Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 35


Wanita tua yang bernama mbok Jah meninggalkan kami, ia naik keatas menuju lantai dua.


Tak berapa lama turun dan menyuruh kami menunggu.


Aku memastikan sekeliling rumah ini yang penuh dengan kemewahan.


Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya kami mendengar suara sepatu hak beradu dengan kilatnya lantai rumah ini.


Sabrina turun dari lantai dua dengan penampilan yang sangat modis ala kebarat-baratan.


Rambut pirang, bulu mata lentik juga pakaian mini yang membalut tubuhnya begitu ketat.


Sebagai perempuan yang terbiasa menutup aurat, ada rasa risih saat menatap Sabrina.


Ia duduk di depan kami sambil menyilangkan kakinya. Paha putih nan mulus menjadi pemandangan kami.


Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mas Amal saat ini. Ia tampak membuang muka tak mauenatap Sabrina.


" Kalian? mau apa datang kerumah ini?" Ia tersenyum sinis kearah ku.


" Saya mau bertemu dengan Zuwita." Jawab mas Amal tanpa basa basi.


Sabrina tertawa khas orang kaya, " untuk apa? Bukankah kalian bukan siapa-siapa untuk Zuwita? Dan sekarang dia bukan Zuwita, aku sudah mengganti namanya jauh lebih cantik dari yang kamu beri." Ucap wanita itu dengan sombongnya.


" 365 hari waktu saya bersamanya. Dari ia hanya bayi merah yang hanya menangis, dan kamu tidak perduli akan hal itu, Saya menyayangi Zuwita, dan saya tidak perduli jika kamu mengganti namanya. Karena bagi saya anak yang kamu buang saat itu adalah Zuwita saya yang sekarang kamu ambil dengan seenaknya." Balas mas Amal tak kalah sengit.


Sabrina memandangku dengan tatapan kebencian, " mengapa harus Zuwita yang kamu usik? Apa istrimu ini tak bisa melahirkan anak untukmu?" Tanya Sabrina dengan pongahnya.


" Jangan bawa-bawa istri saya. Ini hanya masalah saya, kamu dan Zuwita. Izinkan saya bertemu dengan Zuwita." Ucap mas Amal melemah.


"Sebagai tanda terima kasihku karena kamu telah merawat Zuwita, baiklah." Ia tampak menelpon seseorang dan menyuruhnya turun kebawah.


Tak butuh lama, seorang wanita muda, mungkin usianya tidak jauh dariku. Ia menggendong Zuwita, turun dari lantai atas.


" Ya Allah, Umi kangen nak!" Batinku seperti tersayat melihat Zuwita yang sekarang. Sabrina membiasakan Zuwita dengan pakaian yang seksi seperti dirinya. Apakah Zuwita tidak masuk angin, sementara keadaan di rumah ini sangat dingin.


Setwlah Zuwita mendekat, mas Amal segera meraih Zuwita dari gendongan pengasuhnya.


" Bi..."


Masya Allah... Masih ingatkah Zuwita dengan Abi nya?


Semakin deras air mataku mengalir.


Mas Amal menciumi pipi gembul Zuwita. Ada kerinduan yang menyeruak dari relung hati kami. Hingga aku melihat mas Amal mengusap sudut matanya yang basah. Sementara Zuwita meraba-raba wajah mas Amal.


Setelah puas melepas rindu mas Amal memberikan Zuwita padaku.


" Anak Umi.. sayangnya Umi..Umi rindu nak!" Aku mengajak Zuwita berbicara.


" U..mi.." ucap Zuwita. Ya Allah ternyata anak ini sedang belajar ngomong.


" Uda kan kangennya? Mbak bawa Zuwita keatas! Beri susu dan tidurkan!" Perintah Sabrina.


Pengasuh Zuwita mengambil bayi manis ini dari tanganku.


Aku dan mas Amal tidak bisa berbuat apa-apa. Kami merelakan Zuwita dibawa masuk oleh pengasuhnya.


" Apa kalian masih lama?" Sabrina melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.


Aku dan mas Amal bangkit dari duduk kami.


" Tolong diduk Zuwita secara baik dan benar. Jangan sampai kesalahan yang kamu lakukan terjadi pada Zuwita!" Pesan mas Amal sebelum kami pergi.


Sabrina menarik tangan mas Amal, spontan mas Amal melepaskan pegangan tangan Sabrina


Tampak Sabrina marah" Perlu aku beri tahu kamu, Zuwita putriku darah dagingku, bukan darah dagingmu! Jangan ikut campur atas tumbuh kembangnya. Paham!"


