
Oke deh, lain waktu kami mampir ya kerumahmu. " Ucap Mila
Akhirnya kami pun pulang kerumah masing-masing.
Alhamdulillah mereka bisa menerima ku dengan baik.
Aku tiba dirumah, nenek menyambutku di depan pintu.
" Assalamu'alaikum nek.." Aku mencium pipi nenek kesayanganku ini.
" Waalaikumsalam, menyenangkan tidak?" Nenek tampak tidak sabar menunggu jawabanku.
" Kasih tau enggak ya?" Aku menggoda nenek.
" Ya sudah kalau tidak mau berbagi cerita dengan nenek." Nenek merengut meninggalkan ku.
" Nenek.. janganlah marah. Hari ini adalah hari yang menyenangkan nek, semua guru menerimaku dan menyambutku dengan sangat baik."
Tampak ada kebahagian di wajah keriput milik nenek.
" Alhamdulillah ya Allah. Segera makan dan lanjut shalat. Jangan lupa mendoakan orang tuamu ya!"
" Siap nek!"
Aku masuk kekamar untuk berganti pakaian.
Makan dan kemudian shalat.
***
Sore ini aku sedang duduk di teras rumah bersama nenek. Tak lama terdengar suara adzan dari mesjid yang tidak jauh dari rumah nenek.
" Bagus sekali suaranya ya nek?"
" Oh itu, itu pasti si Amal yang sedang adzan." Jawab nenek.
Sontak aku menutup mulutku.
" Kamu kaget? Dia itu lulusan pesantren dan sudah jadi penghapal Al-Qur'an." Ucap nenek lagi.
" Maksud nenek, mas Amal guru ya?"
Nenek hanya mengangguk.
Oh...jadi mas Amal adalah seorang hafiz Qur'an. Kenapa beliau mau mengabdi disini?
Aku sedikit tertarik untuk mengetahui latar belakang mas Amal.
" Dia menjadi guru ngaji juga. Muridnya banyak. Bahkan dari desa tetangga ikut mengaji bersama Amal." Nenek kembali menjelaskan perihal mas Amal.
Pantas saja mas Amal cuek bersama perempuan. Ilmu agama saja tinggi. Berbeda dengan mas Andre yang tampak genit.
Aku tertawa sendiri karena telah berasumsi buruk kepada mas Andre.
***
Hari-hariku kini sedikit lebih berwarna. Aku mulai banyak teman. Aku juga mulai ikut perkumpulan remaja masjid. Aku baru sadar ternyata hidup dikampung itu menyenangkan.
Anak-anak yang ku didik pun selalu ramah padaku
Setiap bertemu dengan ku selalu menyapa.
Aku jadi teringat mama, andai mama masih ada aku akan memaksa mama untuk tidak pulang ke Jakarta lagi. Aku akan mengajak mama untuk menetap disini. Pantas saja papa lebih sering disini dengan dalih mengurus kebun.
Setiap sore aku selalu melihat mas Amal jalan-jalan bersama seorang anak perempuan yang kira-kira kalau kutaksir usianya sekitar sembilan bulanan. Tapi wajah anak itu selalu tertutup topi
Siapa dia? Anaknya kah? Atau adiknya. Aku semakin penasaran dengan kehidupan pribadi mas Amal.
Sore ini aku sedang menyapu halaman. Tampak seorang ibu paruh baya sedang menggendong anaknya yang rewel. Ia membujuk anaknya dengan menunjukkan hewan yang ada di sekitar, namun anak tersebut masih rewel.
Aku mendekati ibu tersebut, " Anaknya kenapa rewel buk?"
" Eh nak Zahra, ini di tinggal abinya pergi."
Kok ibu ini tahu nama ku ya? Oh mungkin dari anak-anak sekitar sini gumam ku dalam hati.
" Sini buk saya coba gendong." Aku mengambil anak tersebut dari gemdongan ibunya.
" Hai sayang.. anak cantik.. anak manis.. siapa namanya?" Aku mencoba mengajak bayi ini untuk mengobrol.
Ajaib bayi ini terdiam dari menangis. Bahkan sekarang justru tersenyum menatapku.
" Ya Allah... Lucu sekali sayang.. kakak gemes loh.." kata-kata ku membuat bayi ini tertawa riang.
" Namanya siapa bu?" Aku bertanya pada ibu yang sedang duduk di atas rumput. Ia tampak mengisap keringat di wajahnya. Mungkin ia sudah lelah menghadapi bayi cantik yang sedang rewel tadi.
" Namanya Zuwita nak." Sahut ibu itu pelan.
Sementara bayi ini masih menatapku riang.
" Kalau boleh biar saya bawa kerumah ya bu, nanti sore saya antar kerumah ibu." Ucap ku ragu.
" Beneran nak Zahra?"
" Iya buk, biar ibu bisa istirahat.” jawabku tulus.
