
Mas Amal sudah duduk di hadapanku. Begitu juga dengan ibunya Mas Amal.
" Mas, maaf mengganggu pagi-pagi. Zahra mau titip ini." Aku mengeluarkan sebuah amplop putih dan memberikannya pada mas Amal.
" Apa ini?" Tanya mas Amal keheranan.
" Surat pengunduran diri." Jawabku lemah.
Mas Amal tampak terkejut sambil tetap memegang amplop putih yang berisi surat pengunduran diriku.
" Mengapa mengundurkan diri? Bukannya kamu sudah merasa nyaman? Anak-anak pun sangat menyukaimu. Kalau kamu keluar, mereka akan kehilangan guru seperti kamu.
" Jujur ini berat mas, tapi..." Ada rasa bimbang untu menceritakan kejadian tadi malam.
" Tapi kenapa? Ceritalah mana tau saya bisa bantu kamu. Apalagi kita masih satu keluarga di sekolah itu." Mas Amal seperti memberi angin segar padaku.
" Cerita saja Zah, mana tahu ibu dan abinya Wita bisa bantu kamu. Anggaplah kami ini saudara atau keluargamu." Ibu mas Amal seperti memberi aku kekuatan untuk menceritakan kejadian yang aku alami.
Akhirnya aku menceritakan kejadian tadi malam saat pak Indro datang kerumah ingin melamarku. Termasuk saat ia menarik kerudungku dengan kasar hingga bukan hanya kerudung yang tertarik rambutku pun ikut dalam genggaman tangan pak Indro.
" Begitulah mas ,bu kejadiannya. Jadi Zahra sudah merasa tidak aman lagi berada di lingkungan itu. Dan ini adalah pengalaman pertama ada orang yang kasar pada Zahra." Sedih rasanya mengingat kejadian tadi malam. Sesekali aku mengusap air mata yang jatuh di pipiku.
" Sabar ya.. mudah-mudahan untuk kedepannya tidak ada lagi orang yang kasar sama kamu." Ucap mas Amal.
" Sabar ya Zah, mudah-mudahan juga ada pelangi setelah badai terjadi." Ucap ibunya mas Amal memberi semangat padaku.
" Jangan sedih- sedih lagi sekarang kita makn dulu ya." Ibunya mas Amal mengisi nasi goreng kedalam piring.
Setelah sarapan pagi selesai, ibunya mas Amal pamit kedepan sebentar karena ada tukang sayur lewat.
Aku memberesi dan mencuci piring kotor sisa kami makan tadi. Sementara mas Amal bersiap hendak berangkat kesekolah.
Setelah selesai mencuci piring aku berjalan kedepan, namun harus berpapasan dengan mas Amal yang baru saja keluar dari kamar.
" Tolong ucapan saya dipikir-pikir kembali." Ucap mas Amal.
" Ucapan yang mana ya mas?" Aku berusaha mengingat namun tak juga ingat.
" Saya ingin melamar kamu dan menikahi kamu. Saya juga ingin kamu menjadi uminya Wita. Kalau kamu bersedia, tolong kabari saya. Jika kamu malu langsung berbicara bisa kamu kabari saya lewat aplikasi berlogo hijau." Ia mengakhiri ucapannya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Setalahnya ia berlalu dari hadapanku.
Aku tersenyum memandang kepergiannya.
Ia meninggalkan debar-debar cinta di dadaku. Mas Amal... Aku cinta kamu!
" Zah,.. Zahra..! Suara seseorang mengagetkanku.
Ya Allah.. apa yang terjadi denganku? Mengapa aku bisa tidak sadar akan kedatangan ibunya mas Amal? Ya Allah.. mau di taruh dimana muka ku ini.
" Tadi kenapa senyum-senyum?" Tanya ibunya mas Amal keheranan.
" Em anu bu tadi..." Aku lebingungan mau buat alasan apa.
" Eh, Wita belum bangun?"
" Kayaknya belum deh buk, karena Zahra belum dengar suaranya." Jawabku.
" Wita kalau bangun mah gak nangis. Dia palingan cuma diam di kamar." Ibunya mas Amal membuka kamar.
" Tuh kan bener. Sini deh masuk.! Wita pasti seneng begitu buka mata ada kamu." Ucap ibunya mas Amal.
" Ayo masuk! Gak perlu sungkan." Ucap ibunya mas Amal.
Aku pun melangkahkan kakiku masuk kedalam kamar ini.
" Ini kamarnya Amal. Kadang Wita tidur sama abinya, kadang tidur sama ibu. Semaunya dia aja yang penting nyenyak." Tanpa kuminta ibu sudah bercerita.
Aku memandang sekeliling kamar ini. Hanya ada foto mas Amal juga Zuwita. Betapa sayangnya mas Amal pada Zuwita.