Aku dan mas Amal tak menggubris ucapan Sabrina. Kami segera meninggalkan rumah Sabrina yang megah bak istana.


Hari semakin larut, kami memutuskan untuk mencari makanan dan membungkusnya. Makan di rumah jauh lebih nikmat.


*****


Nasi uduk dengan lauk ikan nila. Seketika aku merasa mual mencium aroma makanan ini. Segera aku berlari kekamar mandi.


" Huek...hueekk..." Aku memuntahkan isi perutku.


Mas Amal menyusulku, ia memijit tengkukku.


Setelah merasa tenang kami kembali ke meja makan. Aku menjauhkan nasi uduk dan ikan nila.


Aku mengambil nasi putih dan menaburnya dengan sedikit garam.


Mas Amal terplongo melihatku begitu lahap makan hanya menggunakan nasi putih dan garam saja.


" Ya Allah nak.. kenapa sih nyusahin Umi." Mas Amal mengusap perutku yang masih rata.


Ah, sosweet banget sih mas... Aku jadi terharu atas perlakuan mas Amal terhadapku. Tak lupa aku meminum vitamin dan juga susu untuk janin yang ada di dalam perutku.


*****


Hari ini kami sedang santai di teras rumah. Mas Amal sedang menikmati secangkir teh manis hangat. Sedangkan aku menikmati secangkir susu ibu hamil rasa coklat. Dihadapan kami ada roti selai sebagai cemilan pengganjal perut.


"Mas, Zahra merasa lucu deh." Aku membuka obrolan kami pagi ini.


" Memangnya kenapa Yang?" Mas Amal mengambil sepotong roti dan memakannya.


" Zahra sudah gede tapi masih minum susu." Ucapku lagi.


" Tidak apa-apa dong, yang paling penting buat mas, kamu sehat dedek bayi pun sehat. Ucap mas Amal sambil mengelus perutku.


" Mas gak sabar deh pengen cepat-cepat ketemu." Ucap mas Amal lagi.


" Delapan bulan lagi mas." Jawabku manja.


Saat sedang santai, tiba-tiba ada sebuah mobil yang parkir di depan halaman rumah kami.


Melihat warna, dan type dan aksesoris mobil itu seperti punya om Iwan, tak berselang lama begitu pintu dibuka, muncul sosok yang aku rindukan. Setelah menikah, baru sekali aku berkunjung kerumahnya. Nenek!


Aku pun menghampiri nenek, memeluknya dengan erat. Senang rasanya melihat nenek berkunjung kerumah kami.


Aku dan mas Amal menyalami nenek dan mempersilahkan nenek juga om Iwan dan tamte Lydia masuk.


" Mal, nanti ambil makanan di mobil ya, didalam keranjang." Ucap tante Lidya.


Mas Amal pun segera mengambil makanan di mobil seperti perintah tante Lidya.


" Sebentar ya nek, Zahra buat minum." Aku berjalan kedapur namun di cegah tante.


" Nenek sudah minum, kita makan bersama aja. Nenek rindu katanya pengen makan bareng cucunya makanya ttante dan om antar kerumah kamu.


" Tapi..?" Aku tak melanjutkan ucapanku karena malu ketahuan belum memasak.


" Kamu bwlum masakan? Gak usah khawatir tante uda bawa. Tuh Amal uda bawa sekeranjang.." jawab tante Lidya sambil menunjuk mas Amal.


" Tan kayaknya ini wangi banget, emang masak apa sih tan?" Tanya mas Amal.


" Tuh nenek yang masak buat cucu kesayangannya." Jawab tante Lidya


Kami pun sama-sama menuju ruang makan.


Aku dan tante Lidya segera memindahkan lauk dan nasi dan menyusunnya di meja.


" Nek, kok tahu banget sih Zahra sedang pengen makan Rendang?" Tanyaku pada nenek.


" Oh ya? Pantas dari semalam nenek kepikiran sama kamu. Ya sudah, ayo buruan di coba!" Jawab nenek sambil menyendokkan nasi dan rendang kepiringku.


" Eh Mal, Zuwita gimana kabarnya? Memangnya kamu gak ada hak buat ngambil alih ngurus Zuwita? Om yakin kalau di gugat kepengadilan mantan bini mu pasti kalah." Ucap om Iwan membuka pembicaraan.


Aku dan mas Amal saling memandang. Haruskah mereka juga tahu siapa Zuwita sebenarnya?