tanyaku pada nenek.


" Oh ya? Pantas dari semalam nenek kepikiran sama kamu. Ya sudah, ayo buruan di coba!" Jawab nenek sambil menyendokkan nasi dan rendang kepiringku.


" Eh Mal, Zuwita gimana kabarnya? Memangnya kamu gak ada hak buat ngambil alih ngurus Zuwita? Om yakin kalau di gugat kepengadilan mantan bini mu pasti kalah." Ucap om Iwan membuka pembicaraan.


Aku dan mas Amal saling memandang. Haruskah mereka juga tahu siapa Zuwita sebenarnya?


Aku tidak ada hak untuk bercerita. Biarlah mas Adzam yang membuka masalah pribadinya pada keluargaku.


" Kok diam? Kalau belum mau bicara om gak maksa kok Mal, santai aja." Om iwan menepuk bahu mas Amal.


Aku dan mas Adzam tersenyum lega.


Mungkin bagi mas Amal belum saatnya mereka tahu siapa Zuwita sebenarnya.


***


Hari sudah siang, nenek dan tante juga sudah pulang. Kini hanya ada aku dan mas Amal. Kami sedang bersantai di kamar. Rencananya kami akan beristirahat.


Namun dering di ponsel mas Amal berbunyi.


" Angkat yang!"


Karena ada izin dari suami, akhirnya aku mengambil handphone mas Amal.


" Tidak ada nama mas? Bagaimana?"


Aku meminta pertimbangan mas Amal.


" Biarin aja yang."


Mas Amal mulai menutup matanya.


Ponsel mas Amal kembali berdering


Masih dengan nomor yang sama.


" Mas, sepertinya penting deh." Aku memberikan ponsel itu pada mas Amal.


Ia menekan tanda telpon berwarna hijau dan menarih nya di telinga.


" Assalamu'alaikum.." Mas Amal mengucap salam.


Aku masih duduk di samping mas Amal. Rasa penasaran begitu menggebu di hatiku.


" Apa? Rumah sakit? Kok bisa?" Suara mas Amal meninggi.


" Oke, saya segera kesana, kamu kirim alamatnya sekarang."


Sambungan telepon terputus. Mas Amal mengurut keningnya.


" Siapa mas?" Tanyaku penasaran.


" Zuwita sakit, yang. Segera siap-siap. Kita kesana sekarang."


Tanpa bertanya lagi aku segera berganti pakaian dan menyiapkan pakaian untuk berjaga-jaga seandainya nanti kami tidak bisa pulang.


Kini kami sudah berada di perjalanan. Alamat rumah sakit juga sudah di kirim oleh mamanya Zuwita.


Setelah membutuhkan waktu kurang lebih dua jam akhirnya kami tiba di rumah sakit


Mas Amal menelpon Sabrina, Ternyata sabrina sudah menunggu di depan pintu rumah sakit.


Jika berhadapan dengan Sabrina penampilanku jauh di bawah level. Sabrina nyaris sempurna, dengan kulit putih mulus. Aku yakin perawatannya pasti memakan biaya yang mahal.


Mas Amal dan Sabrina berjalan berdampingan, sedangkan aku berada di belakang mereka. Jika berhubungan dengan Zuwita, aku wajib mengalah. Karena yang dibutuhkan Zuwita saat ini adalah keutuhan orang tuanya meski mas Amal bukan ayah biologis Zuwita.


Kami memasuki ruangan dimana Zuwita dirawat. Anak kecil itu tergolek lemah dengan tangan di pasang infus.


Mas Amal mendekati anak kesayangannya itu. Zuwita seperti tahu kedatangan kami.


" Ayah..." Panggil Zuwita pelan.


Mataku mengembun menyaksikan Zuwita yang terbaring lemah.


Pengasuh Zuwita memberi tempat padaku. Aku mengusap kepala anak manis itu.


" Kamu sakit apa sayang?"


Ia hanya diam menatapku.


" Mbak, Zuwita sakit apa?"


Aku bertanya sopan pada Sabrina.


Bukannya menjawab ia malah menatapku sinis.


" Awalnya bagaimana?" Tanya mas Amal.


Aku dan mas Amal sama-sama bingung dengan kondisi Zuwita.


" Kemarin sempat demam, terus Zuwita diare, pak." Pengasuh Zuwita memberi tahu pada kami.


" Apa Zuwita meminum susu basi?"


Pengasuh itu menggeleng ketakutan.


Sementara Sabrina mengintimidasi pengasuh Zuwita lewat tatapan matanya yang tajam.


Kami sedang menunggu dokter yang menangani Zuwita. Aku masih duduk disamping Zuwita. Sesekali aku menyuapinya bubur. Ia tampak lahap, sepertinya kelaparan.


Apa yang terjadi denganmu Zuwita?


Apakah Sabrina menyiksa Zuwita? Ah, kenapa aku berpikir buruk pada Sabrina? Sabrina adalah ibu kandungnya, seorang ibu kandung tidak akan menyiksa anaknya sendiri.


Tapi...tidak salah jika aku memeriksa anggota tubuh Zuwita.


Aku pura-pura memegang Popok Zuwita, Popoknya ternyata sudah penuh.


" Mbak, popoknya Zuwita ada? Yang ini kayaknya sudah penuh." Aku mulai membuka celana Zuwita, anak kecil ini merintih kesakitan.


Pikiran buruk memenuhi isi kepalaku.