Aku menowel pipi gembil Zuwita, ia tersenyum padaku. Aku bermain-main sebentar dengan Zuwita, dan segera ingin pulang karena tidak enak sudah terlalu lama di sini. Apa kata tetangga jadinya. " Bu, zahra pamit pulang dulu ya."
" Kok cepat banget? Padahal tadinya ibu mau ngajak kamu jalan ke rumah saudara."
Hah saudara? Seserius itukah hubunganku dengan mas Amal hingga ibunya mau mengajak aku berkenalan dengan saudaranya.
" Nanti kalau memang jadi ketempat saudaranya, telpon saya saja buk. Soalnya Zahra takut nenek nyariin karena Zahra tadi kesini nenek belum bangun." Aku mencoba mencari alasan dan memberikan nomor handphone ku pada ibu mas Amal.
Akhirnya aku berpamitan pulang.
Saat keluar dari rumah mas Amal, begitu banyak yang memperhatikanku. Tak jarang mereka teriak ' kapan makan enaknya?'
Membuat aku ingin segera hilang dari pandangan mereka.
Kupacu kendaraan secepat mungkin.
Dan akhirnya aku sudah tiba dirumah.
Tante Lidya menyambutku dengan senyuman nakal.
" Lama amat kerumah mertua."
" Tante...!" Aku pura-pura cemberut didepan tante padahal sesungguhnya hatiku berbunga-bunga. Entah mengapa menyebut namanya saja aku sudah bahagia.
Apa ini yang dinamakan cinta? Cinta pada seorang duda tampan beranak satu.
Aku terkekeh sendiri membayangkannya.
" Mulai deh senyum-senyum sendiri." Tante Lidya mulai menyindirku.
" Tante, nanti kalau jadi ibunya mas Amal mau ngajak Zahra kerumah saudaranya mas Amal. Menurut tante gimana?" Aku meminta pendapat pada tante Lidya. Karena Tante Lidya kuanggap sudah mengerti dan sudah banyak memakan asag garam kehidupan.
" Sekarang balik lagi kekamu. Kalau kamu serius dengan Amal dan yakin juga cinta serta sayang sama Amal ya silahkan ikut berkenalan dengan keluarganya. Tapi kalau kamu tidak punya perasaan apa-apa untuk apa mau dikenalkan kekeluarga?" Menurut tante sih seperti itu.
Aku manggut-manggut mendengar saran dari tante Lidya.
" Jangan manggut-manggut! Di pikirin juga kalau menikah dengan Amal itu berat. Secara dia masih punya mantan istri yang masih hidup. Biasanya mantan istri yang masih hidup itu sangat menguji kehidupan rumah tangga kita nantinya. Apalagi mantan istrinya macam istri si Amal semalam. Seram macam setan tante lihat. Yang kedua, si Amal itu punya anak. Terkadang ada orang tua yang tidak terima ketika anak nya bersalah terus kamu marahi. Kamu akan di cap sebagai ibu tiri yang kejam. Dan kamu juga nantinya akan lebih berselisih paham dengan Amal nantinya. Apalagi kalau ibunya Amal ikut campur dengan hubungan rumah tangga kalian. Kalau kamu sekarang menilai ibunya Amal itu baik biasanya karena kamu belum menikah dengan anaknya. Tapi kita sih mencoba berfikir positif. Mudah-mudahan ibunya Amal memang benar-benar akan menjadi mertua yang baik yang di impikan oleh semua wanita. Sampai sini kamu pahamkan?" Begitu panjang penjelasan tante Lidya.
" Jadi menikah itu tidak gampang. Menikah itu bukan cuma kamu dan Amal saja, tapi seluruh keluarga besarnya. Dan untuk menyatukan keluarga besar itu susahnya minta ampun. Perlu kerja keras kalian berdua." Tambah tante lagi.
Cup! Cup! Aku mengecup pipi tante Lidya.
" Terima kasih sarannya tanteku sayang." Aku pergi masuk kekamar meninggalkan tante sendirian di teras rumah.
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul sepuluh siang, Aku segera mandi agar lebih segar kembali. Tak lupa hari ini aku ingin bobok cantik. Kini hari-hari ku akan lebih santai. Dan kini aku sudah menjadi pengangguran sukses. Aku tertawa dalam hati jadi pengangguran sukses kok bangga sibuk batinku berceloteh sendiri.
Entah mengapa rasa kantuk datang menyerang hingga mataku tak bisa kuajak kompromi sedikitpun akhirnya aku terlelap.
Entah sudah berapa jam aku tertidur pulas hingga suara dering handphone mengagetkan ku. Ada nama mas Amal terpampang di layar handphone. Ada apa mas Amal menelponku?