" Rumah saya yang bercat kuning di ujung gang sana ya nak, atau nanti papanya akan saya suruh jemput deh."
" Oke buk."
Aku membawa pulang bayi yang lucu ini kerumah nenek.
" Bayi siapa?" Tanya nenek kompak berbarengan.
" Oh.." hanya itu tanggapan dari nenek dan tante Lidya.
Selanjutnya aku dan tante Lidya sudah berebut mengajak bayi cantik ini untuk digendong dan diajak tertawa bersama kami.
" Maaaaa....ma- ma..."
"Tan dia uda bisa ngomong!"
Entah mengapa aku begitu seneng pada bayi ini, begitupun dengan Tante Lidya.
Hari sudah sore, aku menitipkan Zuwita kepada tante Lidya. Aku mau mandi sebentar sebelum mengantar Zuwita pulang kerumahnya.
Tapi alangkah terkejutnya aku, ketika sudah siap mandi malah tidak menemukan Zuwita.
" Zuwitanya kemana tan?"
" Uda di jemput sama bapaknya." Jawab tante Lidya sambil memainkan handphone nya.
Aku berjalan keluar, berharap masih bisa melihat bapaknya Zuwita. Namun nihil, di luar tidak ada siapa-siapa.
**********
Malam ini malam minggu, suasana di luar sangat ramai.
Saat sedang asyik bermain handphone, aku mendengar ada deru motor yang berhenti di depan rumah nenek.
Siapa yang datang? Aku berjalan ke arah jendela, mengintip dari balik horden.
Mas Andre? Tumben sekali ia datang kerumahku.
Aku duduk di atas ranjang. Sejak cintaku kandas dengan mas Erik, aku seperti trauma untuk berdekatan dengan seorang pria. Dan memang mas Andre dan mas Erik berbeda, tapi entah mengapa ada keraguan.
" Zah?"
" Iya tan." Aku membuka pintu.
" Di luar ada yang nyariin, uda buat janji sama kamu?" Tanya tante kepo.
Aku menggeleng," gak ada janji tan."
" Temui gih!"
Aku mengangguk. Mematut diri di cermin. Hanya riasan ringan. Aku keluar menemui mas Andre diruang tamu.
" Hai mas, kok enggak bilang-bilang mau datang kerumah Zahra?" Aku membuka percakapan agar tidak hening.
" Surprise..." Ucapnya riang.
Sikapnya yang ramai selalu berhasil buat aki tertawa.
" Jalan yuk, sekedar makan bakso." Ajaknya lagi.
" Pamit dulu ya mas sama nenek."
Akhirnya mas Andre pun berpamitan.
Kami sudah sampai di warung bakso jumbo.
Warungnya sederhana, tapi tampak rapi. Tempat duduknya pun di susun sedemikian menarik. Satu hal yang kusukai, warung bakso ini bersih sekali. Pantas qarungnya ramai sekali.
Kami duduk di area dekat taman, " mau pesan apa Zah?"
" Ngikut aja deh mas."
Akhirnya mas Andre memesan dua mangkok mie ayam bakso dan dua gelas es teh manis. Sambil menunggu pesanan kami asyik mengobrol. Mulai dari keluarga sampai cita-cita dan cinta.
" Susah punya pacar?"
" Uhukk..." Pertanyaan mas Andre membuat aku tersedak.
" Minum!" Mas Andre memberikan es teh manis padaku.
Setelah aku agak tenang, " kenapa tersedak? Teringat sama pacar kamu?" Tanya mas Andre penasaran.
" Aku gak punya pacar mas." Aku berusaha jujur pada mas Andre.
" Alhamdulillah..." Ada raut wajah senang yang terpancar dari mas Andre.
" Jadi bebas dong?" Tanya mas Andre lagi.
" Silahkan di makan..." Pesanan kami sudah datang.
Dan aku tidak menanggapi ucapan mas Andre dan segera mengalihkan pembicaraan yang lain.
" Ehm mas, kamu asli orang sini?"
" Aku perantau disini. Orang tuaku tinggal di Dalu-dalu."
"Oh... Jauh ya mas?" Tanyaku lagi.
" Sekitar 5 jam lah dari sini. Mau main kesana? Nanti deh kalau aku pulang, aku ajak kamu sekalian biar kenal sama keluarga ku."
" Ih apaan sih mas.. aku cuma tanya aja kok." Aku jadi bingung karena mas Andre menanggapi serius ucapanku.
Saat sedang asyik menikmati semangkuk mie ayam bakso, dari kejauhan aku melihat Mila, sepertinya ia ingin menikmati mie ayam bakso juga.
Aku melambaikan tangan pada mila, namun tidak ada sambutan hangat dari Mila. Ia hanya tersenyum sekilas lalu sama sekali tak melihatku.
Ada apa dengannya? Apa Mila cemburu aku dekat dengan mas Andre?