" Jangan sentuh anakku, dia sudah ada pengasuhnya. Kamu tidak perlu repot-repot apalagi hanya untuk mencari perhatian dari mas Amal."


Sungguh perkataan Sabrina hampir saja menyulut emosiku.


" Aku bundanya Zuwita, sebelum ia bersamamu, Zuwita pernah tidur dalam pelukanku."


Aku sengaja menyindir Sabrina agar tak lagi bersikap sombong.


Saat membuka popok Zuwita aku mendapatkan memar di bagian belakang bocah ini.


" Ya Allah...!"


Sontak ucapanku ini membuat mas Amal mendekatiku.


" Ada apa?" Tanya mas Amal.


Aku menunjukkan bagian memar itu pada mas Amal.


Wajah mas Amal berubah menjadi keras dan tegang. Tangannya mengepal seperti menahan amarah.


Aku kembali membuka baju Zuwita, aku yakin masih banyak hal yang harus terungkap. Benar saja, saat tanganku menyentuh lengannya , Zuwita kembali menangis.


Ada dua memar membiru, sepertinya bekas cubitan.


Pantas saja anak ini demam.


Aku kembali menunjukan bagian yang memar di tubuh Zuwita.


" Kamu melukai Zuwita?" Tanpa basa-basi mas Amal menyerang Sabrina yang sedang duduk di sofa.


" Jangan menuduhku!" Sabrina mendekatiku dan ingin memukulku, namun segera dihalangi oleh mas Amal.


" Dasar ******, penggoda suami orang dan sekarang kau ingin menjadi pahlawan kesiangan?" Sabrina seperti kerasukan.


Kalau aku menilai Sabrina sepertinya ia sengaja agar kami tidak fokus terhadap Zuwita.


Mas Amal memegang tangan sabrina erat.


" Apa yang terjadi pada putriku? Berani kau menyakiti putriku? Jika kau tak sanggup merawatnya, kembalikan padaku! Aku akan merawatnya penuh dengan kasih sayang." Ucap mas Amal penuh emosi.


" Jika kau tak mau ini sampai ke polisi,silahkan tinggalkan tempat ini. Jangan pernah menyentuh putriku, atau kau akan ku laporkan ke polisi dan ku pastikan kau akan mendekam di balik jeruji besi." Ancam mas Amal pada sabrina. Detik berikutnya mas Adzam mendorong sabrina hingga ia menatap ke dinding.


Karena merasa bersalah akhirnya Sabrina dan pengasuh Zuwita meninggalkan rumah sakit ini.


Mas Amal memeluk Zuwita yang tampak lemah. Mas Amal memang sangat menyayangi Zuwita, bahkan ia tak rela ada orang yang tega menyakiti Zuwita.


" Jangan takut lagi sayang, ayah dan bunda akan selalu di sampingmu. Ayah tidak akan membiarkan kamu dirawat oleh mereka lagi sayang." Bisik mas Amal ditelinga putri kami.


Dan malam ini kami begadang menjaga Zuwita, sesekali ia mengigau hingga aku harus memeluknya sampai ia merasa tenang.


Kasihan sekali Zuwita, bahkan tinggal bersama ibu kandungnya tidak membuat ia merasa aman.


Terbuat dari apa hati sabrina? Bahkan seekor induk binatang pun tidak akan pernah memakan anaknya sendiri.


****


Setelah tiga hari berada dirumah sakit, akhirnya Zuwita dinyatakan sembuh oleh dokter. Aku mempersiapkan segala perlengkapan Zuwita. Ada rasa senang karena Zuwita akan tinggal bersama kami lagi.


Biaya perobatan Zuwita sudah di selesaikan oleh mas Amal.


Mas Amal membawa tas sedang aku menggendong Zuwita.


Saat akan menuju ke parkiran mobil, ternyata kami di halangi oleh keluarga Sabrina. Mas Amal menyuruh aku masuk ke mobil setelah sebelumnya ia menghidupkan mobil dan Ac agar kami tidak kepanasan.


Selanjutnya mas Amal menemui Sabrina juga mantan mertua mas Amal.


Sepertinya mereka terlibat perdebatan sengit. Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya mas Amal masuk kedalam mobil.


Ia melajukan mobil kami dengan kecepatan tinggi.


" Mas, kalau emosi mending berhenti dulu deh!" Aku mulai ketakutan berada didalam mobil.


Mas Amal menuruti permintaanku. Ia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


" Mas.."


Mas Amal memukul stir mobil, hingga membuat aku terkejut.


" Sabar mas!" Hanya perkataan itu yang bisa aku ucapkan untuk membuat mas Amal sedikit lebih tenang.


" Sakit sekali rasanya hati mas, Zah. Mereka masih berniat untuk mengambil Zuwita dan merawat Zuwita."


***


Kini kami sudah tiba dirumah bersama Zuwita. Kini rumah ini terasa lebih ramai.


Mas Amal menelpon mama, memberi kabar bahwa Zuwita kini sudah tinggal bersama kami. Dan mama juga rencananya hari ini akan berangkat naik bus. Katanya rindu berat sama cucu perempuannya.


Kini setiap hari aku selalu berusaha memakai baju yang sama dengan Zuwita, menyenangkan sekali hari-hari ku. Di tambah sebentar lagi aku akan melahirkan dan di perkirakan berjenis kelamin laki-laki.


Ya Allah.. semoga keluarga kami menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah dunia akhirat. Amin...